PERTEMUAN DONALD TRUMP DAN XI JINPING: KEMUNGKINAN PERTEMPURAN PERADABAN – Bagaimana dengan Indonesia?

PERTEMUAN DONALD TRUMP DAN XI JINPING: KEMUNGKINAN PERTEMPURAN PERADABAN - Bagaimana dengan Indonesia?
Oleh Denny JA

mediasumatera.id – Di sebuah ruangan megah di Beijing, lampu kristal menggantung tenang di atas kepala dua lelaki paling berkuasa di dunia.

Kamera merekam senyum diplomatik mereka. Para penerjemah berdiri siaga. Tetapi di balik kesopanan itu, dunia seperti sedang menahan napas.

Xi Jinping duduk dengan wajah nyaris tanpa emosi. Donald Trump duduk dengan gestur seorang petarung yang tak ingin terlihat kalah.

Di luar ruangan itu, kapal perang Amerika berlayar di Pasifik. Jet tempur China melintasi langit Taiwan. Pasar saham dunia bergerak mengikuti nada suara dua orang itu.

Tak ada peluru ditembakkan malam itu. Namun sejarah tahu: perang besar sering dimulai bukan oleh ledakan pertama, melainkan oleh ketakutan pertama.

Saya membayangkan seorang ayah di Jakarta yang sedang menidurkan anaknya sambil membuka berita di telepon genggam. Ia mungkin tak memahami detail geopolitik.

Tetapi ia tahu satu hal sederhana: jika Amerika dan China bertabrakan, harga pangan naik, pekerjaan terguncang, teknologi terbelah, dan masa depan anaknya ikut berubah.

Kadang nasib milyaran manusia memang ditentukan oleh percakapan beberapa menit di sebuah ruangan tertutup.

Dan malam itu, Xi Jinping mengucapkan satu nama dari 2.400 tahun lalu.

Thucydides.

Dunia mendadak terasa lebih sunyi.

-000-

Xi Jinping benar-benar menyebut “Thucydides Trap” dalam pertemuannya dengan Donald Trump di Beijing pada Mei 2026.

Dalam pidato pembukaannya, Xi bertanya apakah China dan Amerika Serikat mampu melampaui “jebakan Thucydides” dan menciptakan hubungan baru antar kekuatan besar.

Kalimat itu terdengar akademik. Tetapi sesungguhnya ia adalah peringatan paling serius yang bisa disampaikan seorang pemimpin dunia tanpa mengangkat suara.

Xi sedang berbicara tentang perang.

Bukan perang hari ini. Bukan perang besok pagi. Tetapi pola perang yang berulang selama ribuan tahun ketika kekuatan lama merasa posisinya terancam oleh kekuatan baru yang sedang bangkit.

Guardian menulis bahwa Xi menggunakan referensi itu sambil memperingatkan soal Taiwan. Ia berkata bahwa kesalahan penanganan isu Taiwan dapat mendorong kedua negara ke konflik terbuka.

Lalu dunia melihat sesuatu yang menarik.

Xi berbicara dalam bahasa sejarah dan peradaban. Trump merespons di media sosial dengan bahasa politik domestik.

Trump menulis bahwa Xi mungkin sedang merujuk Amerika di era Biden sebagai bangsa yang menurun, bukan Amerika di bawah kepemimpinannya. Ia lalu menegaskan bahwa Amerika kini adalah bangsa “terpanas” di dunia.

Di situlah terasa perbedaan dua peradaban politik.

Xi berbicara seperti seorang pemain catur yang memikirkan 50 tahun ke depan.

Trump menjawab seperti petarung politik yang sedang menghadapi siklus berita 24 jam.

Saya membaca percakapan itu dengan perasaan aneh. Seolah dunia modern tiba-tiba kembali menjadi Yunani kuno, hanya saja kini misil hipersonik menggantikan tombak, dan kecerdasan buatan menggantikan kuda perang.

