PALEMBANG, mediasumatera.id – Andreas Okdi Priantoro, SE.Ak,SH anggota DPRD kota Palembang SH, mendorong Pemerintah Kota Palembang untuk segera melakukan perubahan total di area pasar Lemabang Palembang. Pasar Lemabang yang dikenal sebagai wilayah macet, sibuk dan kacau, diyakini bahwa kepentingan publik harus sepenuhnya ditingkatkan dan dibenahi.
“Transformasi ini bentuk nyata keberpihakan kepada masyarakat. Kita tidak bisa membiarkan Pasar Lemabang terus menjadi simbol ketidakteraturan. Sudah saatnya dibenahi secara menyeluruh,” ujar Andreas.
Dia mengatakan adanya kemacetan yang parah, akibat kehadiran pedagang kaki lima di badan jalanan, ruang parkir ilegal, tempat pembuangan sampah yang menumpuk sampah di pusat area komersial, dan masalah klasik yang belum selesai. Dia berpendapat bahwa penataan tersebut harus komprehensif dan termasuk semua pihak, dari pemerintah kota sampai pasukan keamanan, hingga pejabat ekonomi dan masyarakat sekitarnya.
“Ini bukan cuma soal ketertiban, tapi menyangkut hak publik atas ruang jalan yang layak. Warga sudah terlalu lama menderita akibat kemacetan,” tegas Andreas selaku Anggota DPRD Kota Palembang Daerah Pemilihan (Dapil) III meliputi Kecamatan Ilir Timur I, II dan III. Langkah awal transformasi, lanjut Andreas, dimulai dengan rekayasa lalu lintas di simpang empat Lemabang, termasuk pengaktifan kembali lampu lalu lintas dan pengecoran batas jalan di selasar pasar untuk membatasi ruang gerak parkir liar dan pedagang kaki lima.
Tidak hanya pasar pemerintah , tetapi Andreas juga menyoroti pasar swasta di sekitar Lemabang.yang dioperasikan sebagai bisnis tanpa pengawasan ketat. Dia meminta pejabat kelurahan, Satpol PP, hingga kepolisoan sector Lemabang turun tangan untuk mengambil pengawasan dan tindakan seperlunya. Salah satu langkah simbolis dalam transformasi ini adalah pergeseran dalam titik pembuangan sampah sementara (TPS), yang sebelumnya menyebabkan bau dan memperbesar kesan daerah kumuh.
“Tempat Pembuangan Sampah itu harus segera dipindahkan. Tak mungkin bicara pasar modern dan sehat jika masih berdampingan dengan tumpukan sampah,” tegasnya.
Penataan parkir juga menjadi prioritas, dengan penindakan tegas terhadap parkir liar di jalan utama dan gang-gang pasar yang kerap menyebabkan kemacetan. Andreas berharap, transformasi Pasar Lemabang bisa menjadi model bagi penataan pasar tradisional lainnya seperti Pasar Kuto, Pasar Cinde, dan 16 Ilir.
Transformasi ini, kata Andreas, bukan semata soal tata ruang dan infrastruktur, tapi perubahan paradigma terhadap ruang publik dan ekonomi rakyat. Pasar Lemabang diharapkan bangkit dari citra kumuh menuju pusat ekonomi rakyat yang tertib, manusiawi, dan berdaya saing.(*)







