Mengampuni Tanpa Batas Dan Syarat

Mengampuni Tanpa Batas Dan Syarat

SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Apa kabar Anda di hari ini? Saya berharap menjumpai Anda dalam keadaan sehat, damai dan bahagia. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Maksimilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 18: 21 – 19: 1), yakni perumpamaan tentang pengampunan dan perceraian. Dalam bacaan Injil hari ini, Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Jawaban ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah ajakan untuk mengampuni tanpa batas dan tanpa syarat. Ingatlah, bahwa terkadang orang berbuat salah kepada kita, tetapi bisa juga kita berbuat salah kepada orang lain. Maka, yang harus kita lakukan adalah kita harus berani mengampuni dan meminta maaf. Dua hal ini merupakan dua sisi dari sikap rendah hati kita. Namun, banyak kali kita terhalang oleh gengsi, rasa sakit hati, atau kekhawatiran bahwa harga diri kita akan direndahkan. Padahal, justru dalam keberanian untuk mengampuni dan meminta maaf, kita dimuliakan. Dengan begitu kita menunjukkan bahwa kasih lebih besar daripada ego, dan bahwa hati yang terbuka lebih kuat daripada hati yang membatu. Pengampunan sejati tidak menghitung kesalahan, tidak menuntut syarat, dan tidak menunggu waktu yang tepat. Ia lahir dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berubah, bertobat, dan menjadi lebih baik. Maka, berpikirlah positif: jangan biarkan masa lalu membelenggu masa depan seseorang. Hilangkan stigma, dan lihatlah sesama dengan mata kasih. Yesus sendiri telah menunjukkan teladan pengampunan yang tak terbatas bahkan di kayu salib, Ia berkata, “Bapa, ampunilah mereka.” Jika kita mengaku sebagai pengikut-Nya, maka kita pun dipanggil untuk mengampuni dengan hati yang lapang dan kasih yang tulus.

Baca Juga :  Tersungkur Di Depan Kaki Yesus

Pertanyaan Reflektif:
1. Apakah aku masih menyimpan luka yang belum aku ampuni?
2. Apakah aku berani meminta maaf ketika aku bersalah, meski gengsi terasa berat?
3. Sudahkah aku melihat orang lain sebagai pribadi yang bisa bertumbuh dan berubah?
Selamat berefleksi… sembari merenungkan refleksi dari Santo Maksimilianus Maria Kolbe, yakni racun yang paling mematikan di zaman kita sekarang adalah ketidakpedulian 🙏🙏