Renungan hari ini: Mengolah Tanah Hati Kita

Renungan hari ini: Mengolah Tanah Hati Kita
Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

mediasumatera.id – SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda sering mengolah, atau merawat, memelihara, tanah hati Anda? Atau justru membiarkan tanah hati Anda apa adanya? Ingat, hati yang diolah, dirawat, dipelihara dengan baik, akan menghasilkan pribadi yang baik. Sebaliknya tanah hati yang dibiarkan, maka bisa jadi tumbuh rumput liar atau gulma yang menyebabkan tanah hati Anda menjadi tidak subur. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Thomas Aquinas, Imam dan Pujangga Gereja.

Renungan hari ini diilhami dari Injil Markus 4: 1 – 20, yakni perumpamaan tentang seorang penabur. Dalam perumpamaan ini, seorang penabur
menaburkan benih yang sama, yakni firman Tuhan yang hidup dan penuh kuasa. Tetapi hasilnya berbeda-beda, bukan karena benihnya kurang baik, melainkan karena kondisi tanah yang menerimanya. HATI kita adalah tanah itu. Tanah yang keras di pinggir jalan, berbatu, atau penuh semak duri bukanlah takdir yang harus kita terima pasif. Itu adalah pilihan diam. Tanah yang baik adalah hasil kerja rohani yang disengaja. Kita dipanggil bukan hanya menjadi penerima benih, tetapi menjadi pengolah tanah HATI kita sendiri.

*Bagaimana caranya?*

_Pertama_ *kita harus mencangkul dan menggemburkan*: Ini adalah pekerjaan membalik tanah yang beku, keras, membongkar kepahitan dan sikap defensif. Caranya adalah dengan refleksi dan kejujuran total di hadapan Tuhan. Membuka diri dalam doa, refleksi: “Tuhan, periksalah HATIku.” Tanah yang gembur adalah HATI yang lembut dan rendah HATI, siap dibentuk.
_Kedua_ *kita perlu memupuk*: Tanah yang tandus tak akan subur. Pupuk bagi HATI adalah Firman yang direnungkan dalam *lectio divina*, dan nutrisi Ilahi dalam Ekaristi. Di sanalah HATI kita diperkaya dengan kebenaran dan rahmat, elemen dasar untuk pertumbuhan.
_Ketiga_ *kita wajib mengairi secara teratur*: Pengairan adalah hubungan yang konsisten. Doa yang tekun dan ibadat yang setia serta konsisten adalah saluran air kehidupan itu. Tanpa irigasi rohani yang rutin, HATI akan retak oleh kekeringan dan panasnya pencobaan.
_Terakhir_ *kita harus menyiangi*: Rumput liar atau gulma kekhawatiran, ego, dan keinginan duniawi tumbuh tanpa undangan. Maka *Discernment*, penyaringan batin, adalah kegiatan menyiangi setiap hari. Kita mengidentifikasi apa yang mencekik Firman, lalu mencabutnya dengan tekad dan pertolongan Roh Kudus. Ingatlah, tanpa aktivitas spiritual ini, HATI kita tak terpelihara dan lambat laun, ia akan berubah menjadi tanah di ambang kematian rohani, keras, kaku, dangkal, atau sesak. Sabda Tuhan, yang seharusnya menjadi pelita dan kompas, menjadi tidak berfungsi. Benih itu tetap hidup, tetapi terhambat, layu, dan akhirnya mati tanpa pernah berbuah. Oleh karena itu, mari bertanya: Bagaimana kondisi “tanah HATI” saya hari ini? Apakah ia terbengkalai, atau sedang aktif saya olah?
Pilihan ada di tangan kita. Tuhan telah memberikan benih terbaik, Firman-Nya yang menjadi daging. Kini, Ia menyerahkan cangkul kepada kita. Mari bekerja. Karena buah yang berlipat: 30, 60, 100 kali ganda, hanya akan tumbuh dari tanah HATI yang telah diolah dengan cinta dan ketekunan.

Baca Juga :  Renungan hari ini: Allah Mengubah Rencana Kita, Sesuai Rencana-Nya

*Pertanyaan refleksi*

1. Bagian mana dari HATI saya yang masih keras, dangkal, atau penuh semak duri?
2. Apakah saya sudah tekun memberi “air kehidupan” lewat doa, ibadat dan ekaristi yang konsisten?
3. Buah rohani apa yang sudah tampak dari hidup saya, dan apa yang masih perlu diolah?
*Selamat berefleksi*🙏🙏

*Doa Singkat*
.
Tuhan Yesus,
Engkau telah menaburkan benih Firman-Mu ke dalam hati kami. Jadikanlah HATI kami tanah yang gembur, subur, dan siap berbuah. Singkirkanlah duri kekhawatiran, batu kepahitan, sandungan dan kerasnya ego.
Siramilah dengan rahmat-Mu, agar hidup kami menghasilkan buah berlipat ganda
bagi kemuliaan-Mu dan kebaikan sesama. Amin.