MENATA ULANG PRIORITAS HIDUP KITA

MENATA ULANG PRIORITAS HIDUP KITA

RENUNGAN HARIAN GKPI “TERANG HIDUP

Jumat, 27 Maret 2026

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Kiranya damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan dari Tuhan perlahan mengalir memenuhi hati kita, bahkan di saat kita merasa lelah, kosong, atau tidak baik-baik saja.
Hari-hari ini kita sedang berjalan dalam masa Pra Paskah…
sebuah perjalanan sunyi yang mengajak kita untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan.
Di tengah kesibukan, mungkin kita sering lupa, bahwa ada hati yang perlu dipulihkan, ada luka yang perlu diserahkan, dan ada hubungan dengan Tuhan yang perlu diperdalam kembali.
Pra Paskah bukan hanya tentang menunggu hari kemenangan…
tetapi tentang berani melihat ke dalam diri.
Apakah hati kita masih sungguh mengasihi Tuhan?
Atau justru mulai dingin karena kecewa, lelah, dan beban hidup?
Apakah iman kita masih menyala… atau hanya tersisa sebagai kebiasaan tanpa rasa?
Sering kali kita tersenyum di luar, tetapi di dalam hati kita sedang rapuh.
Kita terlihat kuat di depan orang lain, tetapi diam-diam kita sedang berjuang sendirian.
Namun hari ini Tuhan mengingatkan kita…
bahwa kita tidak pernah sendiri.
KasihNya tidak berubah, bahkan ketika kita menjauh.
PelukanNya tetap terbuka, bahkan ketika kita merasa tidak layak.
Bagaimana kabar Saudara/i hari ini?
Apapun keadaanmu, baik sedang bersukacita, berduka, atau sedang berjuang dalam diam, Tuhan melihat setiap air mata yang mungkin tidak pernah dilihat orang lain.
Dia mengerti setiap pergumulan yang tidak sempat terucap.
Renungan ini disampaikan oleh Amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th., sebagai penguatan iman bagi kita semua.
Kiranya melalui masa Pra Paskah ini, kita tidak hanya berjalan… tetapi benar-benar kembali.
Kembali kepada Tuhan dengan hati yang hancur namun rindu dipulihkan.
Kembali dengan iman yang mungkin kecil, tetapi ingin kembali menyala.

Baca Juga :  Kekuatan Doa

“Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!” (Hagai 1:5–6)

Saudara-saudara terkasih dalam Tuhan, Ada masa dalam hidup ketika kita merasa sudah bekerja keras, tetapi hasilnya seakan tidak sebanding. Sudah menabur banyak, tetapi menuai sedikit. Sudah berjuang tanpa lelah, tetapi hati tetap kosong. Inilah gambaran yang disampaikan Nabi Hagai kepada bangsa Israel.

Saat itu, umat Tuhan sibuk membangun rumah mereka sendiri, tetapi rumah Tuhan terbengkalai. Mereka menomorsatukan kepentingan pribadi dan menunda perkara Tuhan. Akibatnya, mereka mengalami kekeringan bukan hanya secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Tuhan pun menegur mereka dengan satu kalimat penting: “Perhatikanlah keadaanmu!”

Firman ini adalah panggilan untuk berhenti sejenak dan melakukan refleksi. Apakah kelelahan kita hari ini terjadi karena kita terlalu sibuk mengejar hal-hal duniawi? Apakah kekosongan yang kita rasakan karena Tuhan tidak lagi menjadi pusat hidup kita?

Sering kali kita berpikir bahwa berkat identik dengan kelimpahan materi. Namun Hagai mengingatkan bahwa tanpa penyertaan Tuhan, segala jerih payah bisa terasa sia-sia. Kita bisa memiliki banyak, tetapi tetap tidak puas. Kita bisa sibuk, tetapi kehilangan damai. Kita bisa berhasil, tetapi kehilangan makna.

Tuhan tidak menegur untuk menghukum, melainkan untuk memulihkan. Ia mengundang umat-Nya kembali menata prioritas: mendahulukan Tuhan, membangun kembali “rumah-Nya”, yaitu kehidupan rohani yang berkenan kepada-Nya. Ketika Tuhan menjadi yang utama, maka segala sesuatu menemukan tempatnya yang benar.

Baca Juga :  Orang Lumpuh Disembuhkan Yesus

Bagi kita sebagai warga GKPI, firman ini juga menjadi panggilan gerejawi. Apakah pelayanan kita lahir dari kasih kepada Tuhan atau sekadar rutinitas? Apakah keluarga kita dibangun di atas doa dan firman, atau hanya di atas ambisi dan pencapaian? “Perhatikanlah keadaanmu!” adalah ajakan untuk evaluasi diri. Tuhan rindu kita tidak hanya berhasil secara lahiriah, tetapi juga bertumbuh dalam iman, kasih, dan ketaatan.

Marilah kita kembali menempatkan Tuhan sebagai pusat hidup, pusat keluarga, dan pusat pelayanan kita. Ketika Tuhan menjadi yang terutama, maka hidup tidak lagi kosong. Jerih payah kita tidak sia-sia. Hati kita dipenuhi damai dan sukacita yang sejati.

Renungan:
Ketika Tuhan kembali menjadi prioritas utama kita, maka jerih payah kita tidak lagi sia-sia dan hidup kita dipenuhi makna serta damai sejahtera. Karena hidup yang diberkati bukanlah hidup yang paling sibuk, tetapi hidup yang menempatkan Tuhan di tempat yang terutama. Karena itu marilah kita membangung kembali hubungan yang baik dengan Tuhan, maka Dia akan membangun kembali makna dan kepenuhan yang sesungguhnya di dalam hidup kita. Kiranya terang firman Tuhan hari ini menuntun kita untuk hidup dengan prioritas yang benar dan hati yang berfokus kepada-Nya.

Lagu:
KJ No. 363:1-2
“Bagi Yesus kuserahkan”

Doa:
Ya Tuhan Allah kami, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk memperhatikan keadaan hidup kami. Ampuni kami jika kami sering lebih sibuk membangun kepentingan sendiri dan melupakan Engkau. Tolonglah kami menata kembali prioritas hidup kami, agar Engkau selalu menjadi yang terutama. Penuhi hati kami dengan kasih, damai, dan kerinduan untuk hidup seturut kehendak-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Baca Juga :  Berdoa Dengan Tidak Jemu-jemu

Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.

Amin.

(VIP)