Samosir, mediasumatera.id – Seiring berjalannya waktu, perubahan menjadi sesuatu yang abadi. Segala sesuatunya penuh dengan pengharapan demi keadaan yang lebih baik.
Ditengah-tengah masyarakat terbangun interaksi antar sesama warga, antar warga dengan lingkungannya, warga dengan pemimpinnya. Sesama warga masyarkat melakukan interaksi sosial, ada yang bersifat formal dan informal. Ikatan komunitas dapat berjalan dengan atas dasar kemauan masing-masing tanpa tatanan yang mengikat. Cara silahturahmi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tidak tergerus oleh zaman.
Kehidupan sosial di daerah perkotaan berlangsung dengan dinamika yang tinggi. Ikatan persaudaraan mengalami perubahan seiring dengan bobot aktivitas individu. Perasaan satu bangsa tidak jarang terlupakan sebagai akibat berbagai kebutuhan yang sangat mendesak.
Masyarakat perkotaan masih membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan peluang dan harapan akan hidup yang lebih baik. Kegusaran timbul di saat kebutuhan dasar tidak tersedia dengan cukup dan tidak terjangkau.
Pemimpin menempuh berbagai kebijakan agar warga masyarakat merasa nyaman dan tercipta harmoni. Tidak jarang lahir keputusan yang kurang mendidik dan membangun, terkesan terlalu baik karena misi tertentu, alias pragmatisme berfikir untuk suatu kepentingan sesaat, kekuasaan.
Dalam jangka pendek, keputusan tersebut dianggap mampu meredam kegundahan warga. Strata sosial secara almiah menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan, ada yang mapan, kelas menengah, dan marginal.
Kelas masyarakat sudah mapan dari berbagai aspek kehidupan, tentu relatif lebih mudah menjangkau apa saja yang menjadi keinginannya. Disisi lain, kaum marginal, dengan berbagai keterbatasannya selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang sangat sulit unhuk menjangkaunya.
Bagaimana pula potret masyarakat perdesaan? Secara hirarki sosial tidak jauh berbeda denga masyarakat perkotaan, ada kelas atas, menengah, dan bawah. Perbedaan yang mencolok adalah dari sisi interaksi sosial, sumber-sumber kehidupan, pemikiran, dan harapan.
Pada umumnya warga desa relatif homogen, baik budaya maupun sumber kehidupan. Dari sisi komunikasi dan interaksi sosial lebih mudah, walaupun sering terjadi kurang produktif. Sering kali waktu banyak yang terbuang hanya membicarakan sesuatu yang tidak terkait dengan perbaikan kehidupannya.
Pada umumnya, warga perdesaan masih jauh dari kecukupan kehidupan sehari-hari: makan-minum, tempat tinggal, air bersih, kesehatan, pendidikan.
Pemikiran dan wawasan yang masih terbatas makin mempersulit posisi warga desa menyongsong modernisasi. Tidak jarang waktu berlalu tanpa ada perbaikan, hidup apa adanya menjadi nikmat tersendiri. Sebagian dari warga desa hanya melalui moment hidup sekedar bagian dari takdir.
Masyarakat sadar tidak sadar butuh orang yang mampu menggerakkan mereka ke arah hidup yang lebih baik. Pengharapan itu makin nyata pada saat kegusaran hidup menimpa mereka.
Pada era zaman teknologi canggih, hampir tidak ada hambatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan pemimpinnya. Lahirnya pemimpin hampir sulit diprediksi terutama pemimpin formal. Pemimpin informal lahir seiring dengan berjalannya waktu.
Sistem lahirnya pemimpin di negeri ini sarat dengan berbagai motivasi, walau secara umum visinya sama: mensejahterakan masyarakat. Lahirnya pemimpin diatur dengan kontitusi. Namun, tidak jarang, cara yang ditempuh para calon pemimpin penuh dengan kreativitas, inovasi dan intrik.
Lahirnya pemimpin tidak dapat dipisahkan dengan “financial capital” dan “social capital”. Persoalannya, mana dari dua amunisi tersebut yang lebih dominan. Sampai saat ini masih sulit dibuktikan apakah ada calon pemimpin yang lebih mengedepankan “financial capital” dibandingkan “social capital”, atau sebaliknya atau dua-duanya.

Secara naluriah, pemimpin yang lahir atas dasar “social capital” lebih mumpuni untuk membahagiakan warga masyarakat. Atas dasar kepercayaan dari warga dan hutang budi pada warganya memungkinkan pemimpin tersebut hadir secara fisik dan non fisik di tengah-tengah masyarakat. Atas dasar kasih, pemimpin tulus dan ikhlas mendengar denyut jantung dan melayani warganya.
Jika bertindak sebagai pejabat maka beberapa poin berikut perlu menjadi pusat perhatian:
1. Tipe pelayan publik: menempatkan kebutuhan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan, rajin turun ke lapangan untuk mendengar langsung keluhan warga, danidak gila hormat dan menolak protokol yang terlalu berlebihan.
2. Tipe teknokrat: mengambil keputusan berdasarkan kajian ilmiah, angka, dan fakta, fokus pada reformasi birokrasi dan efisiensi tata kelola, dan cenderung netral dan tidak terlalu terpengaruh oleh dinamika politik praktis.
3. Tipe reformis: tidak ragu mengubah sistem lama yang korup atau tidak efisien, gemar mengadopsi teknologi digital untuk memotong jalur birokrasi, dan cepat merespons perubahan zaman demi meningkatkan kualitas layanan.
4. Tipe populis: pandai merangkul massa dan membangun kedekatan emosional dengan rakyat, mampu membakar semangat dan menyatukan visi kelompok yang beragam, kebijakannya sering kali didasarkan pada apa yang sedang diinginkan mayoritas publik (red)







