PENDIDIKAN TANGGUNGJAWAB SIAPA?

PENDIDIKAN TANGGUNGJAWAB SIAPA?

mediasumatera.id “Bagian terbesar dari pendidikan adalah apa yang kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan, dan kita alami setiap saat, bukan berasal dari pelajaran yang kita dapat dari dalam kelas”.

Selama ini diskursus tentang pendidikan tidak akan pernah selesai. Sementara itu, tak jarang saling melemparkan kesalahan, ataupun tanggungjawab, ketika terjadi “sesuatu” yang negatif, di masyarakat. Dan biasanya pihak yang selalu disalahkan adalah satuan pendidikan. Padahal kalau kita mau jujur, sesungguhnya pendidikan itu tanggungjawab semua, mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu, baik keluarga, sekolah dan masyarakat harus dapat berkolaborasi dengan baik untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, yang tercermin pada kualitas karakter peserta didik, melalui cara hidup, cara bersikap, cara berperilaku, cara bertutur kata, dan cara bertindak yang baik dan benar. Melalui kolaborasi, maka tidak ada yang saling menyalahkan, ataupun melempar tanggungjawab. Dan daripada saling melempar, maka alangkah baiknya, masing masing stakeholder mengintrospeksi diri. Para orang tua, baik ibu maupun bapak, bisa merefleksikan ‘apa kontribusiku dalam mendidik dan mengajar buah hatiku. Apakah ibu atau bapak sudah mengajar dan mendidik anak dengan baik benar?Apakah ibu atau bapak sudah memberikan teladan hidup yang baik?Apakah antara kata dan perbuatan sudah sejalan?Apakah ibu atau bapak sudah seiya sekata dalam mendidik dan mengajar anak?Sebab, banyak kali yang terjadi, ketika sang ibu tegas, maka sang bapak tidak atau sebaliknya. Atau ketika satu orang tua tegas, maka satu orang tua yang membela atau melindungi. Jika demikian yang terjadi, maka kecil kemungkinan anak akan berubah. Demikian pun, dengan di satuan pendidikan, kepala sekolah, para guru dan pegawai, juga harus mengintrospeksi, sejauhmana sumbangsih dalam mendidik dan mengajar peserta didik. Sebab, terkadang yang terjadi adalah saling menyalahkan, kepala sekolah menyalahkan guru, pegawai dan sebaliknya, guru menyalahkan kepala sekolah dan pegawai, pun pegawai menyalahkan guru dan kepala sekolah. Jika itu yang terjadi, maka sudah pasti iklim kerja menjadi tidak kondusif. Masyarakat pun demikian, pasti menyalahkan sekolah, orang tua, dan pasti sebaliknya. Jika sudah melakukan introspeksi, maka semua harus fokus pada pembenahan atau perbaikan, sesuai dengan peran masing-masing. Hindarkan saling menyalahkan, dan mari tingkatkan kolaborasi? Mengapa? Karena kolaborasi merupakan kunci kesuksesan dalam dunia pendidikan, baik kolaborasi internal, maupun kolaborasi eksternal. Dan apalagi keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan tri pusat pendidikan, menurut Ki Hadjar Dewantara. Dan tentunya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing – masing. Dengan demikian, kita mengenal tiga jalur pendidikan, yakni pendidikan formal, ialah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dan bersifat resmi, seperti; TK, SD, SMP, SMA/SMK, Perguruan Tinggi. Pendidikan formal memiliki ijazah untuk melanjutkan sekolah dan melamar pekerjaan. Juga mempunyai kurikulum serta sistemnya terstruktur. Sedangkan Pendidikan Non-Formal, yakni  pendidikan yang berlangsung dimasyarakat. Pendidikan non formal bersifat resmi dan ada juga yang tidak, tidak memiliki jenjang tertentu serta dapat diikuti oleh segala usia. Selain itu pendidikan non formal memiliki sertifikat dan ijazah misalnya memgikuti kejar paket A, B, dan C. Pendidikan non formal contohnya melalui lembaga kursus  (komputer, bahasa, montir, musik, olah vocal, dll), lembaga bimbingan belajar (primagama, neutron, ugama, ganesha, PKBM, dll). Lalu, Pendidikan informal, adalah pendidikan yang diberikan oleh orangtua, yang mengutamakan nilai etika, moral dan norma. Pendidikan informal bersifat tidak resmi, tidak kaku pada jenis pendikan tertentu. Pendidikan informal contohnya keluarga. Pendidikan informal menjadi sangat penting, mengingat keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu yang merupakan soko guru utama dalam pendidikan di keluarga melalui kata – kata dan perbuatan atau teladan hidup.

