Renungan hari ini: Ciuman Di Pipi, Sangkal Di Bibir: Ketika Cinta Dikhianati

Renungan hari ini: Ciuman Di Pipi, Sangkal Di Bibir: Ketika Cinta Dikhianati
Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Kita semua menyebut diri sebagai murid Yesus. Namun pertanyaannya adalah apakah kita sungguh mengasihi Yesus? Jangan-jangan kita seperti Yudas dan Petrus murid yang dekat dan hidup bersama Yesus, tetapi nyatanya justru mengkhianati dan menyangkal Yesus Sang Guru.

Renungan hari ini, terinspirasi dari Injil Yohanes 13: 21 – 33. 36 – 38, yakni Yesus memperingatkan Yudas dan Yesus memperingatkan Petrus. Dalam bacaan Injil hari ini, saat malam itu gelap, bukan hanya karena matahari tenggelam, tetapi karena kegelapan HATI mulai merayap. Di ruang atas, Yesus dan murid-murid-Nya duduk bersama, berbagi roti dan cawan. Namun kehangatan itu terguncang ketika Yesus berkata: “Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Yudas menerima roti dari tangan Sang Guru, lalu keluar menuju malam. Ciuman di pipi yang kelak diberikannya bukan tanda KASIH, melainkan tanda pengkhianatan. Petrus, sebaliknya, penuh janji setia: “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu.” Namun beberapa jam kemudian, di dekat api unggun, bibir yang berjanji itu justru menyangkal tiga kali. Ayam berkokok, dan Petrus menangis pahit. Dua murid, dua cara mengkhianati cinta: ciuman di pipi dan sangkal di bibir. Keduanya menusuk HATI Yesus. Namun di tengah pengkhianatan itu, Ia tetap berkata: “Sekarang Anak Manusia dimuliakan.” KASIH-Mu tidak bergantung pada kesetiaan manusia. Ia tetap maju ke salib. Hari ini, kita pun sering mengulang kisah itu. Kita “mencium pipi Yesus” dengan doa, ibadat dan ekaristi yang tampak rohani, tetapi HATI menyimpan kompromi dan kepalsuan. Kita “menyangkal dengan bibir” ketika iman harus dibela, namun kita memilih diam demi kenyamanan. Perbedaan Yudas dan Petrus bukan pada besarnya dosa, melainkan pada respons setelah jatuh. Yudas putus asa, Petrus kembali. Dan ketika Yesus bangkit, Ia menyebut nama Petrus secara khusus, tanda bahwa KASIH-Nya tetap setia.

Baca Juga :  Renungan hari ini: Saleh Di luar, Rusak Di Dalam Hati

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, ciuman palsu dan sangkal pahit, bukanlah akhir cerita. KASIH Kristus lebih besar dari pengkhianatan kita. Ia tidak menunggu janji besar, hanya HATI yang mau kembali. Seperti Petrus di tepi danau, Ia bertanya lagi: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Mari pulang kepada-Nya. Karena di salib, KASIH yang tak tergoyahkan sudah menunggu dengan tangan terbuka.

Pertanyaan refleksi

1. Dalam kehidupan sehari-hari, adakah “ciuman di pipi” yang kita lakukan, tindakan rohani yang tampak indah di luar, tetapi HATI kita sebenarnya sedang menjauh dari Tuhan?
2. Seperti Petrus, kapan terakhir kali kita menyangkal iman kita demi kenyamanan atau reputasi? Apa yang membuat kita sulit untuk berani bersaksi?
3. Jika Yesus menatap kita hari ini dan bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?”, bagaimana jawaban HATI kita, bukan hanya bibir, tetapi hidup yang nyata?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, kami datang dengan HATI yang sering rapuh. Kami mengaku bahwa kadang kami mencium-Mu dengan doa, ibadat dan ekaristi yang palsu, dan menyangkal-Mu dengan bibir yang takut. Namun kami bersyukur karena kasih-Mu lebih besar dari pengkhianatan kami. Pulihkan HATI kami, teguhkan iman kami, dan ajarilah kami untuk kembali kepada-Mu dengan KASIH yang murni. Amin.