Dr. Heri Setiawan, S.T., M.T., IPM.
Dosen Prodi Teknik Industri & Direktur Lab. Innovation System Center (ISC)
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Katolik Musi Charitas
mediasumatera.id – Perubahan tidak datang dari mereka yang paling kuat,
tetapi dari mereka yang paling peduli (Laudato Si’, 2015).
Kampus sejatinya bukan sekadar tempat kuliah, penelitian, danpengabdian. Lebih dari itu, kampus adalah “rahim peradaban”, tempat di mana ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan bersenyawa untuk melahirkan solusi nyata bagi kehidupan.
Namun, masih banyak perguruan tinggi yang terjebak dalam menara gading akademik: sibuk administratif, mengejar akreditasi dan publikasi, tetapi kurang berjejak di bumi tempat masyarakat berjuang untuk bertahan hidup. Padahal, Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus tentang merawat bumi rumah kita bersamatelah mengingatkan dunia bahwa persoalan lingkungan, ekonomi, dan sosial tak bisa dipisahkan dari tanggung jawab moral umat manusia.
Mewujudkan “kampus berdampak” berarti mengubah paradigma: dari kampus yang hanya menghasilkan pengetahuan, menjadi kampus yang menghasilkan perubahan. Dari riset yang berhenti di jurnal, menjadi riset yang menghidupi warga. Dari teori di ruang kelas, menjadi praktik nyata di lapangan.
Inilah semangat yang kini sedang digerakkan di berbagai kampus, termasuk di Universitas Katolik Musi Charitas melalui Lab. Innovation System Center (ISC) dengan pendekatan yang disebut Sirkular Ergonomi Total (Sergon) Kelurahan dan Teknologi Tepat Guna (TTG) untuk kehidupan. Kampus yang berdampak, dari menara gading ke palayanan kehidupan.
Sirkular Ergonomi Total (Sergon) Kelurahan: Menutup Siklus, Membuka Harapan
Di banyak kota, termasuk Palembang, problem sampah sudah mencapai titik krisis. Limbah rumah tangga, plastik, dan sisa makanan menumpuk tanpa henti. Sebagian dibakar, sebagian dibuang ke sungai, sisanya ke TPA yang kian penuh. Namun di balik tumpukan itu, sesungguhnya tersimpan “tambang emas” yang belum diolah.
Sirkular Ergonomi Total (Sergon) Kelurahan adalah sistem ekonomi sirkular kelurahan yang dirancang sepenuhnya dengan prinsip ergonomi total agar lebih efisien, manusiawi, dan berkelanjutan. Sebuah konsep sederhana namun revolusioner: bagaimana sebuah kelurahan bisa menjadi sistem ekonomi mini yang mandiri di mana limbah menjadi bahan baku, energi terbarukan dihasilkan lokal, dan hasilnya kembali untuk warga.Di bawah payung prinsip Laudato Si’, konsep ini mengajak masyarakat untuk: a) Mengelola sampah secara desentralisasi, diolah menjadi energi, pupuk, dan pakan, b) Mengembangkan urban farming terpadu, integrated farming system,yang memanfaatkan hasil olahan limbah organik, c) Menciptakan rantai ekonomi komunitas, di mana hasil pertanian, energi, dan produksi pangan berputar di antara warga tanpa dominasi tengkulak atau kapitalis besar.Dengan model ini, kampus dapat hadir bukan sebagai “pemberi bantuan” semata, tetapi sebagai “perekayasa sistem” yang membimbing masyarakat menemukan kemandirian mereka sendiri.
Solusi Nyata: Dari Sampah Menjadi Makanan Bergizi Gratis
Salah satu terobosan dari pendekatan ini adalah program “Sampah Jadi Makan Bergizi Gratis”.Melalui rekayasa sederhana berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG) hasil riset mahasiswa dan dosen Teknik Industri, sistem ini memanfaatkan: 1) Sampah organik rumah tanggadiolah menjadi pupuk, pakan maggot (BSF-Black Soldier Fly) dan cacing. 2) Pupuk, maggot dan cacingdiubah menjadi pakan ikan dan ayam kampung unggulan. 3) Kotoran ternak & residu pertanian diubah menjadi biogas dan pupuk organik cair. 4) Sayur, ikan, dan ayam hasil siklus ini dimasak di dapur komunitas (community kitchen) untuk menyediakan makanan bergizi gratis bagi anak-anak dan warga kurang mampu.
Dengan siklus ini, satu kelurahan dapat menghasilkan minimal 30-50 porsi makanan sehat per hari tanpa harus membeli bahan baku baru. Semua bersumber dari sistem daur ulang dan budidaya lokal.Inilah bentuk konkret Sergon, Ekonomi SirkularKelurahan: tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan solidaritas pangan yang berkeadilan. Bukan charity, tapi sustainability through dignity.
Teknologi Tepat Guna: Laboratorium Hidup bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa Teknik Industri, program ini menjadi laboratorium hidup yang jauh lebih berharga dari sekadar laporan magang.Mereka belajar merancang sistem kerja, menghitung produktivitas energi, mendesain alat biokonversi limbah, hingga merancang model bisnis sosial yang layak. Semua dilakukan langsung di masyarakat, bersama warga, bukan di ruang simulasi.Beberapa inovasi TTG yang telah dikembangkan di Lab. ISC antara lain: (a) Bio-reactor low budget untuk fermentasi sampah organik. (b) Kandang ayam KUB semi umbaran dengan sistem pakan otomatis berbasis pakan dari sampah, maggot dan cacing. (c) Vertical farm modular dengan sistem irigasi tetes energi surya. (d) Komposter cerdas dengan sensor kelembapan dan pengaduk otomatis.