Namun inti tragedinya tetap sama.

Ketakutan.

-000-

Apa sebenarnya Thucydides Trap?

Istilah ini berasal dari sejarawan Yunani kuno bernama Thucydides, penulis History of the Peloponnesian War. Ia menulis perang antara Athena dan Sparta bukan terutama disebabkan oleh kebencian atau penghinaan, melainkan oleh sesuatu yang lebih dalam: ketakutan Sparta terhadap kebangkitan Athena.

Baca Juga :  Forum Masyarakat Berdaya (FMB) Menggelar FGD Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Ngorok Pada Hewan Ternak, Ini Materi Yang Disampaikan

Athena saat itu tumbuh luar biasa cepat. Mereka kaya, inovatif, unggul di laut, dan menjadi pusat perdagangan serta kebudayaan. Sparta adalah kekuatan lama yang disiplin dan sangat militeristik. Ketika Athena semakin kuat, Sparta mulai merasa dunia yang mereka kenal sedang runtuh.

Ketakutan itu menciptakan perlombaan senjata. Aliansi militer. Kecurigaan. Salah tafsir atas niat lawan.

Lalu perang pecah pada 431 SM.

Perang berlangsung hampir tiga dekade. Kota-kota hancur. Ekonomi runtuh. Wabah menyebar. Athena akhirnya kalah. Tetapi kemenangan Sparta ternyata juga membawa kehancuran bagi dirinya sendiri.

Yunani menjadi lemah secara kolektif. Tak lama kemudian, seluruh dunia Yunani jatuh ke tangan Makedonia.

Di situlah pelajaran besar sejarah muncul: kadang dalam perang antar raksasa, bahkan pemenang pun akhirnya kalah.

Profesor Harvard Graham Allison lalu mempelajari pola ini dalam sejarah dunia. Ia menemukan bahwa ketika kekuatan baru menantang kekuatan lama, konflik sering menjadi sangat sulit dihindari.

Inggris melawan Jerman.

Amerika melawan Jepang.

Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet.

Kini dunia melihat pola yang sama dalam hubungan Amerika dan China.

Yang menakutkan bukan hanya senjatanya. Tetapi psikologi ketakutannya.

Sebagian ahli seperti Joseph Nye membantah analogi ini. Athena dan Sparta tak saling bergantung secara ekonomi; Amerika dan China terjalin lewat rantai pasok, utang, dan teknologi. Benar.

Tetapi saling ketergantungan tak menjamin perdamaian. Eropa 1914 juga saling terjalin erat secara ekonomi, sebelum akhirnya terbakar oleh ketakutan yang sama.

-000-

Mengapa Amerika dan China bisa mengulang kisah Athena dan Sparta?

Karena untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, Amerika menghadapi rival yang bukan hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga memiliki peradaban besar, teknologi tinggi, populasi raksasa, dan ambisi global.

China kini:

* memimpin banyak rantai pasok dunia,
* menjadi raksasa manufaktur,
* mempercepat dominasi AI,
* membangun kekuatan militer,
* dan memperluas pengaruh geopolitik dari Afrika hingga Timur Tengah.

Sementara Amerika mulai merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah mereka rasakan selama puluhan tahun: kecemasan kehilangan dominasi.

Ketika saya menghadiri konferensi energi internasional di Houston, seorang eksekutif LNG Amerika Serikat menatap gelas kopinya, lalu berkata pelan kepada saya: “Dulu kami merancang abad. Kini kami hanya berebut kuartal berikutnya dengan Beijing.”

Mereka mulai bertanya:
“Apakah kita masih memimpin?”

Pertanyaan itu sangat penting.

Karena sejarah menunjukkan: negara besar sering menjadi paling berbahaya bukan saat mereka kuat, tetapi saat mereka merasa kekuatannya mulai tergelincir.

