Sabtu, 24 Februari 2024

MENAKAR KUALITAS PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU

MENAKAR KUALITAS PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU

mediasumatera.id – Saat ini pemerintah melalui kemendikbudristek, sedang menggembleng kompetensi dan keprofesionalan guru tidak hanya melalui program guru penggerak, melainkan juga melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Pertanyaannya adalah apakah melalui program program itu dapat menjamin kualitas pendidikkan kita? Hemat saya, belum tentu juga. Mengapa?Karena kalau pun guru berkualitas, atau berkompeten atau profesional, namun peserta didik tidak memiliki semangat untuk belajar, maka pendidikkan kita tidak akan berkualitas. Oleh karena itu, kualitas pendidikan akan terwujud apabila ada kolaborasi antara guru, peserta didik dan orang tua. Namun, kolaborasi saja tidak cukup, melainkan harus ada growth mindset  yang sama terhadap kualitas pendidikan, baik guru, peserta didik dan orang tua. Apa artinya? Bahwa jika guru memiliki militansi dalam pembelajaran, melalui diferensiasi, melalui pembelajaran yang kreatif dan inovatif, maka peserta didik juga harus memiliki mitansi yang sama dalam belajar, tidak hanya di sekolah, melainkan juga di rumah, pun orang tua harus memiliki militansi dalam mengontrol dan mengawasi peserta didik saat belajar di rumah. Manakala ketiga komponen ini bisa melakukan perannya dengan baik, niscaya kualitas pendidikan dapat terwujud. Dan kualitas itu akan tercermin pada kualitas peserta didik, tidak hanya melalui prestasi akademik maupun non akademiki, tetapi yang paling penting adalah adanya perubahan cara hidup, cara bersikap, cara berperilaku, cara bertutur kata dan cara bertindak atau menampilkan karakter yang baik atau terciptanya profil pelajar pancasila.

Namun demikian,  guru tetaplah menjadi garda terdepan dan agen perubahan (agent of  change), serta agen pembelajaran (learning agent) dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. Sebagai garda terdepan, guru harus terlebih dahulu berkualitas, yang mengacu pada 4 komptensi yang harus dimiliki, yakni: pedagogik, sosial, kepribadian dan profesional.  Jika guru sudah memiliki dan menguasai kompetensi itu, maka ia dapat menjadi agen perubahan (agent of change), agen pembelajaran (learning agent) bagi peserta didik, bagi satuan pendidikan. Sebagai agen perubahan (agent of change), guru yang memiliki ke 4 kompetensi itu, dapat “mengubah” sikap, karakter, mentalitas, habitus, peserta didik, tidak hanya melalui kata kata, nasihat, ajaran, didikan seorang guru, tetapi yang tidak kalah penting adalah melalui teladan hidupnya. Seperti dalam ungkapan latin: verba movent, exempla trahunt, yang artinya kata kata menggerakan, namun teladan hidup lebih memikat atau verba docent, exempla trahunt, yang artinya kata kata mengajarkan, tetapi teladan hidup lebih menarik. Namun, harus disadari bahwa untuk mengubah seorang peserta didik, tidak mudah dan membutuhkan waktu dan proses. Ada ungkapan, bahwa untuk mengubah seorang anak atau peserta didik, kita harus masuk ke dalam dunia mereka, dan keluar melalui dunia kita. Lalu, sebagai agen pembelajaran. guru diharapkan dapat berperan sebagai fasilitator, mediator, motivator dan katalisator bagi peserta didik saat pembelajaran. Dan seperti pada agen perubahan, maka guru sebagai agen pembelajaran, juga harus bisa mengendalikan ego untuk mendominasi saat pembelajaran.

Baca Juga :  Unjuk Kreatifitas dan Pameran Kelas SMP Xaverius 1 Palembang

Maka, untuk maksud itulah program pendidikan profesi guru (PPG) di selenggarakan oleh pemerintah, dalam rangka agar guru memiliki kompetensi dan professional dalam membelajarkan peserta didik. Namun demikian, ada pertanyaan terkait dengan adanya program kemendikburistek sekarang, melalui program guru penggerak dan PPG. Pertanyaannya adalah apakah lulusan FKIP perguruan tinggi di Indonesia, tidak berkompeten dan profesional, sehingga perlu ada program guru penggerak dan PPG?Hemat saya tidak demikian, bahwa yang namanya belajar tidak hanya terbatas di kampus atau perguruan tinggi. Seseorang harus belajar sepanjang hayat (lifelong learning), sebab hidup tidak pernah berhenti mengajarkan dan lagi ilmu itu bersifat tentatif, maka seorang guru perlu belajar sepanjang hayat. Dan “orang yang berhenti belajar adalah pemilik masa lalu, sedangkan orang yang terus belajar dan belajar terus adalah pemilik masa depan”, demikian kata Mario Teguh. Oleh karena itu, program guru penggerak dan PPG dapat dipersepsikan demikian.

