Selasa, 23 Juli 2024

Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi Dalam Seminar ISKA Palembang

Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi Dalam Seminar ISKA Palembang

Palembang, mediasumatera.id – Bertempat di Aula Gereja Santo Yoseph Jln Jendral Sudirman Palembang, Ikatan Cedikiawan Katolik Indonesia (ISKA) DPC Palembang pada Sabtu, (15/6/2024) pukul 10.00-13.00 WIB diadakan seminar bertema Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi dengan pemateri Dr Antonius Singgih Setiawan, SE, M.Si Rektor Universitas Katolik Musi Charitas, (UKMC) Palembang, Dr Johannes Petrus, S.Kom. M.TI Rektor Universitas MDP dan Bennedictus Effendi, ST, MT Rektor Institut Teknologi dan Bisnis PalcomTech Palembang.

Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi Dalam Seminar ISKA Palembang

Bahwa Cendikiawan ISKA merupakan salah satu bagian gereja yang merupakan persekutuan umat beriman yang memiliki peran penting dalam mendukung misi gereja. Kata cendikiawan memiliki makna sebagai orang yang diberkati kemampuan berfikir lebih, cerdas, atau juga orang yang memiliki sikap hidup yang terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu. Cedikiawan Katolik memiliki peran penting dalam mewujudkan misi gereja katolik, terutama misi kenabian.

Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi Dalam Seminar ISKA Palembang

Andreas Daris humas ISKA menjelaskan bahwa seminar ISKA ini dihadiri oleh Luky Agung Yusgiantoro Ketua Presidium ISKA Pusat Jakarta bersama Vandrico W Stanley Dale anggota departemen Sosial kemasyarakatan dan pertahanan keamaan PP ISKA, Romo Agustinus Riyanto SCJ, Yoseph Handoko Ketua DPD ISKA Provinsi Sumatera Selatan, Laurentius Parwanto ketua DPC ISKA Kabupaten OKU Sumsel, Marcia Iswanto, ketua DPC ISKA Kabupaten OKI Sumsel, Ketua dan pengurus Dewan Pastoral Paroki Kota Palembang, utusan pengurus ormas WKRI, PMKRI, Pemuda Katolik, Rektor, Dosen Kepala Sekolah, Guru di institusi pendidikan Katolik Palembang, Komisi Keuskupan Agung Palembang, Bimas Katolik Kemenag Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang dan segenap tokoh / cendekiawan katolik kota Palembang.

Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi Dalam Seminar ISKA Palembang
Dominikus Budiarto, ST, MT Ketua ISKA DPC Palembang yang baru dilantik dalam sambutannya mengatakan bahwa pada Seminar Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (DPC Kota Palembang) ini mengambil tema : Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi. Diharapkan para pembicara dapat menyampaikan gagasan dan pandangan bagaimana inklusivitas cendikawan Katolik pada masa kini. Apa saja peluang dan tantangan untuk dapat menjadi satu persekutuan inklusif yang berkontribusi bagi kehidupan maunusia. Terutama dengan berbagai perkembangan teknologi yang saat ini berkembang secara eksponensial. Dengan bertujuan sebagai fasilitas bagi para cendikiawan Katolik untuk sama-sama kembali membangun semangat komunitas sebagai persekutuan awam Gereja Katolik. Menggali kembali misi dan peran cendikiawan Katolik dalam menjalankan misi Gereja di Indonesia, memberikan gambaran mengenai tantangan dan peluang pada era disrupsi bagi semangat persekutuan cendikiawan Katolik, memberikan gambaran solusi dan strategi membangun milintasi para cedikiawan Katolik untuk bisa memberikan kontribusi bagi pembangunan di Indonesia.

Baca Juga :  JS Simatupang Berikan Bantuan Sumbangan Alat Musik ke Gereja Pentakosta Kecamatan Paranginan

Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi Dalam Seminar ISKA Palembang
Inklusivitas Cendikiawan Katolik memiliki makna yang mendalam. Inklusivitas tidak hanya dipandang sebagai keterbukaan kita dengan orang yang memiliki agama, suku, budaya yang berbeda, tetapi juga keterbukaan untuk berserikat dalam persekutuan umat Allah. Hal ini yang rasanya mulai luntur diantara para cendikiawan Katolik. Kecederungan mejauhkan diri dari perksekuatuan karena perbedaan baik perbedaan ide atau juga perbedaan dalam hal lainya Kondisi dunia saat ini dihadapkan pada tantangan yang berbeda. Saat ini sering disebut disrupsi teknologi (disraptive technology). Disruptive Technologi adalah masa dimana inovasi teknologi dapat merubah secara radikal terhadap aktivitas manusia. Di masa disrupsi ini banyak ditemukan habitus baru manusia yang sebelumnya belum pernah terjadi. Semua ini sebagai akibat dari perkembangan teknologi yang murah berkembang secara eksponensial.