China di sisi lain membawa energi kebangkitan peradaban. Mereka tidak melihat diri mereka sekadar negara berkembang. Mereka melihat diri sebagai peradaban tua yang sedang kembali ke posisi sentral sejarah.

Dua psikologi itu bertemu di Taiwan.

Dan Taiwan bisa menjadi Sarajevo abad ke-21. Sebuah pulau kecil yang mungkin menentukan nasib dunia.

Baca Juga :  UKMC Buka Tahun Akademik Bersama Imam Baru

Tetapi tragedi terbesar bukan hanya kemungkinan perang. Tragedi terbesar adalah jika dua negara terbesar dunia menghabiskan energi menghancurkan satu sama lain, sementara umat manusia sedang menghadapi ancaman yang jauh lebih besar.

Yaitu krisis iklim, AI yang tak terkendali, ketimpangan global, dan keruntuhan makna hidup modern.

Di era nuklir dan kecerdasan buatan, perang antar negara adidaya tak lagi sekadar perebutan wilayah. Ia berpotensi menjadi peristiwa yang mengguncang arah evolusi seluruh peradaban manusia.

Athena dan Sparta dulu bertempur sampai keduanya lelah. Dunia modern tampaknya sedang berjalan menuju cermin sejarah yang sama.

-000-

Salah satu buku paling penting tentang isu ini adalah:

Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?
Karya Graham Allison
Houghton Mifflin Harcourt, 2017

Graham Allison mengangkat kembali gagasan Thucydides dan mengubahnya menjadi perdebatan geopolitik global. Buku ini bukan sekadar analisis hubungan Amerika dan China, melainkan pembedahan pola sejarah selama lima abad terakhir.

Allison meneliti 16 kasus ketika kekuatan baru menantang kekuatan lama. Hasilnya mengejutkan: 12 berakhir dengan perang. Ia menunjukkan bagaimana rasa takut sering lebih menentukan dibanding ideologi atau moralitas.

Yang membuat buku ini kuat adalah nuansa tragisnya. Allison tidak menggambarkan perang sebagai hasil kejahatan satu pihak. Ia justru memperlihatkan bagaimana negara-negara dapat terseret ke konflik bahkan ketika mereka tidak benar-benar menginginkannya.

Buku ini juga memperlihatkan bagaimana Taiwan dapat menjadi pemicu salah kalkulasi paling berbahaya abad ini. Satu insiden kecil dapat memicu reaksi berantai yang tidak terkendali.

Yang paling mengguncang dari buku ini adalah kesimpulannya: sejarah tidak pernah menjamin kebijaksanaan manusia. Kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia lebih matang secara emosional atau politik.

Kita mungkin hidup di era AI dan satelit. Tetapi di balik jas modern dan layar digital, manusia tetap membawa ketakutan primitif yang sama seperti 2.400 tahun lalu.

-000-

Buku kedua yang sangat relevan adalah: The History of the Peloponnesian War
Karya Thucydides, edisi modern 1972

Inilah teks asli yang melahirkan seluruh gagasan Thucydides Trap. Ditulis oleh saksi langsung perang Athena dan Sparta, buku ini terasa sangat modern meskipun lahir lebih dari dua milenium lalu.

Thucydides menulis bukan seperti penyair, tetapi seperti ahli bedah tragedi manusia. Ia menunjukkan bagaimana ketakutan, ambisi, ego, dan salah persepsi menghancurkan peradaban.

Yang paling penting dari buku ini adalah pemahamannya bahwa perang sering muncul bukan karena manusia jahat, tetapi karena manusia takut kehilangan posisi, keamanan, atau kehormatan.

Athena digambarkan sebagai kekuatan progresif yang percaya diri. Sparta digambarkan sebagai kekuatan lama yang defensif dan curiga. Benturan psikologis itulah yang akhirnya menghancurkan keduanya.

