mediasumatera.id – DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Kita pasti masih ingat lagu “Kasih Ibu kepada Beta” ciptaan S.M. Mochtar, yang juga dikenal dengan nama Mochtar Embut. Makna lagu itu sangat mendalam tentang kasih sayang ibu yang tak terhingga sepanjang masa, dan masih relevan hingga saat ini.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 7: 24 – 30, yakni perempuan Siro-Fenisia yang percaya. Dalam bacaan Injil hari ini,
dalam kesunyian rumah di Tirus, seorang ibu Siro-Fenisia datang kepada Yesus dengan HATI hancur: anaknya kerasukan roh jahat. Jawaban Yesus terdengar tajam, bahkan merendahkan: “Tidak patut roti anak-anak diberikan kepada anjing.” Namun ibu itu tidak tersinggung. Ia justru merendahkan diri lebih dalam: “Benar Tuhan, tetapi anjing pun makan remah-remah di bawah meja.” Imannya teguh, kasihnya tak tergoyahkan. Baginya, kesembuhan sang anak jauh lebih berharga daripada harga dirinya. Dan Yesus pun berkata: “Karena perkataanmu itu, pergilah, setan sudah keluar dari anakmu.” Inilah KASIH seorang ibu: KASIH yang rela direndahkan, KASIH yang tidak menyerah, KASIH yang bertahan demi buah HATI.
*Pesan Untuk Kita*
Hari ini, ingatlah wajah ibu kita.
Ingatlah tangan yang pernah mengusap demam, doa yang terucap di malam sunyi, dan pengorbanan yang tak pernah dihitung. Ibu tidak meminta istana, harta, atau balasan setara. Yang ia rindukan hanyalah senyuman kita, pelukan hangat, perhatian kecil yang berkata: “Ibu, aku mengingatmu.” Kita takkan pernah mampu membalas KASIH ibu. Tetapi kita bisa menghargainya:
_Pertama_ *Dengan menjadi pribadi baik seperti yang ia doakan*.
_Kedua_ *Dengan menyediakan waktu untuk mendengarkannya*.
_Ketiga_ *Dengan mengucap terima kasih atas hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa*. KASIH ibu mengalir setiap detik, tanpa menunggu tanggal di kalender. Maka jangan menunda. Ucapkanlah terima KASIH hari ini. “Terima kasih, Ibu. Untuk semua yang tak terucap, untuk semua yang tak terbalas. Semoga kebahagiaan selalu menemani langkahmu, seperti engkau selalu menemani langkah pertamaku.” KASIH ibu tak terhingga sepanjang masa. Kasih kita?Biarlah dimulai sekarang, dengan cara paling sederhana: dengan mengingat dan menghargainya. Barangkali bagi dunia, ibu hanyalah seorang, tetapi bagi kita ibu adalah dunia kita. Dia bukan saja dunia kita, melainkan surga bagi kita.
*Pertanyaan refleksi*
1. Seperti ibu Siro-Fenisia, apakah saya berani merendahkan diri dan tetap teguh dalam iman ketika doa-doa saya seolah tidak langsung dijawab Tuhan?
2. Bagaimana saya selama ini menghargai KASIH dan pengorbanan ibu apakah sudah dengan perhatian sederhana yang ia rindukan?
3. KASIH ibu rela berkorban tanpa pamrih; apakah saya juga belajar menyalurkan KASIH yang sama kepada orang lain di sekitar saya?
*Selamat berefleksi*🙏🙏
*Doa Singkat*
Tuhan Yesus,
terima kasih atas kasih ibu yang tak pernah menyerah. Ajari kami memiliki iman yang teguh dan HATI yang rendah, serta menghargai setiap doa dan pengorbanannya.
Berkatilah ibu kami dengan sukacita dan damai sejahtera. Sebab, Engkaulah Tuhan kami, sepanjang segala masa. Amin.




