mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Sentuhan tangan Yesus dapat memulihkan kita, apapun kondisi yang kita alami. Syaratnya kita harus rendah HATI yang diwujudkan melalui kedua kaki kita sujud menyembah dan tersungkur di depan kaki Yesus, sembari memohon, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 8: 1 – 4. Para saudaraku, seorang kusta tersungkur di kaki Yesus, berkata lirih: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Ia tidak menuntut, hanya berserah. Dan Yesus, melawan stigma, mengulurkan tangan-Nya, menyentuh tubuh yang dianggap najis, lalu berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga ia sembuh, bukan hanya tubuhnya, tetapi juga martabat dan relasi sosialnya. Inilah Injil yang hidup: Yesus tidak menjaga jarak dari yang terbuang. Ia mendekat, menyentuh, memulihkan. Hari ini, kita mungkin tidak berhadapan dengan kusta fisik, tetapi kita mengenal dan mengalami kusta rohani: Kusta kesepian , hidup di tengah keramaian, namun HATI tetap sunyi. Kusta dosa, merasa terlalu kotor untuk datang kepada Tuhan. Kusta penolakan, luka masa lalu yang membuat kita merasa tak berharga. Kusta kemunafikan tampak saleh di luar, tetapi rapuh di dalam. Kusta keputusasaan iman yang goyah karena doa terasa tak dijawab. Semua ini menggerogoti jiwa, membuat kita merasa najis dan terbuang. Namun kabar baiknya: tangan Yesus tetap terulur. Ia tidak jijik dengan luka kita. Ia tidak menolak kelemahan kita. Ia hanya menunggu kita datang dengan rendah HATI, tersungkur di kaki-Nya, dengan berkata: “Tuhan, jika Engkau mau.” Iman sejati bukanlah iman yang memaksa Tuhan, melainkan iman yang percaya bahwa kasih-Nya selalu lebih besar daripada luka kita.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, nungkin Anda sedang berada di “gua kesunyian” Anda sendiri. Tetapi Yesus sedang lewat. Ia melihat Anda. Ia tahu luka Anda. Dan tangan-Nya siap menjamah. Sentuhan-Nya mengubah yang najis menjadi tahir, yang terbuang menjadi anak, yang mati menjadi hidup. Maka bangkitlah, hai jiwa yang tertekan. Pulanglah, hai anak yang tersesat. Karena di hadapan-Nya, tidak ada yang terlalu najis untuk dipulihkan.Yesus menunggu. Dan sentuhan-Nya selalu memulihkan.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah saya sungguh datang kepada Yesus dengan HATI yang rendah, berkata “Tuhan, jika Engkau mau,” ataukah saya masih ingin mengatur Tuhan sesuai keinginan saya?
2. Kusta rohani apa yang paling sering menggerogoti hidup saya, kesepian, dosa, penolakan, kemunafikan, atau keputusasaan? Bagaimana saya menghadapinya di hadapan Tuhan?
3. Apakah saya sungguh percaya bahwa sentuhan kasih Yesus mampu memulihkan bukan hanya luka batin saya, tetapi juga relasi, martabat, dan arah hidup saya?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus yang penuh KASIH,
kami datang tersungkur di kaki-Mu dengan segala kelemahan dan luka batin kami. Sentuhlah kami dengan tangan-Mu yang memulihkan,
agar kesepian, dosa, penolakan, kemunafikan, dan keputusasaan kami Kau ubah menjadi sukacita dan pengharapan baru.
Kami percaya, satu sentuhan-Mu cukup untuk menjadikan kami tahir dan kembali pulang sebagai anak yang Engkau kasihi.
Amin.