Dan terkait dengan program PPG, sebenarnya ada dua jenis PPG, yaitu PPG prahabatan dan PPG dalam jabatan. Hal ini perlu dijelaskan agar tahu dengan jelas perbedaannya. (1) PPG prajabstan adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan sarjana Kependidikan maupun Non Kependidikan serta sarjana terapan yang memiliki minat untuk menjadi guru. Itu artinya pesertanya mereka yang baru lulus atau tamat dari perguruan tinggi. Itu berarti pula belum terdaftar pada dats pokok pendidikan (dapodik). Lamanya masa pendidikan ini ditempuh selamanya 2 semester atau 1 tahun. Sedangkan beban belajar yang akan ditempuh oleh para calon pendidik selama mengikuti PPG Prajabatan ialah 36 hingga 40 sks. Terkait dengan biaya pendidikan PPG Prajabatan dilakukan secara mandiri oleh peserta. Pemerintah tidak memberikan subsidi apapun karena program ini ditujukan bagi masyarakat umum. Dan tidak semua perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program PPG ini, hamya PT yang di tunjuk oleh pemerintah, dalam hal ini kemendikbudristek.

Baca Juga :  UI Tergeser, Ini Dia 5 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS World

Dieja lebih jauh, bahwa manfaat yang diperoleh setelah mengikuti program PPG ini adalah:

  • Memperoleh sertifikat pendidik,(2) Meningkatkan kompetensi pedagogik, sosial, profesional dan kepribadian untuk memulai karier sebagai guru profesional.
    (3) Memperoleh pengakuan sebagai guru profesional. Dengan demikian, kelak bisa mendapatkan tunjangan sertifikasi. Sedangkan, (2) PPG dalam jabatan diselenggarakan bagi guru di suatu satuan pendidikan, dan telah tercatat di data pokok pendidikan (dapodik). untuk mendapatkan Sertifikat Pendidik, pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.  Beban belajar yang akan di terima oleh peserta PPG dalam jabatan paling sedikit 24 SKS. Dari sisi biaya pendidikan dari PPG salam jabatan ini dibiayai oleh pemerintah karena LPTK (Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan) yang menjadi tempat diselenggarakannya PPG sudah diberikan dana dari APBN atau APBD. Dan lama pendidikan atau kuliah PPG dalam jabatan kurang lebih 3 – 6 bulan, yang setara 1 semester. Disinilah, letak persoalannya. Apakah kurun waktu 3 – 6 bulan itu, bisa menjadikan seorang guru berkualitas atau berkompeten dan profesional? Memang bukan jaminan, durasi pendidikan atau perkuliahan lama otomatis seorang guru berkualitas, atau berkompeten dan profesional. Namun, diharapkan semakin lama belajar, semakin banyak yang diserap, daripada hanya sebentar. Atau jangan jangan yang dikejar guru bukan kompetensi, melainkan tunjangan sertifikasi. Namun itu juga baik, tetapi setidaknya harus sinkron. Sebab, manfaat bagi seorang guru yang mengikuti PPG dalam jabatan, sama seperti manfaat bagi seorang guru prajabatan, yakni:
  1. Mendapat Gelar Tambahan (S. Pd, Gr : guru profesional)
  2. Mendapat kompetensi lebih
  3. Memiliki sertifikat pendidik
  4. Mendapat tunjangan sertifikasi sebagai bentuk pengakuan atau penghargaan.
  5. Bersekolah dengan subsidi pemerintah
  6. Bisa menjadi Guru Garis Depan (GGD)
  7. Bisa mendaftar menjadi guru SILN (Sekolah Indonesia Luar Negeri).
  8. Menambah pengalaman
  9. Menambah wawasan pengetahuan
  10. Menambah jejaring
Baca Juga :  USS Siapkan Kuliah Hybrid, Mahasiswa Divaksin Massal

 

Semoga bermanfaat!!!