SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus. Adakah Anda mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar? Sepertinya tidak pernah terjadi. Inilah bahasa simbol yang digunakan Yesus ketika memberikan wejangan kepada para murid-Nya. Tentunya ada makna dibalik ungkapan itu. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 6: 43 – 49, yakni pohon dan buahnya. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus, Sang Guru Agung, tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi dengan simbol yang menggugah hati dan pikiran. Ia berbicara tentang pohon yang baik dan rumah yang dibangun di atas batu. Dua gambaran ini bukan sekadar ilustrasi, melainkan cerminan dari identitas manusia yang diciptakan menurut citra Allah.
_Pertana_: *Pohon yang Baik Menghasilkan Buah yang Baik*: Pohon melambangkan kehidupan yang berakar. Jika akarnya sehat tertanam dalam kasih, kebenaran, dan iman, maka buahnya pun akan baik: perbuatan yang penuh KASIH, keadilan, dan pengampunan. Pohon yang baik adalah manusia yang hidup dari sumber Ilahi, yang hatinya dipenuhi oleh KASIH Allah dan pikirannya dibentuk oleh hikmat-Nya.
_Kedua_ *Rumah di Atas Batu Fondasi Iman yang Teguh*: Rumah adalah hidup kita. Batu adalah simbol dari iman yang kokoh, tidak goyah oleh badai dunia. Membangun rumah di atas batu berarti menjadikan Tuhan sebagai dasar segala keputusan, tindakan, dan arah hidup. Tanpa fondasi ini, rumah akan runtuh, sebagaimana hidup akan kehilangan arah tanpa iman yang kuat.
_Ketiga_ *Hati dan Pikiran Seperti Allah*: Sebagai citra Allah, kita dipanggil untuk memiliki hati yang lembut dan pikiran yang bersih. Ketika hati dan pikiran kita selaras dengan kehendak Allah, kita menjadi tanda nyata kehadiran-Nya di dunia. Kita menjadi saksi KASIH, alat damai, dan pembawa terang. Oleh karena itu, refleksi bijak dari Aristoteles berkata, “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan.” Santo Yakobus menegaskan, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Maka, iman yang sejati harus melahirkan tindakan. Pikiran yang tercerahkan harus menyentuh hati, dan hati yang tersentuh harus bergerak dalam KASIH.
*Pertanyaan refleksi:*
1. Di mana aku membangun hidupku selama ini—di atas batu iman yang teguh, atau di atas pasir yang mudah goyah oleh tekanan dunia?
2. Apakah buah-buah dari hidupku mencerminkan hati dan pikiran yang selaras dengan Allah?
3. Bagaimana aku mengintegrasikan iman, pikiran, dan hati dalam perbuatan nyata setiap hari?
*Selamat berefleksi,,,& Selamat berakhir pekan*



