SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda sering melakukan kunjungan ke tetangga saat doa rosario, atau berkatekese atau pendalaman iman, atau mungkin sekedar anjang sana. Yesus pun selama hidup -Nya di dunia, sering kali berkeliling melakukan blusukan dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 13: 22 – 30, yakni siapa yang diselamatkan. Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat bahwa
Yesus tidak hanya mengajar di Bait Allah, tetapi Ia berkeliling dari kota ke kota dan desa ke desa, menyentuh kehidupan nyata umat-Nya. Ia melakukan blusukan, bukan sekadar kunjungan, tetapi kehadiran penuh KASIH di tengah mereka yang tersisih: orang miskin, sakit, berdosa, dan terpinggirkan. Ia hadir di jalanan, di rumah-rumah, di perahu, bahkan di tempat yang dianggap najis. Di sanalah Ia mengajar, menyembuhkan, memberi makan, menangis bersama, dan mengangkat martabat manusia.Namun, Yesus mengingatkan bahwa tidak semua orang menerima pengajaran-Nya dengan baik. Pengajaran-Nya ibarat pintu yang sempit, yakni hanya mereka yang sungguh-sungguh mendengarkan dan melaksanakannya yang dapat masuk. Banyak yang mendengar, tetapi tidak semua mau berubah. Banyak yang tahu, tetapi tidak semua mau bertindak.
Bagaimana dengan kita?
Apakah kita hanya mendengar, atau sungguh-sungguh menerima dan melaksanakan pengajaran Yesus?
Menerima dengan baik berarti tidak hanya mendengarkan, tetapi melaksanakan apa yang diajarkan-Nya, yakni untuk: Pertama Mengasihi sesama dengan tulus, bukan karena kewajiban. Kedua Mengampuni sesama tanpa syarat, bukan karena terpaksa.
Ketiga Melayani sesama tanpa pamrih, bukan karena ingin dipuji. Akhirnya, mari kita blusukan tidak perlu dari kota ke kota dan dari desa ke seperti Yesus. Cukuplah kita blusukan melalui kesaksian hidup dengan hadir bagi sesama, menjadi sahabat bagi yang kesepian, menjadi penghibur bagi yang terluka, dan menjadi terang di tengah kegelapan. Jadilah
murid yang tidak hanya mendengar, tetapi juga melakukan apa yang diajarkan Yesus kepada kita. Karena pintu itu sempit, tetapi terbuka lebar bagi kita yang sungguh-sungguh melaksanakan apa yang diajarkan dan diperintahkan-Nya kepada kita.
Pertanyaan refleksi:
1. Apakah aku sungguh membuka hati untuk menerima pengajaran Yesus, meskipun itu menantang kenyamanan dan egoku?
2. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah aku sudah hadir bagi mereka yang tersisih, terluka, atau membutuhkan perhatian?
3. Bagaimana aku bisa melakukan “blusukan rohani” hari ini, melalui kasih, pengampunan, atau pelayanan yang nyata?
Selamat berefleksi🙏🙏




