mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Aku telah melihat Tuhan, adalah sebuah kesaksian dari Maria Magdalena. Dia berani bersaksi, karena dia telah berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Maria berjumpa dengan Tuhan, merupakan buah dari kerinduannya, yang datang ke makam Yesus saat pagi masih gelap. Dia menerima berkat dari Tuhan sekaligus membaharui dirinya dengan sapaan secara personal. Walaupun Maria tidak mengenal Tuhan, tetapi Tuhan tidak pernah lupa Maria. Demikian pula dengan kita. Agar bisa menjadi saksi Kristus yang bangkit, kita harus memiliki kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhan, dan disaat yang sama kita akan mendapatkan berkat dari-Nya. Ingat, Tuhan tidak akan pernah lupa sama kita, walau kita tidak mengenal Tuhan.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 20: 11 – 18, yakni Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena. Dalam bacaan Injil hari ini,
Maria Magdalena datang ke kubur saat pagi masih gelap. Air mata membuatnya tak mengenali Yesus yang berdiri di dekatnya. Ia mengira hanya seorang tukang taman. Namun segalanya berubah ketika Yesus memanggil namanya: “Maria!” Satu sapaan personal membuka mata HATI dan mata IMAN. Dari duka yang membutakan, Maria beralih pada pengenalan yang penuh KASIH. Ia tidak hanya melihat kubur kosong, tetapi berjumpa dengan Tuhan yang hidup. Dan dari perjumpaan itu lahirlah kesaksian yang mengguncangkan dunia: “Aku telah melihat Tuhan!”.
*Bagaimana dengan kita?* Sebagai murid Kristus masa kini, kita memang tidak melihat Yesus secara lahiriah. Namun kita dipanggil untuk melihat-Nya dengan mata HATI dan mata IMAN. Doa, ibadat, dan ekaristi bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang perjumpaan. Justru di “pagi yang gelap”, saat HATI diliputi kegelisahan atau luka, Tuhan mendekat, menyapa nama kita, dan memberi BERKAT yang membarui hidup.
*Pesan Untuk Kita*
Para saudaraku, mari kita datang kepada Tuhan dengan kerinduan yang mendalam, bahkan ketika HATI masih gelap. Di dalam doa, ibadat, dan ekaristi, kita menerima BERKAT yang mengubah air mata menjadi pengutusan.
Dan ketika mata HATI dan mata IMAN kita terbuka, kita pun dapat bersaksi dengan penuh keyakinan: “Aku telah melihat Tuhan! Ia memanggil namaku, dan Ia juga memanggil namamu.” Semoga telinga HATI kita tidak tuli untuk mendengarkan sapaan -Nya.
*Pertanyaan refleksi*
1. Dalam pengalaman doa, ibadat, atau ekaristi, apakah saya sungguh membuka mata HATI untuk mengenali Tuhan yang hadir, ataukah saya masih melihat-Nya sekadar sebagai “tukang taman” yang biasa saja?
2. Bagaimana saya merasakan sapaan personal Tuhan dalam hidup saya, apakah saya membiarkan Dia memanggil nama saya dan membarui luka serta kerinduan terdalam?
3. Setelah berjumpa dengan Tuhan, apakah saya berani berlari membawa kesaksian iman kepada sesama, sehingga mereka pun dapat berkata: “Aku telah melihat Tuhan”?
*Selamat berefleksi*🙏🙏
*Doa Singkat*
Tuhan Yesus yang bangkit, panggillah nama kami seperti Engkau memanggil Maria, agar mata HATI kami terbuka untuk melihat-Mu dengan iman. Di tengah gelapnya luka dan kegelisahan, jadikan doa, ibadat, dan ekaristi sebagai tempat perjumpaan dengan-Mu.
Ubahlah air mata kami menjadi sukacita,
dan utuslah kami membawa kesaksian:
“Aku telah melihat Tuhan.” Amin.




