Renungan hari ini: Melihat, Namun Buta Melihat Tanda

Renungan hari ini: Melihat, Namun Buta Melihat Tanda

mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam koKristus Tuhan. Ada paradoks dalam kehidupan para ahli Taurat dan orang Farisi, mereka melihat Yesus melakukan berbagai tanda dan mukjizat, namun anehnya mata hati mereka tidak mampu melihat ke – Allah -an dalam diri Yesus. Jadi, mereka melihat Yesus, namun buta melihat Yesus sebagai tanda kehadiran Allah di dunia ini.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 12: 38 – 42, yakni tanda Yunus. Para saudaraku, para ahli Taurat dan orang Farisi menyaksikan mujizat dengan mata kepala sendiri: orang lumpuh berjalan, badai reda, setan terusir. Namun mereka tetap berkata: “Kami ingin melihat suatu tanda.” Ironi yang memilukan, seperti orang berdiri di tengah hujan sambil bertanya, “Di mana air?”Mereka tidak buta fisik, melainkan buta HATI. Kesombongan dan konsep mereka tentang Mesias menutup mata iman. Yesus menegur: hanya ada satu tanda, tanda Yunus. Tiga hari dalam perut bumi, lalu bangkit. Itulah tanda terbesar: Allah masuk ke dalam penderitaan manusia, lalu keluar sebagai Pemenang. Kita pun sering serupa. Orang modern tidak lagi menuntut tanda di Bait Suci, melainkan di laboratorium, ruang gawat darurat, rekening bank, atau doa yang tak kunjung dijawab. Pertanyaan itu manusiawi: “Kalau Allah ada, mengapa anak menderita kanker? Mengapa orang yang kita cintai diambil? Mengapa doa tak dijawab?” Kita ingin Allah membuktikan diri dengan cara kita pahami. Namun jawaban Allah bukanlah pertunjukan spektakuler, melainkan salib. Di sana Ia tidak menjelaskan penderitaan, melainkan menanggungnya. Ia tidak menghapus air mata, melainkan ikut menangis. Ia tidak membatalkan kematian, melainkan melewatinya dan bangkit. Itulah tanda yang cukup. Maka iman bukan soal melihat dengan mata jasmani, melainkan dengan mata HATI. Orang Farisi melihat Yesus tetapi menolak percaya. Kita tidak melihat Yesus secara fisik, tetapi dengan iman kita melihat Dia sebagai Allah yang hadir.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, berhentilah menuntut tanda baru. Salib dan kebangkitan sudah cukup menjadi tanda KASIH Allah. Yang kita perlukan bukan bukti tambahan, melainkan kerendahan HATI untuk percaya. Yesus bersabda: “berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”. Karena di saat mata jasmani gagal memahami, mata HATI justru terbuka lebar. Dan di sanalah kita menemukan tanda sejati yang tidak pernah pergi: Yesus Kristus, Sang Tanda KASIH Allah, tetap sama, kemarin, hari ini, dan selama-lamanya.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah aku sering menuntut tanda dari Tuhan sesuai keinginanku, alih-alih melihat tanda yang sudah nyata dalam salib dan kebangkitan Kristus?
2. Bagaimana aku merespons penderitaan, apakah dengan menolak iman karena tidak mendapat jawaban logis, atau dengan menemukan kehadiran Allah yang ikut menanggungnya?
3. Apakah mata hatiku terbuka untuk melihat Yesus sebagai tanda kasih Allah, meski mata jasmani tidak melihat bukti spektakuler?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus,
Salib dan kebangkitan-Mu adalah tanda KASIH yang cukup. Ampunilah aku yang sering menuntut bukti baru. Bukalah mata hatiku agar melihat kehadiran-Mu
di tengah penderitaan dan kehilangan. Ajarlah aku percaya, meski tanpa melihat. Amin.