“RENUNGAN HARIAN GKPI “TERANG HIDUP”
Senin, 09 Maret 2026
PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Kiranya damai, sukacita, dan pengharapan dari-Nya menyertai langkah hidup kita hari ini. Kita percaya: kita tidak pernah berjalan sendiri. Tuhan menyertai, menuntun, dan bekerja dalam setiap musim kehidupan kita. Bahkan ketika jalan terasa gelap, Tuhan sedang menyiapkan terang. Ketika kita lemah, Tuhan sedang menguatkan. Kita adalah orang-orang yang sangat dikasihi dan diingat oleh Tuhan.
Bagaimana kabar Saudara/i hari ini? Kiranya Saudara/i berada dalam kesehatan jasmani dan rohani, hati yang damai, serta sukacita yang melimpah. Renungan ini disampaikan oleh Amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th., sebagai penguatan iman bagi kita semua.
Tetapi sekarang juga, demikianlah firman TUHAN, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. (Yoel 2:12)
Terdapat contoh-contoh yang tak ideal, yang tak boleh ditiru di dalam praktek hidup ini. Tapi itu kenyataan atau gambaran kenyataan. Ada yang mengamati, bahwa dulu di Irak sebelum perang, para perempuan selalu berjalan di belakang suami mereka. Sesudah perang, mulailah pria-pria berjalan di belakang dan perempuan di depan. Mengapa demikian? Apa kesadaran akan hak-hak perempuan? Ternyata para prianya mau hindarkan diri dari ranjau darat.
Contoh lain yang tak ideal. Siapakah yang mendominasi bicara? Katanya, selama pacaran, laki-laki bicara dan perempuan mendengarkan. Setelah menikah, isterilah yang bicara dan suami mendengarkan. Sesudah beberapa tahun kemudian, suami dan isteri sama-sama bicara, dan tetanggalah yang mendengarkan.
Dalam kenyataan yang tak ideal itu, perenungan sebagai ciri kepercayaan dan spiritualitas menjadi sangat hakiki. Demikian juga tradisi berpuasa, walaupun tidak merupakan sesuatu yang wajib.
Di Israel, berbeda dengan agama-agama lain, puasa bukanlah merupakan sesuatu acara matiraga atau askese. Puasa itu bukanlah juga terutama soal tidak makan dan minum (Ul. 8:3; Mat. 15:32; Mrk. 8:3), walaupun unsur itu ada juga.
Berpuasa terutama ialah merendahkan jiwa sendiri, menyatakan sikap ketergantungan dari Allah (Im. 16:29-31). Maka puasa dipraktekkan sebagai persiapan untuk berjumpa dengan Allah (Kel. 34:28; Dan. 9:3), untuk menyatakan ratap pribadi (1Sam. 31:13) atau untuk memohon suatu karunia (2Sam. 12:16,22, Yoel 2:12-17), untuk memohon pengampunan kolektif atau individual (1Raj. 21:27; Yun. 3:5,7,8), terang ilahi (Dan. 10:3,13), dan sebelum memulai suatu misi (Hak. 20:26; Kis. 14:23).
Puasa tak terpisahkan dari sedekah dan doa (Mat. 6:2-4,5-8,16-18; 17:21; Luk. 2:37; Kis. 13:3). Puasa mengandaikan kasih kepada kaum miskin (Yes. 58:3-7; Yoel 2:16). Yesus juga berpuasa. Puasa Yesus di padang gurun ialah suatu tindakan penyerahan diri yang penuh pengharapan terhadap Allah Bapa, pada saat Yesus memulai misi-Nya (Mat. 4:2). (Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru).
Hal-hal mengenai berpuasa dipahami sebagai yang tidak diperintahkan secara spesifik oleh Yesus tetapi juga tidak dilarang oleh Firman Allah, tetapi dipraktekkan orang percaya karena diyakini membantu dalam kedisiplinan iman.
Yesus sendiri berpuasa, yaitu pada saat Yesus memulai misi-Nya (Mat. 4:2). Hal ini menunjukkan puasa itu sebagai tindakan penyerahan diri yang penuh pengharapan terhadap Allah Bapa. Dan, Gereja Perdana pun berpuasa (Kis. 13:2; 2Kor. 6:5, 11:27). Sebelum dibaptiskan, Paulus berpuasa (Kis. 9:9). Mrk. 2:18 dst. mencerminkan praktek puasa dalam jemaat. Murid-murid Yesus dipersalahkan karena tidak berpuasa (Mrk. 2:18), tidak seperti murid-murid Yohanes Pembaptis. Jawab Yesus dalam Markus (2:19-20) adalah bahwa murid-murid-Nya akan berpuasa bila “mempelai laki-laki diambil dari mereka”.
Sebagaimana Nabi Yesaya menekankan bahwa puasa tanpa pertobatan tidak akan membawa hasil apapun (Yesaya 58:1-14), baik juga kita ingat arah yang disampaikan Yesus dalam percakapan yang direkam dalam Markus 7: 1-8. Pemimpin-pemimpin Yahudi menanyai Yesus mengenai tingkah laku murid-murid yang melanggar adat-istiadat karena makan dengan tangan najis (Mrk. 7: 1-5; makan atau pulang dari pasar akan lakukan “ritual” basuh diri: Im. 11-16). Yesus menjawabnya dengan pertama-tama mengkritik adat istiadat Yahudi (ay. 6-13), dan kedua, memberi penjelasan kepada orang banyak dan murid-murid tentang kenajisan yang sesungguhnya (ay. 14-23).
Yoel 2:12 adalah pemberitahuan Tuhan mengenai kemungkinan lain dari kehancuran yang mengancam. Bahwa Hari Tuhan bukan kesedihan. Hal ini memberi pengharapan kepada umat yang telah menderita oleh kesusahan dan berpikir tentang hal yang lebih buru lagi. Apa yang disarankan Nabi Yoel? Umat diminta untuk melakukan pertobatan dengan segenap hati, dengan berpuasa, dengan menangis, dan dengan mengaduh. Mengorientasikan segenap pikiran dan kepetusan kepada Tuhan. Allah adalah Pemurah, penuh belas kasih, ramah dan mengampuni. Umat ditantang untuk kembali kepada Tuhan. Hanya dengan demikian akan ada berkat.
Lagu: BE 125: 1,2 “Marlas ni roha hita on” // KJ 443: 1,2 “Kau Sukacita”
DOA: Ya Bapa, penuhi kami dengan pikiran dan kwehendak-Mu, tuntun kami merenungkan kasih-Mu. Ketika kami keliru dan salah jalan, ampuni kami ya Tuhan, tuntun kami berbalik dan mengarahkan seluruh pikiran kami kepada-Mu. Amin.
Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.
Amin.
(VIP)