Selama ini inklusivitas cendikiawan Katolik sebagai persekutuan umat Allah yang menjalankan misi kenabian gereja dihadapkan banyak tantangan. Salah satunya dihadapi oleh Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) DPC Kota Palembang. Regenerasi ISKA DPC Kota Palembang tidak berjalan dengan baik. Sebagai salah satu organisasi persekutuan yang memiliki kemampuan intelektualitas untuk belajar dan berkontribusi bagi Gereja dan Tanah Air Indonesia, mengalami kesulitas untuk terus bergerak dan beregenerasi. Banyak para intelektualitas Katolik yang diberikan banyak talenta oleh Tuhan Yesus, namun hanya sedikit yang mau berproses dan berjalan bersama dalam persekutuan ini.

Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi Dalam Seminar ISKA Palembang

Dr Antonius Singgih Setiawan, SE, M.Si Rektor Universitas Katolik Musi Charitas Palembang dalam Rektor – Universitas Katolik Musi Charitas Palembang (UKMC) dalam paparan seminar yang mengambil topik Mewujudkan Inlusivitas dalam Proses Kaderisasi Cendikiawan Katolik dikatannya bahwa krisis kaderisasi cendikiawan dan juga aktivis Katolik saat ini menjadi pekerjaan rumah. “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggotaanggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” Maka hendaklah dalam perwujudan kegiatan kerasulan awam dilakukan tidak secara individu saja melainkan dalam sebuah persekutuan. Singgih memberikan gambaran bagaimana mewujudkan inklusivitas dalam pross kaderisasi. Inklusivitas berarti mengakui dan menghargai perbedaan individu, dan memastikan bahwa setiap orang merasa diterima dan dihormati tanpa memandang latar belakang mereka. Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengantaraan Kristus bersifat inklusif, yaitu melibatkan anggota- anggota-Nya sebab Sabda Allah menyatakan bahwa Kristus sebagai Kepala tidak terpisahkan dari anggota- anggota-Nya, sama seperti kepala kita tidak terpisah dari anggota- anggota tubuh kita. Anggota tubuh yang lemah mendapat perhatian khusus, anggota yang kuat membantu yang lemah

Baca Juga :  Prabowo Subianto Leading Elektabilitas Capres 2024, Pengamat Ini Sebut NU Sebagai Faktor Penentu

Dr Johanes Petrus, S.Kom. M.TI Rektor Universitas Multi Data (MDP) Palembang dengan topik seminarnya Perkembangan Eksponensial Teknologi (AI) dan Dampaknya dalam Kehidupan Manusia Saat ini. Dikatakannya bahwa era disrupsi teknologi, era di mana perkembangan radikal teknologi yang dapat merubah banyak aspek kehidupan manusia. Saat ini perkembangan teknologi berlangsung secara eksponensial yang bisa dikatakan berlansung dengan sangat cepat. Perkembangan teknologi ini bisa berdampak positif sekaligus memberikan dampak negatif. Pada kesempatan ini pembicara dapat memberikan gambaran perkembangan teknologi saat ini dengan beragam bentuknya, seperti artificial entelligence (AI). Dan bagaimana dampak perkembangan teknologi tersebut bagi kehidupan manusia. Baik dampak yang bersifat negative maupun dampak positif.

Inklusivitas Cendikiawan Katolik Indonesia di Era Disrupsi Teknologi Dalam Seminar ISKA Palembang

Benedictus Effendi, ST, MT Rektor – Institut Teknologi dan Bisnis PalComTech melalui pemaparan topik Teknologi (AI) dan Misi Kerasulan Awam dari Perspektif Cedikiawan Katolik. Dijelaskan bahwa teknologi seperti teknologi artificial intelligence dan lainnya saat ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia. Bahkan untuk kegiatan rohani, seseorang dapat menggunakan teknologi untuk memaknai Kitab Suci. Seorang Pastor dapat membuat homili yang indah dengan menggunakan teknologi seperti Chat GPT. Para ahli IT dapat membuat bahasa pemograman yang sulit dengan hanya menggunakan Blackbox AI. Bahkan orang awam yang tidak memiliki kemampuan Photografi dapat menghasilkan gambar yang bagus dengan AI Generator. Banyak hal yang diberikan kemudahan dari kehadiran berbagai teknologi tersebut. Walalupun dijelaskan pada pembicara kedua ada dampak negatif juga yang dihasilkan. Namun pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah teknologi tersebut bisa menjadi bagian dalam perwujudan misi kerasulan awam. Misi kerasulan bukan hanya menjadi tugas kaum tertabis, namun juga kita sebgagai kaum awam. Misi kerasulan awam pada hakekatnya adalah bagaimana kita mewartakan karya keselamatan Yesus Kristus dimanapun kita berada. Perwartaan karya keselamatan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Dalam kesempatan ini pembicara memberikan gambaran mengenai bagaimana kita sebagai kaum awam memandang perkembangan teknologi dan juga keterkaitanya dengan pewartaan kabar keselamatan di tengah-tengah manusia.

Baca Juga :  SMA Xaverius 4 Palembang Tempati Gedung Baru