Buku ini terasa menyeramkan dibaca hari ini karena banyak dialognya seperti berbicara langsung kepada dunia modern. Kita melihat kembali:

* perlombaan senjata,
* perebutan aliansi,
* propaganda,
* ketakutan nasional,
* dan rasa superioritas moral.

Baca Juga :  Kondisi Masyarakat di Dua Kampung Terdampak Cukup Parah Karena Cuaca Ekstrim, Berangsur-angsur Pulih

Thucydides seperti ingin berkata:
peradaban boleh berubah, tetapi struktur emosi manusia hampir tidak berubah.

Dan mungkin itulah sebabnya buku ini masih menghantui para presiden, jenderal, dan diplomat hingga hari ini.

-000-

Apa yang perlu disiapkan Indonesia?

Indonesia tak cukup hanya menjadi negara nonblok yang pasif. Di era rivalitas Amerika dan China, Indonesia harus menjadi active broker: penengah yang aktif menciptakan ruang kompromi, menggunakan posisi strategisnya untuk menjaga Asia tetap waras di tengah kompetisi dua raksasa dunia.

Pertama, Indonesia harus berhenti berpikir pendek.

Jika rivalitas Amerika dan China memburuk, dampaknya bukan hanya militer. Yang terguncang adalah:

* energi,
* pangan,
* teknologi,
* investasi,
* rantai pasok,
* bahkan stabilitas sosial.

Indonesia harus memperkuat:

* ketahanan pangan,
* ketahanan energi,
* industri teknologi domestik,
* dan diplomasi bebas aktif yang benar-benar cerdas.

Kedua, Indonesia harus belajar membaca dunia sebagai peradaban, bukan sekadar pasar.

Kita terlalu sering hanya menjadi penonton dari pertarungan raksasa global. Padahal posisi Indonesia sangat strategis: populasi besar, sumber daya besar, dan posisi geografis yang menentukan jalur perdagangan dunia.

Ketiga, Indonesia harus mempersiapkan generasi yang mampu memahami geopolitik, teknologi, dan kemanusiaan sekaligus.

Karena abad ke-21 bukan hanya pertarungan senjata.

Ia adalah pertarungan narasi, kecerdasan, dan kemampuan menjaga kejernihan di tengah dunia yang semakin panik.

Konkretnya: ketika China memborong 200 Boeing, kedelai, dan LNG Amerika, ekspor sawit dan batu bara Indonesia ke China makin tergencet. Posisi tawar kita ditentukan hari ini, bukan saat krisis tiba.

-000-

Pada akhirnya, kisah Thucydides bukan hanya tentang Athena dan Sparta.

Ia adalah kisah tentang manusia yang selalu takut kehilangan kekuasaan, dan karena ketakutan itu, justru menghancurkan masa depan bersama.

Pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump di Beijing hanyalah satu episode kecil dalam drama panjang sejarah manusia. Tetapi episode itu mengingatkan kita bahwa dunia modern tetap rapuh. Sangat rapuh.

Kita hidup di zaman ketika satu kesalahan diplomatik dapat mengguncang ekonomi dunia, ketika satu pulau kecil bernama Taiwan dapat menentukan nasib milyaran manusia, dan ketika kecerdasan buatan berkembang jauh lebih cepat daripada kebijaksanaan politik.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Amerika atau China akan menjadi pemenang.

Pertanyaan terbesar adalah:
apakah umat manusia cukup dewasa untuk menghentikan sejarah mengulang tragedinya sendiri.

Sebab dalam setiap perang besar antar peradaban, yang paling dahulu mati bukanlah tentara, melainkan kejernihan manusia melihat sesamanya sebagai sesama.***

Jakarta, 16 Mei 2026

REFERENSI

1. Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?
Graham Allison
Houghton Mifflin Harcourt, 2017

2. The History of the Peloponnesian War, Thucydides
Penguin Classics, 1972 edition

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1JKTgiubLs/?mibextid=wwXIfr