Baca Juga :  USMB di Gelar Unsri Bersama 13 PTS se Sumsel

PERAN ORANG TUA …

Orang tua peserta didik memiliki peran penting dalam proses pendidikan, terlebih di keluarga atau di rumah. Sebab, keluarga merupakan tempat pertama dan utama seorang anak di didik dan diajar oleh orang tuanya.  Oleh karena itu, orangtua disebut sebagai soko guru atau guru utama dan pertama dalam proses pendidikan seorang anak di keluarga. Keluarga bagaikan sebuah lahan subur tempat persemaian bibit unggul (anak) dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya itu, dia BELAJAR banyak hal untuk membentuk dan membangun kepribadiannya. Karena itu pembentukan karakter kepribadian seorang anak (peserta didik) dimulai di keluarga melalui pengamatan, pendengarannya juga rekaman pengalamannya bersama orangtuanya. Untuk itu, sangat diperlukan KETELADANAN dan PEMBIASAAN hidup yang baik, bagi orng tua di rumah, baik dalam perkataan maupun perbuatannya. Ada orang bijak mengatakan bahwa seorang anak adalah seorang pengamat yang hebat, tetapi penafsir yang keliru. Pengalaman bersama (hasil belajar) dengan orang tuanya di keluarga akan direkam dan disimpan dalam alam bawah sadar serta memory anak. Misalkan di keluarga orangtua mengajar dan mendidik anak tentang kebaikan seperti: disiplin, kejujuran, 4 kata bijak (terima kasih, permisi, minta tolong, minta maaf), memberi dan menerima dengan tangan kanan, maka nilai nilai itu akan bertumbuh dan berkembang dalam diri anak atau akan terinternalisasi. Ada pepatah yang mengatakan bahwa buah yang jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya, kecuali tanahnya miring. Atau juga pohon yang baik pasti menghasilkan buah yang baik. So, pohon ibarat orangtua, atau keluarga dan buahnya adalah ibarat anak.

Seiring dengan perputaran waktu, ketika si anak memasuki lingkungan baru dalam hal ini lingkungan sekolah, maka nilai kemanusiaan yang sudah terpatri yang sudah ditanam di keluarga pasti akan selalu dijunjung tinggi. Orangtua sebagai guru utama si anak wajib “mengkawal” dengan kasih sayang perjalanannya termasuk ketika di sekolah. Walau terjadi pergeseran peran dari orangtua ke para guru di sekolah, tetap orangtua memegang tanggungjawab penuh terhadap proses belajar anak. Sebab, dari pengalaman kebanyakan para orangtua menganggap bahwa ketika anak di sekolah maka segala urusan sepenuhnya menjadi tanggungjawab sekolah. Apalagi orangtua sudah bayar uang sekolah dan sibuk bekerja, maka pendidikan anak menjadi tanggungjawab kepala sekolah dan para guru. Kalau  seperti ini mindsetnya, maka sekolah sama dengan Tempat Penitipan Anak (TPA). Pada hal, sekolah bukan TPA, melainkan tempat anak BELAJAR tentang kehidupan, menimba ilmu pengetahuan dan hal-hal lain yang mungkin belum diterima si anak di keluarga, misalnya cara bersosialisai, cara memimpin, cara belajar, dll. Atau bisa jadi pihak sekolah hanya mempertegas kembali apa yang telah diajarkan dan dididik oleh para orangtua tentang cara bersikap dan bertingkahlaku yang baik. Dengan demikian, si anak akan diperkaya nilai-nilai kemanusiaannya serta lebih mendalam, sehingga menjadi bagian dari hidupnya dan akhirnya menjadi kebiasaan yang membudaya. Agar proses BELAJAR si anak (peserta didik) berhasil dengan baik, maka perlu kerjasama yang baik antara sekolah dan orang tua. Orang tua memiliki kewenangan untuk bertanya kepada pihak sekolah tentang PROSES BELAJAR si anak serta progressnya dalam BELAJAR. Jadi, komunikasi yang intensif dan efektif antara orangtua dan sekolah, sangat penting dalam proses pendidikan anak (peserta didik). Termasuk ketika ada masalah antara anak dan pihak sekolah, maka orang tua harus punya waktu guna melakukan konfirmasi dan klarifikasi dengan pihak sekolah dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah. Itu juga mengandung nilai edukasi bagi anak tentang cara menyelesaikan masalah, juga sebagai bentuk tanggungjawab orang tua terhadap anak. So, Sangat tidak benar kalau orang tua lepas tanggungjawab, walau perannya sebagian telah bergeser ke para pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah. Bentuk kerjasama orang tua dan pihak pihak sekolah, tidak melulu berupa materi  (uang), tetapi juga berupa sumbangan pikiran, hadir disetiap ada undangan pertemuan dari sekolah, komunikasi yang efektif yang semuanya demi kemajuan sekolah tempat anak BELAJAR untuk olah pikir (literasi dan numerasi), olah hati (etik), olah rasa (estetika) dan olah raga (kinestetik).

