Ketika Terang Menjadi Identitas Hidup

Ketika Terang Menjadi Identitas Hidup

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Suasana ibadah Minggu Letare di GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar pada Minggu, 15 Maret 2026, berlangsung penuh sukacita, pengharapan, dan perenungan yang mendalam. Di tengah proses renovasi rumah ibadah yang masih berjalan, jemaat tetap datang dengan kerinduan yang tulus untuk bersekutu memuji Tuhan.

Pada hari Minggu Letare ini menjadi momen yang sangat dinanti-nantikan. Setelah sekian waktu menantikan penyelesaian renovasi gereja, jemaat akhirnya dapat kembali memasuki rumah ibadah dengan hati yang penuh sukacita. Seakan-akan Tuhan sendiri sedang menanam benih iman yang baru di hati umat-Nya, memperbarui semangat pelayanan dan kebersamaan jemaat di kota Pematangsiantar.

Ibadah dimulai dengan alunan pujian dari Kidung Jemaat yang diiringi dengan lembut oleh Inang A. br. Sihombing, bersama pemimpin paduan suara Inang E.E. br. Sitorus dan Inang V. br. Silalahi. Nada-nada yang mengalun perlahan membawa jemaat masuk dalam suasana teduh dan khidmat. Banyak mata terpejam, banyak hati tersentuh, seakan setiap lagu menjadi doa yang naik ke hadirat Tuhan.

Liturgi dipimpin dengan penuh ketenangan oleh Amang Pnt. R. Lumbantobing, dilanjutkan dengan pembacaan epistel dari 1 Samuel 16:1–13, yang mengingatkan jemaat bahwa Tuhan tidak melihat apa yang dilihat manusia, tetapi melihat hati.

Puncak ibadah terjadi ketika Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Tubiran MT Simamora, M.Th., dengan tema yang sederhana namun penuh makna: “Hidup Sebagai Anak Terang”, berdasarkan Firman Tuhan dari Efesus 5:8–14.

Dalam khotbahnya, beliau mengajak jemaat melihat realitas dunia yang semakin sibuk oleh ambisi, kepentingan, dan keegoisan manusia. Dalam hiruk-pikuk zaman itu, manusia sering lupa pada panggilan paling mendasar dari Tuhan: menjadi terang.

“Terang bukan hanya tentang mengetahui kebenaran,” ujar beliau dengan suara yang tenang namun tegas.
“Terang adalah ketika hidup kita sendiri menjadi kesaksian tentang kebenaran itu.”

Baca Juga :  Mengasihi Bukan NARASI, Tetapi AKSI

Firman Tuhan berkata:

Efesus 5:8 : “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.”

Menurut beliau, terang bukan sekadar simbol rohani. Terang adalah identitas hidup orang percaya. Ia harus terlihat dalam perbuatan, dalam sikap, dan dalam cara seseorang memperlakukan sesamanya.

Namun terang tidak dapat dipancarkan dari hati yang terpaksa. Kebaikan yang dilakukan karena kewajiban atau tekanan tidak pernah benar-benar menjadi terang.

Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:7 menegaskan:

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

Khotbah itu juga mengingatkan jemaat bahwa kemegahan dunia tidak selalu berarti kebenaran. Dalam sejarah Alkitab, kota besar seperti Ephesus pernah terkenal dengan kemegahan kuil bagi Artemis, yang juga dikenal sebagai Dewi Diana. Namun di balik kemegahan itu, banyak orang hidup dalam kegelapan rohani.

Karena itu, identitas orang percaya tidak ditentukan oleh kemegahan tempat atau status sosial, melainkan oleh buah kehidupannya.

Firman Tuhan berkata dalam Efesus 5:9: “Karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.”

Terang itu terlihat ketika seseorang menolong tanpa pamrih, ketika keadilan ditegakkan meski tidak mudah, dan ketika seseorang tetap setia kepada Tuhan dalam segala keadaan.

Lebih jauh lagi, kehidupan jemaat dipanggil untuk saling melengkapi. Yang kuat menopang yang lemah. Yang berkecukupan menolong yang kekurangan. Yang mampu mengangkat mereka yang hampir menyerah.

Seperti yang diingatkan dalam Galatia 6:2: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Ibadah Minggu Letare itu akhirnya sampai pada penutupnya, tetapi pesan yang ditinggalkan tetap tinggal dalam hati jemaat.

Setelah Firman Tuhan disampaikan, ibadah dilanjutkan dengan sebuah momen yang penuh makna bagi kehidupan jemaat, yaitu acara Penetapan Calon Penatua Baru di GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar.

