renungan hari ini: Hidup Yang Dipersembahkan Kepada Tuhan

renungan hari ini: Hidup Yang Dipersembahkan Kepada Tuhan

mediasumatera.id – SALVE bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Sudahkah hidup Anda dipersembahkan kepada Tuhan? Hal ini diwujudkan lewat setia dan konsisten dalam doa, ibadat dan ekaristi, seperti Hana, nabi perempuan yang selalu ada di Bait Allah.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 2: 36 – 40, yakni Yesus disunat dan diserahkan kepada Tuhan – Simeon dan Hana. Bacaan Injil hari ini merupakan kelanjutan dari perikop Injil hari kemarin. Dalam bacaan Injil hari ini, kita berjumpa dengan Hana, seorang nabi perempuan yang hidupnya menjadi teladan tentang persembahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Usianya yang lanjut tidak menghalangi komitmen, kesetiaan, dan orientasi hidupnya yang tertuju hanya kepada Allah. Dari Hana kita belajar bahwa hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan tidak mengenal batas usia, melainkan ditentukan oleh HATI yang setia. Hidup yang dipersembahkan berdasarkan teladan hidup Hana, sebagai berikut: Pertama Dipersembahkan dalam Kesetiaan (ibadat yang konsisten). Hana “tidak pernah meninggalkan Bait Allah” dan “siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.” Kesetiaan, dan komitmen ini, menunjukkan disiplin rohani yang konsisten. Baginya, mempersembahkan hidup berarti menjadikan Tuhan sebagai prioritas utama. Kesetiaan, dan komitmen dalam doa dan ibadah adalah fondasi hidup yang benar-benar dipersembahkan. Kedua Dipersembahkan dalam Penantian (harapan yang tertuju pada janji Tuhan). Hana termasuk di antara mereka yang “menantikan penebusan Yerusalem.” Penantiannya bukan pasif, melainkan aktif diisi dengan ibadah. Hidup yang dipersembahkan adalah hidup yang berpengharapan, percaya bahwa Tuhan setia pada janji-Nya. Penantian yang sabar dan penuh iman menjadikan hidup kita semakin terarah kepada Allah. Ketiga Dipersembahkan dalam Kesaksian hidup Ketika Hana akhirnya melihat Yesus, Sang Mesias, ia segera “mengucap syukur” dan “berkata-kata tentang Anak itu.” Hidup yang dipersembahkan tidak berhenti pada doa dan penantian, tetapi berbuah dalam kesaksian. Puncak persembahan hidup adalah memuliakan Tuhan dan membagikan Kristus kepada orang lain. Demikianlah
Hana seorang nabi perempuan menunjukkan bahwa mempersembahkan hidup bukanlah soal kesempurnaan, melainkan soal arah dan kesetiaan. Selama 84 tahun ia membangun perjalanan rohani dengan komitmen, doa, ibadah, pengharapan, dan akhirnya kesaksian

Baca Juga :  *Tegurlah Di Bawah Empat Mata*

Bagaimana dengan kita?. Tuhan tidak meminta kita untuk tinggal di Bait Allah, tetapi Ia menghendaki agar seluruh HATI, PIKIRAN, dan HIDUP kita dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya, melalui doa, ibadat dan ekaristi. Namun tidak berhenti di sini, melainkan harus berbuah dalam kesaksian hidup yang baik dan benar sebagai murid Yesus. Ingatlah, menjadi saksi Kristus tidak mengenal usia, tidak juga harus selalu berkotbah, tetapi melalui teladan hidup yang menarik dan memikat banyak orang kepada Tuhan.

Pertanyaan refleksi:

1. Kesetiaan: Apakah doa, ibadah, dan ekaristi sudah menjadi prioritas utama dalam hidup saya, seperti kesetiaan Hana di Bait Allah?
2. Penantian: Dalam hal apa saya sedang menantikan janji Tuhan, dan bagaimana saya mengisi penantian itu dengan iman yang aktif?
3. Kesaksian: Bagaimana saya dapat menjadi saksi Kristus melalui teladan hidup sehari-hari, sehingga orang lain tertarik untuk mengenal Tuhan?
Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan yang setia,
kami belajar dari Hana, hamba-Mu yang mempersembahkan hidupnya sepenuhnya kepada-Mu. Ajarlah kami untuk setia dalam doa, ibadah, dan ekaristi, serta teguhkan kami dalam penantian akan janji-Mu, dan berani bersaksi tentang Kristus melalui teladan hidup kami. Terimalah seluruh HATI dan HIDUP kami sebagai persembahan bagi kemuliaan-Mu. Amin.