Baca Juga :  Funwalk Bersama Koordinasi TK,SD,SMP Xaverius 3 dan SMA Xaverius 4 Palembang

Yang perlu digaris bawahi pula bahwa waktu BELAJAR anak (peserta didik) disekolah rata ± 8 jam, waktu selebihnya menjadi tanggungjawab orang tua. Untuk itu, pengawasan, pendampingan, sikap kontrol dari orang tua sangat diharapkan, agar nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan di sekolah tetap awet, lestari, selalu eksis, tidak mudah luntur, kikis, terkontaminasi di masyarakat yang majemuk,heterogen, juga perkembangan dunia IT  (internet) yang bisa diakses dengan bebas. Pendampingan, pengawasan, pendekatan,  haruslah secara humanis sesuai usia anak (peserta didik). Karena itu, walau rumah bukan sekolah atau asrama, orangtua wajib membuat aturan berupa komitmen   untuk disiplin menggunakan waktu, khususnya BELAJAR dan juga komitmen dalam bersikap dan bertingkahlalu di rumah dan masyarakat. Dalam proses pendampingan, pengawasan, yang perlu diperhatikan adalah perlakukan anak sebagai SAHABAT, teman, partner, mitra dalam berkomunikasi. Sebagai manusia mereka juga butuh didengarkan dan di “orangkan”, dicintai. Mendidik atau pun mengajar  anak dengan kekerasan tidak akan mengubah mental, sikap dan perilaku anak, tetapi jika mereka dididik ataupun diajar dengan kasih sayang pasti mereka akan berubah. Seperti sebuah batu karang bisa berlubang hanya dengan tetesan air yang terus menerus. Jika demikian perlakuan orangtua, maka anak akan bertumbuh dan berkembang dalam kasih sayang sebagai pribadi yang unggul, tangguh, serta berkepribadian kuat dan berkarakter.  Yang perlu diingat juga, bahwa orangtua jangan mengukur kecerdasan anak atau kepintaran anak hanya dari kecerdasan matematika semata, sebab Tuhan menciptakan manusia dengan kecerdasan yang berbeda. Menurut Edwar Gardner ada 8 kecerdasan yang dimiliki manusia, yaitu: kecerdasan linguitik, logika matematika, musikal, spasial (menggambar, desaigner), kinestetik (olah raga, menari), interpersonal (pandai bergaul/supel), intrapersonal (mandiri), naturalis (suka alam). Selain ke delapan kecerdasan itu ada juga yang namanya kecerdasan eksistensial (rasa ingin tahu). Dengan kecerdasan ini, diharapkan orang tua harus menghargai atau mengapresiasi kecerdasan apapun yang dimiliki sang anak