Baca Juga :  Per Mariam Ad Jesum

Ketika Terang Menjadi Identitas Hidup

Dengan penuh khidmat, jemaat menyaksikan penetapan dua orang calon penatua dari Sektor Estomihi, yaitu Inang Sorta Rumondang br. Hutagalung dan Inang Ernita br. Simanjuntak. Momen ini menjadi tanda kepercayaan gereja kepada mereka untuk mengambil bagian dalam pelayanan dan penggembalaan jemaat.

Di hadapan Tuhan dan seluruh jemaat yang hadir, penetapan ini menjadi pengingat bahwa pelayanan di gereja bukan sekadar jabatan, melainkan sebuah panggilan untuk melayani dengan kerendahan hati, kesetiaan, dan kasih kepada sesama.

Jemaat pun menyambut penetapan tersebut dengan doa dan sukacita, berharap agar kedua calon penatua yang telah ditetapkan dapat diperlengkapi oleh Tuhan dengan hikmat, kekuatan, dan ketekunan dalam menjalankan tugas pelayanan di tengah jemaat.

Momen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa gereja terus bertumbuh bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui lahirnya para pelayan Tuhan yang siap mengabdikan diri bagi pekerjaan-Nya di tengah jemaat.

Pelayanan Ibadah:
• Warta Jemaat & Doa Syafaat: Inang C.Pnt. I br Siagian
• Song leader/ Pujian: Inang E.E br Sitorus dan Inang V br Silalahi
• Organis: Inang S br Siregar
• Persembahan: Amang Pnt. J Sipayung & Inang Pnt. C br Lubis
• Penerimaan Tamu: Amang A Lubis & Amang C.Pnt, Victor Asido Elyakim P

Ibadah pun berakhir dalam suasana penuh sukacita. Jemaat pulang dengan hati yang hangat, saling bersalaman satu sama lain, berbagi senyum dan sapaan yang tulus. Kebersamaan sederhana itu terasa begitu berharga, seolah mengingatkan kembali bahwa gereja bukan sekadar bangunan, melainkan persekutuan umat yang saling menguatkan dalam kasih Kristus.

Kehadiran jemaat pada ibadah Minggu Letare tersebut juga menunjukkan antusiasme yang sangat besar. Tercatat sebanyak 234 orang jemaat hadir mengikuti ibadah dengan penuh khidmat. Jumlah ini menjadi angka yang sangat signifikan dan luar biasa, terutama di tengah situasi gereja yang masih dalam proses renovasi.

Baca Juga :  renungan hari ini: Hidup Yang Dipersembahkan Kepada Tuhan

Kehadiran yang begitu banyak itu menjadi bukti nyata bahwa kerinduan jemaat untuk bersekutu dan beribadah kepada Tuhan tidak pernah pudar. Justru di tengah keterbatasan fasilitas, semangat iman jemaat di GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar semakin terlihat kuat.

Ketika Terang Menjadi Identitas Hidup

Di halaman GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar, percakapan-percakapan kecil masih terdengar. Ada harapan yang sama terucap di hati banyak jemaat: kerinduan agar suatu hari nanti mereka dapat kembali beribadah seperti semula, berkumpul bersama dengan lebih leluasa di rumah Tuhan yang telah diperbarui.

Namun di balik kerinduan itu, tersimpan keyakinan yang teguh bahwa Tuhan sedang bekerja melalui setiap proses yang dijalani gereja saat ini. Renovasi bangunan mungkin masih berjalan, tetapi iman jemaat tetap berdiri kokoh.

Dan dari kota Pematangsiantar itu, Minggu Letare tahun ini meninggalkan satu pesan yang sederhana namun mendalam: ketika umat Tuhan tetap setia berkumpul dan memuji-Nya, di situlah terang Kristus terus menyala, menerangi hati dan kehidupan banyak orang.

Ketika Terang Menjadi Identitas Hidup

Bagi jemaat dan donatur yang tergerak untuk memberikan bantuan bagi renovasi GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar, dapat menyalurkan donasi melalui:

Rekening Donasi:
🏦 Bank: Bank SUMUT
💳 Nomor Rekening: 22002040465521
📌 Atas Nama: PANPEM GKPI JK Immanuel

Setiap dukungan yang diberikan, baik besar maupun kecil, akan sangat berarti bagi pembangunan rumah Tuhan. Tuhan memberkati setiap tangan yang memberi dengan sukacita.

 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu ”

(2 Korintus 9:7–8)

Soli Deo Gloria.

(VIP)