mediasumatera.id – SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda termasuk orang ingin mau berubah atau orang yang enggan untuk berubah, dan ingin selalu mau berada di zona nyaman? Tuhan Yesus mau kita berubah, tetapi jangan berubah-ubah.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 7: 31- 35, yakni Yesus dan Yohanes Pembaptis. Dalam bacaan Injil hari ini,
Yesus menegur generasi yang keras hati dan enggan mau menerima kebenaran. Mereka mencurigai Yohanes karena asketis, dan menolak Yesus karena bersahabat dengan orang berdosa. Mereka tidak salah karena tidak tahu, tetapi karena mereka tidak mau tahu. Mereka tidak kekurangan kemampuan untuk berubah, tetapi mereka kekurangan kemauan.
Begitu pula dalam hidup kita. Diri yang enggan berubah seringkali kita punya niat, tetapi sayangnya tidak diikuti dengan tindakan. Kita seringkali menunda-nunda untuk berubah, bahkan kita menyalahkan keadaan, dan juga mungkin sering membandingkan kelemahan kita dengan kelemahan orang lain. Artinya kita tidak mau berubah karena orang lain tidak berubah. Jika itu yang terjadi, maka hati kita telah tertutup dan mengeras, serta membeo. Itu berarti pula, kita hidup dalam zona yang nyaman, membangun benteng dari alasan dan ketakberdayaan untuk berubah. Namun perubahan sejati lahir dari keterbukaan hati. Hati yang terbuka adalah tanda kecerdasan spiritual, kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan layak dilakukan, dan mana yang tidak perlu ditiru dari kelemahan orang lain. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tidak hanya tahu, tetapi juga bertindak. Ia tetap fokus pada tujuan hidupnya, dan tidak bergantung pada cara hidup orang lain. Ia menyadari bahwa hidupnya tidak perlu menuntut orang lain, tetapi menuntut dirinya sendiri agar menjadi inspirasi, dan bukan hanya opini. Dengan demikian, perubahan bukan soal bisa atau tidak bisa, tetapi soal mau atau tidak mau.
Orang yang berubah adalah orang yang memiliki growth mindset, siap belajar, siap bangkit, siap berubah atau juga siap bertobat.
Sebaliknya, diri yang enggan berubah adalah pemilik fixed mindset, yang asyik dengan dunianya sendiri karena sudah merasa cukup dan nyaman.
*Beberapa pertanyaan refleksi*:
1. Apakah aku sungguh mau berubah, atau hanya ingin terlihat berubah?
2. Apa yang selama ini aku salahkan sebagai penghalang, padahal itu hanya alasan?
3. Sudahkah aku membuka hati untuk belajar dari kebaikan orang lain?
4. Apakah aku sungguh terbuka untuk berubah, atau masih mencari alasan untuk tetap di zona nyaman?
5. Sudahkah aku memiliki kecerdasan spiritual untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak perlu ditiru dari kelemahan orang lain?


