mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Orang Saduki mengalami kesesatan dalam logika, sehingga mereka salah kaprah tentang kebangkitan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga seperti orang Saduki? Atau bahkan mungkin kita gagal paham tentang kebangkitan? Semoga tidak demikian. Pada hari ini, Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Karolus Lwanga, dan Kawan-Kawan, Martir.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 12: 18 – 27, yakni pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan. Para saudaraku, kaum Saduki datang dengan logika yang tampak cerdas, tetapi sesungguhnya keliru. Mereka menganggap kebangkitan hanyalah kelanjutan hidup jasmani: kawin, warisan, silsilah. Maka mereka bertanya kepada Yesus dengan skenario absurd (tidak masuk akal) tentang seorang perempuan yang menikah dengan tujuh bersaudara. Jawaban Yesus tegas: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.” Kesalahan mereka bukan sekadar tidak percaya, melainkan menyusutkan Allah ke dalam kotak logika duniawi. Mereka membaca surga dengan kacamata daging, bukan dengan mata Roh. Paulus menulis: “Sebab mereka yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:5-6). Inilah inti persoalan: daging selalu ingin mempertahankan dunianya yang fana, sementara Roh membebaskan kita untuk melihat kehidupan kekal dalam kuasa Allah. Kebangkitan bukanlah hidup jasmani yang diulang, melainkan hidup dalam Roh, sebab daging telah hancur, tetapi Roh hidup dalam kemuliaan. Sebagai murid Yesus, kita pun bisa salah kaprah bila membayangkan surga dengan ukuran bumi: kursi goyang, dapur, atau kerinduan duniawi. Padahal kebangkitan berarti hidup dalam hadirat Allah, melampaui logika dan kebutuhan jasmani. Maka, agar tidak sesat seperti Saduki, maka kita harus: mengerti Kitab Suci bukan sekadar hafal ayat. Membiarkan akal budi tunduk pada kuasa Allah. Hidup oleh Roh setiap hari, seakan kita sudah dibangkitkan.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, jangan ukur surga dengan pita ukur bumi. Kaum Saduki gagal, karena mereka membawa neraca dunia ke hadapan Allah. Kita pun bisa gagal, bila sibuk berdebat tentang surga tetapi tidak merindukannya. Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Dan Anda, ya, Anda yang membaca renungan ini, Anda hidup bagi-Nya. Amin.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah saya masih mengukur surga dengan logika dunia dan kebutuhan jasmani yang fana?
2. Bagaimana saya hidup setiap hari dalam Roh, bukan menurut keinginan daging yang berujung pada maut?
3. Apakah iman saya sudah melampaui logika duniawi sehingga sungguh merindukan kebangkitan dan hidup kekal bersama Allah?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Allah orang hidup, ampunilah kami bila masih mengukur surga dengan logika dunia. Ajarlah kami hidup oleh Roh, bukan menurut daging yang fana. Teguhkan iman kami akan kuasa kebangkitan, agar setiap hari kami berjalan dalam terang-Mu dan merindukan hidup kekal bersama-Mu.Amin.




