Kalau Tidak Berubah, Kita Melewatkan Makna Salib

Kalau Tidak Berubah, Kita Melewatkan Makna Salib

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Nuansa pagi yang penuh sukacita dan kehangatan iman menyelimuti jemaat GKPI Jemaat Khusus Immanuel pada Minggu, 05 April 2026 pukul 09.00 WIB. Bertempat di gereja tersebut, ibadah Paskah berlangsung dengan semangat yang tidak surut, meskipun sebagian besar jemaat telah lebih dahulu mengikuti Ibadah Subuh sejak pukul 05.30 WIB.

Kelelahan seakan sirna, tergantikan oleh kerinduan untuk kembali memuji dan memuliakan Tuhan. Wajah-wajah jemaat memancarkan kebahagiaan, menandakan bahwa Paskah bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momen iman yang hidup dan menguatkan hati.

Ibadah dimulai dengan lantunan pujian dari Kidung Jemaat yang menggema penuh khidmat di seluruh ruangan gereja. Suasana semakin hidup melalui pelayanan musik yang dipersembahkan dengan penuh ketulusan oleh Inang B. br Parapat dan Inang E.E. br Sitorus, yang memimpin nyanyian jemaat dengan penuh penghayatan. Alunan nada semakin indah dan menyentuh hati saat Inang A. br Sihombing mengiringi dengan permainan organ yang merdu, menghadirkan harmoni yang membawa jemaat larut dalam pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

Kalau Tidak Berubah, Kita Melewatkan Makna Salib

Dalam pelaksanaan Ibadah Minggu Paskah I yang disatukan antara ibadah pagi dan siang, pelayanan firman dan tata ibadah dipercayakan kepada para pelayan Tuhan yang dengan setia menjalankan tugasnya.

Sebagai liturgis, ibadah dipimpin oleh Inang Pnt. D. br. Gultom, yang menuntun jalannya ibadah dengan penuh khidmat. Doa syafaat disampaikan oleh Amang Pnt. P.H. Turnip, yang dengan penuh penghayatan mendoakan jemaat dan seluruh pergumulan kehidupan.

Pada bagian persembahan, pelayanan dilakukan oleh:
– Pnt. A. Sinaga
– Pnt. R. br. Lbn. Tobing
– Pnt. P. br. Simbolon
– Pnt. U. Marpaung

Sementara itu, jemaat yang hadir disambut dengan ramah oleh para penerima tamu, yakni:
– Pnt. C. br. Lubis
– Pnt. N. br. Marbun
Seluruh rangkaian pelayanan ini menunjukkan kebersamaan dan kekompakan jemaat dalam memaknai sukacita Paskah dengan hati yang tulus dan penuh iman.Kalau Tidak Berubah, Kita Melewatkan Makna Salib

Baca Juga :  Renungan Setelah Lima Hari CERAWeek, Pertemuan Dunia Soal Energi, di Amerika Serikat, 23–27 Maret 2026

Dalam penyampaian firman Tuhan, Amang Pdt. S.P Hutagalung, S.Th menegaskan bahwa Paskah bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan inti dari seluruh Injil dan dasar keselamatan orang percaya.

“Jika kematian Kristus tidak diikuti kebangkitan, maka semuanya menjadi sia-sia. Tetapi justru di situlah kuasa Allah dinyatakan secara sempurna,” ungkap beliau dengan penuh penekanan.

Kalau Tidak Berubah, Kita Melewatkan Makna Salib

Paskah: Dari Perjanjian Lama hingga Pengorbanan Kristus
Dalam penjelasannya, beliau mengingatkan bahwa makna Paskah sudah dimulai sejak zaman Perjanjian Lama, ketika Allah “melewatkan” (pass over) umat Israel dari hukuman di Mesir.
Namun dalam Perjanjian Baru, makna itu mencapai puncaknya:
* Bukan lagi darah anak domba
* Tetapi pengorbanan sempurna melalui Yesus Kristus
“Yesus adalah korban yang kudus, tidak bercacat, yang diberikan Allah sebagai wujud kasih-Nya yang terbesar,” jelasnya.
Kebangkitan Kristus: Fakta, Bukan Cerita
Mengacu pada tulisan Rasul Paulus, ditegaskan bahwa kebangkitan Yesus bukan mitos, tetapi fakta sejarah:
* Menampakkan diri kepada Kefas (Petrus)
* Kepada 12 murid
* Bahkan kepada lebih dari 500 orang sekaligus
* Hingga kepada Paulus sendiri
“Tidak ada alasan untuk tidak percaya. Kebangkitan Kristus adalah dasar iman kita,” tegasnya.
Kasih Karunia: Diberikan Cuma-Cuma, Bukan Karena Usaha
Salah satu pesan terkuat dalam renungan ini adalah tentang kasih karunia Allah.
Menurut Paulus, keselamatan bukan karena usaha manusia, melainkan pemberian cuma-cuma dari Allah.
“Ini bukan hasil perbuatan baik kita, tetapi kasih Allah yang luar biasa bagi manusia,” ujarnya.
Jangan Hidup “Rata-Rata”! Ini Pesan yang Menggugah
Dalam bagian yang paling menyentuh, amang Pdt. S.P Hutagalung, S.Th mengangkat ilustrasi sederhana tentang kehidupan “rata-rata”.
Ia menyebut bahwa hidup biasa-biasa saja adalah kondisi yang paling menyedihkan.
“Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup biasa. Tuhan mau kita hidup di atas rata-rata!”
Mengacu pada Injil Matius 5:43–48, ia menegaskan bahwa:
* Mengasihi orang yang mengasihi kita → itu biasa
* Tetapi mengasihi musuh → itu luar biasa
Paskah Harus Mengubah Hidup, Bukan Sekadar Dirayakan
Pesan utama yang ditekankan:
– Paskah bukan seremoni
– Paskah adalah perubahan hidup
– Paskah membuka mata rohani
“Jika kita sungguh memahami Paskah, hidup kita pasti berubah. Keluarga kita berubah. Gereja menjadi terang bagi dunia.”

Baca Juga :  Pribadi Yang Malas Dan Jahat

Kalau Tidak Berubah, Kita Melewatkan Makna Salib

 

Di akhir khotbahnya, amang Pdt. S.P Hutagalung, S.Th mengajak jemaat untuk tidak hanya melihat penderitaan salib, tetapi juga kemenangan di baliknya:
* Pengampunan dosa
* Kasih karunia
* Hidup kekal
* Pengharapan masa depan
“Kematian bukan lagi akhir, tetapi jalan menuju kehidupan kekal karena kebangkitan Kristus.”

Perayaan Paskah tahun ini ditutup dengan ajakan yang kuat:
* Hidup lebih baik dari sebelumnya
* Mengasihi lebih dalam
* Menjadi terang di keluarga dan masyarakat
“Karena Allah sudah memberikan yang terbaik bagi kita, maka mari kita juga memberikan yang terbaik dalam hidup kita.”

Amin.

(VIP)