Dengan proyek-proyek ini, mahasiswa tidak hanya berinovasi untuk nilai akademik, tetapi juga berkontribusi langsung pada ketahanan pangan, energi, dan lingkungan.Lebih jauh, kampus dapat memposisikan diri sebagai pusat inovasi sosial teknologi yang melahirkan solusi dari, oleh, dan untuk rakyat.
Melawan Rantai Penguasaan Kapitalismelalui Ketahanan Pangan, Energi dan Iman Ekologis
Salah satu masalah terbesar dalam sistem pangan dan energi hari ini adalah penguasaan rantai nilai oleh segelintir korporasi besar. Mereka mengendalikan harga, distribusi, dan akses terhadap sumber daya. Akibatnya, petani miskin di negeri agraris bisa kelaparan, dan masyarakat kota harus membeli bahan makanan yang seharusnya bisa mereka hasilkan sendiri.Model Sergon, Ekonomi Sirkular Kelurahan mencoba memutus rantai ketergantungan kapitalistik ini melalui tiga strategi: (1) Produksi lokal berbasis komunitas.Setiap kelurahan memiliki sistem pangan dan energi mandiri, sayur, ikan, telur, hingga gas untuk memasak. (2) Distribusi solidaritas.Hasil panen dan energi didistribusikan melalui koperasi komunitas atau Green Hub Kelurahan, bukan lewat tengkulak. (3) Kampus sebagai mitra, bukan pemilik proyek.
Kampus berperan sebagai inkubator ide, pelatih teknis, dan jaminan mutu inovasi, bukan sebagai pihak yang mengambil keuntungan.Dengan pola ini, masyarakat tidak lagi menjadi “pasar pasif”, tetapi menjadi “produsen aktif” yang menguasai sumber daya mereka sendiri.
Apa yang disebut ketahanan pangan dan energi sejatinya tidak bisa hanya diukur dari produksi, tapi juga dari etika dan spiritualitas ekologis.Konsep Laudato Si’ mengingatkan bahwa krisis lingkungan adalah juga krisis moral. Manusia kehilangan relasinya dengan bumi, dengan sesama, dan dengan Sang Pencipta. Maka, inovasi teknologi harus berjalan beriringan dengan pendidikan ekologis, etika solidaritas, dan iman yang menumbuhkan rasa syukur terhadap ciptaan.
Kampus yang berdampak tidak hanya mengajarkan how to make machine works, tetapi juga how to make life worth living.Ketika mahasiswa belajar membuat pupuk organik, mereka tidak sekadar belajar bioteknologi, mereka belajar menghargai proses alam. Ketika dosen membimbing warga membuat komposter,ia sedang membangun iman ekologis yang konkret: “Bekerja dengan tanah adalah bentuk doa.”
Kolaborasi Multipihak: Jalan Menuju “Kelurahan Cerdas dan Berdaya” dan Dari Palembang untuk Dunia
Untuk mewujudkan visi ini, kolaborasi menjadi kunci. Tidak cukup hanya kampus dan warga, tetapi perlu sinergi antara: a) Pemerintah kota/kelurahan, yang memberi dukungan regulasi dan ruang infrastruktur. b) Kampus dan lembaga riset, sebagai motor inovasi dan pelatihan. c) Komunitas dan kelompok tani/nelayan, sebagai pelaksana lapangan. d) Dunia usaha lokal dan koperasi, sebagai mitra pemasaran dan investasi sosial. e) Gereja, masjid, vihara, pura, dan lembaga iman, sebagai penjaga nilai moral dan solidaritas sosial.
Ketika semua terhubung dalam semangat care for our common home, maka kota kita akan menjadi ekosistem kehidupan yang berkelanjutan, bukan hanya sistem ekonomi yang tumbuh di atas ketimpangan.
Palembang, dengan semangat gotong-royong dan nilai kearifan lokalnya, punya potensi besar menjadi model kota Laudato Si’ di Asia Tenggara, kota yang merawat bumi sambil memajukan ekonomi rakyat.Melalui inisiatif Kampus Berdampak &Sergon, Ekonomi Sirkular Kelurahan, Universitas Katolik Musi Charitas menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil: dari lorong-lorong kampung, dari ember komposter di halaman, dari tangan mahasiswa yang tak segan bekerja di lumpur.
Kita sedang menulis bab baru peradaban: di mana ilmu, iman, dan kemanusiaan berpadu untuk memulihkan bumi, rumah kita bersama.
Penutup: Membangun Harapan, Bukan Sekedar Inovasi
Kampus berdampak bukan sekadar lembaga akademik dengan teknologi canggih. Ia adalah jantung kehidupan yang berdetak bersama masyarakatnya.
Teknologi tepat guna hanyalah alat. Yang utama adalah hati yang berguna.
Dengan praktik Laudato Si’, Sergon, Ekonomi Sirkular Kelurahan, dan kolaborasi kampus–masyarakat, kita sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar “mengelola sampah”.Kita sedang membangun budaya baru, budaya merawat kehidupan, menumbuhkan kemandirian, dan menegakkan keadilan ekologis.
Dan dari sinilah, perubahan global akan bermula: dari kampus kecil yang peduli, dari kelurahan yang berdaya, dari warga yang mau bergandeng tangan menjaga bumi.







