SEMANGAT PAGI, mediasumatera.id – para saudaraku ytk. Sudahkah pada saudaraku mengawali harimu dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan? Berdoa dan ucapan syukur adalah tanda orang beriman dan rendah hati.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 9: 30 – 37, yakni pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus dan siapa yang terbesar di antara para murid. Yesus menyampaikan hal yang terpenting dalam hidup-Nya kepada para murid -Nya, yakni bahwa Ia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia. Tetapi tiga hari setelah dibunuh, Ia akan bangkit. Namun, apa yang disampaikan oleh Yesus, tidak dipahami oleh para murid-Nya. Mereka tidak paham, karena mereka gagal fokus. Mengapa ?Sebab mereka sibuk mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Dengan begitu, para murid-Nya tidak mempunyai empati, tidak memiliki rasa peduli, dengan apa yang akan dialami oleh Yesus. Mereka sibuk dengan urusan siapa yang akan menjadi pemimpin setelah Yesus wafat. Mereka sibuk dengan ambisi pribadi mereka masing-masing, sehingga tidak ada rasa empati, peduli dengan Yesus yang akan menghadapi penderitaan. Mereka juga haus akan kekuasaan sampai mereka bertengkar. Tetapi Yesus dengan bijaksana, tenang dan sabar, memanggil dan menasihati mereka sambil berkata: ” jika seorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan semuanya”. Jadi, Yesus mau mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu, harus memiliki sikap seperti seorang hamba. Seorang hamba selalu memprioritaskan atau mendahulukan kepentingan atau kebutuhan tuannya atau majikan. Seorang hamba selalu mendahulukan pelayanan kepada tuan atau majikannya. Seorang hamba selalu yang paling akhir untuk kepentingan atau kebutuhannya. Seorang pemimpin haruslah berjiwa seperti itu. Itulah yang terbesar. Itulah pemimpin sejati. Yang terbesar, bukan yang memiliki jabatan tinggi, atau pangkat atau titel yang tinggi atau banyak, melainkan yang rendah hati, yang tidak sombong, tidak arogan dan tidak pangah serta tidak angkuh, serta yang selalu mengandalkan Tuhan dan selalu bisa bekerjasama dengan orang lain, dengan selalu menghormati dan menghargai setiap perbedaan pandangan. Bertengkar tidak menyelesaikan persoalan, melainkan duduk bersama untuk mencari solusi adalah hal yang bijaksana. Itulah yang dilakukan oleh Yesus terhadap para murid-Nya. Akhirnya, nasihat bijak Yesus kepada para murid-Nya juga berlaku untuk kita para murid-Nya dewasa ini, yakni yang terbesar, atau pemimpin itu adalah dia yang rendah hati, dia yang selalu mendahulukan kepentingan atau kebutuhan orang lain, dan dia yang selalu mengandalkan Tuhan serta bisa bekerjasama dengan orang lain, dengan saling menghargai dan menghormati. Semoga demikian 🙏🙏




