mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Semalam-malaman Yesus Berdoa kepada Bapa-Nya sebelum Ia memilih para rasul-Nya. Semalam-malaman Yesus berdoa, menunjukkan betapa pentingnya berdoa. Tuhan saja berdoa semalam-malaman, harusnya kita lebih dari itu. Barangkali kita tidak semalam-malaman, tetapi cukuplah kita tekun dan rajin untuk berdoa setiap hari. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan pesta Santo Simon dan Santo Yudas, Rasul.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 6: 12 – 19, yakni Yesus memanggil 12 rasul dan Yesus mengajar serta menyembuhkan banyak orang. Para saudaraku, sebelum memilih dua belas rasul, Yesus tidak langsung bertindak. Ia naik ke bukit dan semalam-malaman berdoa kepada Bapa. Sebuah detail yang sederhana, tetapi sangat mendalam. Yesus, Sang Anak Allah, memilih menghabiskan malam dalam doa sebelum mengambil keputusan penting. Peristiwa ini mengajarkan bahwa doa bukanlah pelengkap kehidupan rohani, melainkan fondasinya. Sebelum melayani, Yesus berdoa. Sebelum memilih, Ia berdoa. Sebelum menghadapi tantangan, Ia berdoa. Dari keheningan bersama Bapa itulah lahir keputusan yang benar dan pelayanan yang membawa banyak orang kepada kesembuhan serta keselamatan. Sayangnya, kehidupan modern sering berjalan ke arah yang berbeda. Kita dapat menghabiskan berjam-jam di depan layar ponsel tanpa merasa bosan. Jari terus menggulir, mata terus menatap, dan waktu berlalu tanpa terasa. Namun ketika berada di hadapan Tuhan, hanya beberapa menit saja pikiran mulai mengembara dan HATI cepat merasa jenuh. Kita rela begadang untuk hiburan, tetapi sulit menyediakan waktu untuk doa. Kita lebih akrab dengan notifikasi daripada keheningan, lebih sering menatap layar daripada menatap Tabernakel. Di tengah budaya yang sibuk, bising, dan serba instan, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk berdiam diri di hadapan Tuhan. Padahal semakin sibuk hidup seseorang, semakin besar kebutuhannya akan doa, ibadat dan ekaristi. Doa, ibadat dan ekaristi, bukan membuang waktu, melainkan memberi arah bagi waktu. Doa, ibadat dan ekaristi bukan pelarian dari kenyataan, melainkan sumber kekuatan untuk menghadapi kenyataan. Karena itu, Injil hari ini mengajak kita untuk kembali menemukan “bukit” kita masing-masing: tempat dan waktu khusus untuk berjumpa dengan Tuhan. Bukan sekadar datang ketika ada masalah, tetapi karena kita menyadari bahwa tanpa Tuhan, keputusan terbaik sekalipun mudah kehilangan arah.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku,
banyak orang takut kehilangan sinyal internet, tetapi tidak sadar telah lama kehilangan sinyal dengan Tuhan. Kita rutin mengisi daya baterai ponsel setiap hari, tetapi sering lupa mengisi daya jiwa melalui doa, ibadat dan ekaristi. Hari ini, sebelum menggulir layar untuk terakhir kalinya, berhentilah sejenak. Datanglah kepada Tuhan. Sebab hidup tidak berubah karena banyaknya informasi yang kita terima, melainkan karena kedalaman relasi kita dengan Dia yang menjadi sumber kehidupan.
Pertanyaan Refleks
1. Apakah saya masih menyediakan waktu khusus setiap hari untuk berdoa dan berjumpa dengan Tuhan?
2. Ketika menghadapi keputusan atau masalah, apakah saya lebih dahulu berdoa atau langsung mengandalkan kemampuan sendiri?
3. “Bukit” apa yang perlu saya daki saat ini, yaitu waktu dan tempat hening yang saya sediakan untuk bersekutu dengan Tuhan?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus yang penuh kasih, Engkau telah memberi teladan dengan berdoa semalam-malaman kepada Bapa sebelum mengambil keputusan penting. Ajarlah kami untuk mengutamakan doa di tengah kesibukan dan berbagai tuntutan hidup. Berilah kami hati yang setia mencari kehendak-Mu, kekuatan untuk bertekun dalam doa, dan kebijaksanaan untuk berjalan sesuai dengan rencana-Mu. Semoga hidup kami semakin dekat dengan-Mu dan menjadi saluran berkat bagi sesama.
Amin.







