mediasumatera.id – SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Saya berharap menjumpai Anda dalam keadaan tidak “lumpuh”, melainkan sehat, damai dan bahagia.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 2: 1 – 12, yakni orang lumpuh disembuhkan. Dalam bacaan Injil hari ini, di
kisahkan Yesus menyembuhkan orang lumpuh, bukan hanya tentang mujizat fisik. Yesus pertama-tama melihat iman, bukan hanya iman si lumpuh, tetapi juga iman orang-orang yang menggotongnya. Mereka berani melakukan tindakan yang menantang: membongkar atap rumah agar sahabat mereka berjumpa dengan Yesus. Membongkar atap adalah simbol perjuangan iman, tekad yang tidak menyerah pada rintangan, demi membawa seseorang kepada Sang Juruselamat. Namun, yang luar biasa adalah bahwa Yesus tidak hanya menyembuhkan tubuh si lumpuh. Ia melihat kelumpuhan yang lebih dalam, yakni: kelumpuhan rohani atau spiritual. Oleh karena itu, kata pertama yang keluar dari mulut-Nya adalah: “dosamu sudah diampuni.”
*Bagaimana dengan kita?* Hari ini, kita mungkin tidak lumpuh secara fisik. Tetapi kita bisa lumpuh dalam bentuk lain: _Pertama_
*Lumpuh Spiritual*. Doa ibadat, dan ekaristi terasa hampa, kosong, HATI tumpul terhadap firman, hidup rohani berjalan tanpa gairah. _Kedua_ *Lumpuh Emosional*. Tidak mampu memaafkan atau mengampuni sesama, juga terus disandera luka lama masa lalu, takut mencintai atau dipercaya kembali. _Ketiga_ *Lumpuh Intelektual*. Terjebak dalam pola pikir negatif, fixed mindset, sulit membedakan kebenaran dari tipu daya, atau merasionalisasi dosa. Inilah “tilam” kita, zona nyaman yang membuat kita tetap tergeletak dan tidak bertumbuh. Oleh karena itu, hari ini Yesus berkata kepada kita: “Bangunlah, angkat tempat tidurmu, dan pulanglah!” Ini adalah panggilan untuk:
_Pertama_ *Bangun dari pola pikir dan perasaan yang melumpuhkan kita*. _Kedua_ *Angkat “tilam” kebiasaan mentalitas yang menjebak*. _Ketiga_
*Pulang pada identitas baru sebagai orang yang telah diampuni dan dipulihkan*.
*Pertanyaan refleksi*
1. Kelumpuhan apa yang paling sering saya alami saat ini, spiritual, emosional, atau intelektual, dan bagaimana saya menyadarinya?
2. Apakah saya berani “membongkar atap” rintangan dalam hidup saya agar bisa sungguh berjumpa dengan Yesus?
3. Bagaimana saya menanggapi panggilan Yesus untuk bangun, mengangkat “tilam” kebiasaan lamaku, dan pulang dengan identitas baru sebagai orang yang diampuni?
*Selamat berefleksi*🙏🙏
*Doa Singkat*
Tuhan Yesus,
Sembuhkanlah kelumpuhan dalam hidup kami, rohani, emosional, maupun pikiran. Bangunkan kami, angkatlah “tilam” kebiasaan lama kami,
dan pulihkan kami sebagai anak-anak yang Engkau kasihi. Amin.







