mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Kita tentunya sudah hafal dengan hukum Kasih, yakni: mengasihi Allah dan mengasihi sesama sebagai perintah yang utama. Tetapi apakah kita sudah sungguh mengasihi sesama sebagai perwujudan dari sungguh mengasihi Allah? Ataukah hanya sebatas narasi semata, sebab di bibir kita mengasihi Allah, tetapi dihati kita sulit mengampuni sesama.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 12: 28b – 34, yakni hukum yang terutama. Para saudaraku,Yesus menegaskan dua hukum utama: mengasihi Allah dengan segenap HATI, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dua hukum ini bukan pilihan, melainkan satu paket utuh.Kita fasih mengucapkannya, bahkan hafal doa Bapa Kami. Namun praktiknya sering berbeda. Saat disakiti, HATI kita enggan mengampuni. Saat bersalah, gengsi menahan kita untuk meminta maaf. Akhirnya, kita membangun benteng ego yang tampak saleh dari luar, tetapi keras di dalam. Firman mengingatkan: “Barangsiapa berkata: Aku mengasihi Allah, tetapi membenci saudaranya, ia adalah pendusta.” (1 Yohanes 4:20). Mengasihi Allah tidak bisa dipisahkan dari keberanian mengampuni dan kerendahan HATI untuk meminta maaf. KASIH bukan TEORI, melainkan AKSI nyata. Mengampuni bukan TANDA kelemahan, melainkan BUKTI bahwa Allah lebih besar dari harga diri kita. Meminta maaf bukan merendahkan, melainkan meninggikan, sebab Allah memuliakan HATI yang rendah.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, jangan berhenti sebagai teolog KASIH. Jadilah praktisi pengampunan. Hari ini, runtuhkan benteng ego dengan satu langkah kecil: doakan orang yang sulit engkau maafkan, atau beranilah meminta maaf bila engkau yang bersalah. Setiap kali engkau mengampuni, engkau sedang berkata kepada Allah: “Kasih-Mu nyata dalam diriku.” Dan setiap kali engkau meminta maaf, engkau sedang bersaksi: “Allahku lebih besar dari gengsiku.” Dengan demikian, KASIH kepada Allah tidak berhenti di bibir, tetapi NYATA dalam TINDAKAN. Dan di situlah dunia mengenal kita sebagai murid Kristus: bukan karena FASIH berteologi, melainkan karena saling MENGASIHI. Akhirnya , Tuhan Yesus, ajarlah kami mengasihi dengan nyata: berani mengampuni, rela meminta maaf, dan meruntuhkan ego demi kemuliaan-Mu. Amin.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah aku sungguh mengasihi Allah jika masih menyimpan dendam dan enggan mengampuni sesama?
2. Beranikah aku merendahkan hati untuk meminta maaf ketika aku yang bersalah, meski gengsi menahan?
3. Langkah kecil apa yang bisa kulakukan hari ini agar kasihku nyata, bukan sekadar kata?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, ajarilah aku mengasihi-Mu dengan nyata melalui keberanian mengampuni dan kerendahan HATI untuk meminta maaf. Runtuhkan benteng egoku, agar kasih-Mu tampak dalam tindakanku setiap hari. Dimuliakanlah Engkau lewat hidupku yang saling mengasihi. Amin.




