mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda mau menjadi keluarga Yesus? Syaratnya adalah melakukan kehendak Bapa-Nya.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 12: 46 – 50, yakni Yesus dan sanak saudara-Nya. Para saudaraku, setiap orang mendambakan tempat pulang, ruang di mana ia diterima tanpa syarat. Keluarga sering menjadi benteng terakhir, tetapi juga bisa menjadi ruang penuh luka dan jarak. Di tengah realitas itu, Yesus mendefinisikan ulang arti keluarga. Ketika ibu dan saudara-Nya datang, Yesus bertanya: “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Jawaban-Nya mengejutkan: “Barangsiapa melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Keluarga Yesus bukan ditentukan oleh darah atau status, melainkan oleh ketaatan. Maria sendiri menjadi keluarga Allah bukan karena melahirkan Yesus, tetapi karena ia berkata: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Di zaman modern, kita sering sibuk membangun reputasi, mengejar karier, dan mengamankan masa depan, tetapi lupa bertanya: “Apa kehendak Bapa hari ini?” Kita hafal feed media sosial, tetapi lupa firman. Kita ingin disebut anak Tuhan, tetapi enggan hidup seperti Kristus. Kita mendambakan mahkota tanpa memikul salib. Namun kabar baiknya: Yesus tidak menutup pintu. Ia mengulurkan tangan-Nya kepada siapa pun yang mau taat, meski jatuh dan bangkit lagi. Keluarga-Nya adalah mereka yang rela menundukkan kehendak pribadi demi kehendak Allah.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, bayangkan saat ini Yesus menatap Anda dan berkata: “Maukah engkau menjadi keluargaku?” Bukan karena Anda sempurna, tetapi karena ketaatan sederhana yang terus dihidupi akan mengikat kita dalam keluarga yang kekal. Di dunia yang mudah mengganti relasi, Yesus menawarkan ikatan yang tidak pernah pudar: keluarga surgawi yang tidak meninggalkan, tidak mengkhianati, dan selalu menyediakan ruang. Maka jangan hanya bertanya “Siapa keluargaku?” tetapi hiduplah sebagai keluarga-Nya. Sebab keluarga Kristus bukan mereka yang paling tahu, melainkan mereka yang paling mau melakukan kehendak Allah.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah saya sungguh menempatkan kehendak Allah di atas kehendak pribadi dalam keputusan sehari-hari?
2. Di tengah dunia yang sibuk dan individualistis, bagaimana saya membangun relasi yang mencerminkan keluarga Allah, bukan sekadar ikatan sosial?
3. Apakah identitas saya sebagai “keluarga Kristus” nyata dalam sikap, tindakan, dan kesetiaan, atau hanya sebatas label tanpa ketaatan?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Ya Bapa di surga,
ajarilah aku untuk tidak hanya mengaku sebagai anak-Mu,
tetapi sungguh hidup sebagai bagian dari keluarga-Mu. Tolonglah aku menundukkan kehendak pribadi
dan belajar taat dengan KASIH,
sehingga setiap langkahku mencerminkan kehendak-Mu. Di tengah dunia yang sibuk dan penuh godaan, kuatkan aku agar tetap setia,
meski jatuh aku mau bangkit kembali,
dan berjalan bersama-Mu sebagai keluarga yang Engkau kasihi. Amin.


