mediasumatera.id – DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Bagaimana dengan puasa Anda sampai hari ini? Apakah Anda menjalankan puasa dengan sukarela dan sukacita?
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 9: 14 – 15, yakni hal berpuasa. Dalam bacaan Injil hari ini, murid-murid Yohanes bertanya kepada Yesus: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawaban Yesus mengejutkan:“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?”
Yesus menegaskan bahwa selama Ia hadir, murid-murid tidak perlu berpuasa. Kehadiran-Nya adalah sukacita yang melampaui ritual. Tetapi Ia juga menubuatkan: akan tiba saat Sang Mempelai diambil, dan barulah mereka berpuasa. Di sinilah makna sejati puasa: bukan sekadar menahan lapar, melainkan bahasa rindu akan Kristus. Puasa adalah sarana untuk kembali, menundukkan diri, dan mengosongkan HATI dari segala yang mengalihkan pandangan kita dari-Nya. Lapar jasmani mengingatkan kita pada lapar rohani, kerinduan akan hadirat Sang Mempelai. Puasa yang sejati bukan berhenti pada ritual, melainkan menghasilkan pertobatan, perubahan, dan buah kebaikan. Bersatu dengan Kristus berarti membiarkan KASIH-Nya mentransformasi hidup kita, bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kuasa-Nya yang mengubah.
*Pesan Untuk Kita:*
Saudaraku, mungkin hari ini Anda merasa jauh dari Kristus. Jangan biarkan rasa bersalah atau kegagalan menahan langkah Anda. Lihatlah Salib: di sana KASIH-Nya lebih besar dari dosa kita. Puasa adalah undangan untuk kembali mengosongkan diri dari dunia, agar dipenuhi oleh Kristus. Karena pada akhirnya, puasa bukan tentang apa yang kita lepaskan, melainkan tentang Siapa yang kita dapatkan. Dan Sang Mempelai itu, Yesus, selalu menanti dengan tangan terbuka. Mari kembali. Mari bersatu. Mari merayakan KASIH yang tak pernah berkesudahan. Dia selalu rindu agar kita ada bersama-Nya. Adakah kita memiliki kerinduan yang sama untuk ada bersama-Nya?
*Pertanyaan refleksi*
1. Apakah puasa saya selama ini hanya sebatas ritual, atau sungguh menjadi sarana untuk semakin dekat dengan Kristus?
2. Dalam hal apa saya perlu “mengosongkan diri” agar HATI saya kembali dipenuhi oleh KASIH Sang Mempelai?
3. Buah pertobatan apa yang nyata dari hidup saya setelah berpuasa, apakah karakter saya semakin mencerminkan Kristus?
*Selamat berefleksi*
🙏🙏
*Doa Singkat*
Tuhan Yesus, Sang Mempelai, ajarilah kami melihat puasa sebagai jalan kembali kepada-Mu.
Kosongkan HATI kami dari segala yang menjauhkan,
dan penuhilah kami dengan KASIH-Mu yang mengubah. Hanya bersama-Mu jiwa kami benar-benar kenyang.
Amin.



