Terinspirasi dari Injil Lukas 16: 1 – 8, yakni perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur.
SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda termasuk orang cerdik? Cerdik berarti pandai, pintar, atau berakal. Namun, kecerdasan yang dimaksud bukan hanya sekadar kecerdasan intelektual (IQ), melainkan lebih pada kecerdikan praktis dalam menghadapi situasi, seperti yang dialami oleh bendahara yang tidak jujur dalam bacaan Injil hari ini. Dalam kisah Injil hari ini, kita bertemu dengan seorang bendahara yang korup atau tidak jujur. Ia tahu bahwa waktunya sebagai pengelola akan segera berakhir. Dalam situasi yang kalut dan penuh tekanan, ia tidak larut dalam kepanikan. Ia berpikir cepat, mencari cara agar tetap bisa bertahan hidup setelah dipecat. Ia cerdik memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Yang mengejutkan, tuannya justru memuji dia. Bukan karena ketidakjujurannya, tetapi karena kecerdikannya. Ia tahu bagaimana membaca peluang atau keadaan dan bertindak dengan strategi.
Bagaimana dengan kita?. Tuhan telah mempercayakan kepada kita berbagai talenta: kecerdasan, keterampilan, bakat, waktu, pengaruh, bahkan relasi. Talenta itu bukan untuk disalahgunakan demi keuntungan pribadi, apalagi untuk mencelakai atau “membunuh” sesama. Talenta itu adalah cahaya yang harus dipakai untuk menerangi, bukan untuk menghanguskan. Ketika kita cerdik dalam menggunakan talenta untuk kebaikan, maka kita menjadi anak-anak terang. Tuhan memuji bukan hanya mereka yang pintar, terampil & berbakat, tetapi juga kita atau mereka yang bijak dan bertanggung jawab dalam mengelola anugerah-Nya. Sebaliknya, jika kita menyalahgunakan talenta untuk menjatuhkan, memanipulasi, atau merugikan orang lain, kita sedang berjalan dalam bayang-bayang kegelapan.
Pertanyaan refleksi:
1. Dalam situasi sulit atau penuh tekanan, apakah saya cenderung menyerah atau justru mencari cara yang bijak dan bertanggung jawab untuk menghadapinya?
2. Talenta apa yang telah Tuhan percayakan kepada saya, dan bagaimana saya menggunakannya untuk membangun sesama atau justru menyakiti mereka?
3. Apakah tindakan dan keputusan saya selama ini mencerminkan sebagai anak terang atau justru menyerupai anak-anak kegelapan?
Doa singkat:
Tuhan, ajar aku untuk bertindak dengan cerdik, bukan licik.
Berikan aku hikmat untuk menggunakan setiap talenta yang Engkau percayakan,
agar hidup ku menjadi terang bagi sesama dan kemuliaan bagi nama-Mu.
Amin.