PERAN  SEKOLAH…

Sekolah menerima kepercayaan dari orang tua, untuk mendidik putra/i-nya. Tugas sekolah adalah mendidik, mengajar, membimbing, melatih anak  (peserta didik) sebagai persiapan hidup di masa depannya. Sama seperti setiap orang tua, para gurupun diharapkan dapat memberikan TELADAN HIDUP atau CONTOH HIDUP dan PEMBIASAAN  yang baik. Bahwa antara perkataan dan perbuatan harus sejalan, sebab bagi anak (peserta didik), guru adalah aktris dan aktor di sekolah yang harus diGugu dan ditiRu, karena itu ia disebut GuRu. Peran guru sangat penting dalam mempersiapkan manusia muda yang sedang belajar.menyonsong masa depannya. Karena itu, setiap pendidik/guru harus memiliki strategi yang DJITU, yakni Doa, Jujur, Inovatif, Taqwa dan Unggul, dalam segala hal. Inilah hakikat dari seorang GuRu.  Dan tentunya pihak sekolah memiliki ekspektasi yang tinggi, agar anak didiknya (peserta didik) berhasil dalam BELAJAR selama menempuh pendidikan di sekolah, namun yang lebih penting adalah mereka sukses dalam hidupnya, dikemudian hari. Dan untuk meraih kesuksesan hanya dua kata kunci menurut hemat saya, yakni cerdas dan berkarakter. Akhirnya, setiap guru harus menyadari, bahwa tanggungjawabnya tidaklah mudah, sebab tidak hanya dituntut untuk melahirkan anak(peserta didik) yang cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, secara social dan cerdas secara spiritual. Untuk itu dibutuhkan figur guru yang profesional dan kompeten dalam mewujudkan itu semua, karena apa yang diberikan kepada anak (peserta didik) adalah apa yang telah dia hidupi dan dia miliki atau dia punyai. Selain itu, juga sangat diharapkaan setiap guru harus mampu memberikan motivasi belajar kepada anak (peserta didik). Sebab apa artinya guru professional dan kompeten kalau peserta didiknya malas BELAJAR atau alergi belajar.  Para peserta didikpun jangan hanya menuntut atau mengkritik guru yang mengajar kurang bagus, tetapi peserta didik sendiri harus bisa introspeksi diri, koreksi diri, sejauh mana  peserta didik belajar dengan tekun dan rajin. Sebab, keberhasilan dan kesuksesan belajar di sekolah adalah hasil kerjasama segitiga yang baik, antara orang tua, guru mengajar dan peserta didik belajar.

Baca Juga :  TKK MPK KaPal Membangkitkan Tunas Muda Yang Berakter Dan Inovatif

 PERAN MASYARAKAT…

Masyarakat sebagai lembaga pendidikkan non formal, juga memiliki peran yang penting dalam meciptakan profil pelajar pancasila atau melahirkan peserta didik yang cerdas dan berkarakter, melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Keempat wilayah ini akan di olah, sehingga akan terkristalisasi. Oleh karena itu, masyarakat dapat disebut sebagai laboratorium tempat pratek atau uji mutu atau kualitas, nilai nilai yang ditanamkan di keluarga dan atau di sekolah. Jika nilai nilai yang ditanamkan itu, tidak terkontaminasi, oleh pengaruh lingkungan masyarakat, maka bisa dipastikan bahwa nilai nulai yang sudah ditanamkan di keluarga dan atau di sekolah sudah terinternalisasi dengan baik.

Dieja lebih jauh, bahwa masyarakat juga memiliki peran penting sebagai sumber belajar bagi seorang anak atau peserta didik, dalam menimba atau memperoleh pengetahuan. Masyarakat juga berperan sebagai pengontrol, pengawas dalam penumbuhan dan perkembangan nilai nilai kemanusiaan dan kehidupan.

 Penutup

“Ceritakan kepadaku, maka aku akan lupa. Ajarkan aku, mungkin aku bisa mengingatnya. Ajak dan libatkan lah aku, maka aku akan belajar”.

Demikianlah peran dari masing masing stakeholder yang sama pentingnya dalam proses pendidikan si anak  (peserta didik) yang sedang bertumbuh dan berkembang, serta sedang BELAJAR mempersiapkan masa depannya. Keberhasilan dan kesuksesan hidup di masa depan berawal dari sekarang ini dan saat dia BELAJAR di rumah, sekolah. Dan masyarakat. Dan tentunya untuk mewujudkan mimpinya dibutuhkan perjuangan melaui etos belajar serta integritas yang tinggi dan juga konsistensi dan komitmen dari dirinya. Walau demikian, tentunya yang tidak kalah penting adalah kolaborasi dan sinergi yang baik antara orangtua, sekolah dan masyarakat, untuk membantu si anak (peserta didik) dalam meraih cita-citanya. Sekali lagi hanya dengan kerjasama yang baik dan solid layaknya sebuah team work, saling mensupport, niscaya akan melahirkan peserta didik yang berkualitas/cerdas, baik secara intelektual, sosial, spiritual, serta  berkarakter. Hanya peserta didik yang seperti inilah, yang menurut hemat saya siap menyonsong hari depannya dan siap berkompetisi dan menghadapi tantangan global.