mediasumatera.id – DAMAI SEJAHTERA bagimu para saudaraku. ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda siap membuka HATI untuk disentuh oleh Yesus demi menyembuhkan “kusta-kusta” Anda?
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 1: 40 – 45, yakni Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta. Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan
seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus dengan keberanian yang lahir dari iman. Ia berlutut dan berkata dengan rendah hati: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Permohonan sederhana ini bukan tuntutan, melainkan seruan penuh harap. Yesus tergerak oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga, orang kusta itu sembuh. Sentuhan Yesus melampaui batas sosial dan hukum agama pada zaman-Nya. Ia tidak hanya memulihkan tubuh, tetapi juga martabat, identitas, dan relasi sosial orang itu.
*Makna bagi kita hari ini:* _Pertama_ *“Kusta” tidak selalu berupa penyakit fisik. Bisa berupa keterasingan batin, rasa bersalah, stigma sosial, kegagalan, atau luka emosional*. _Kedua_ *Sentuhan Yesus hadir dalam belas kasih yang nyata, bukan sekadar kata-kata. Ia menyentuh sebelum menyembuhkan, menunjukkan bahwa KASIH mendahului mukjizat*. _Ketiga_
*Belas KASIH sejati sering menuntut keberanian untuk melampaui batas nyaman, menjangkau mereka yang dianggap tidak layak atau terpinggirkan*.
*Aplikasi bagi Panggilan kita sebagai murid Yesus, yakni:* kita belajar dari si kusta dalam bacaan Injil hari ini. Barangkali kita tidak memiliki penyakit kusta secara fisik, namun
datanglah kepada Yesus dengan segala “kusta” kita, apa pun yang membuat kita merasa terasing. Biarkan sentuhan-Nya memulihkan identitas kita sebagai anak yang dikasihi. Sebagai murid Yesus, kita juga harus menjadi tangan-Nya yang terjulur: menyapa yang kesepian, mendengar yang terluka, mendampingi yang dikucilkan. Sentuhan kecil yang tulus dapat membuka jalan bagi pemulihan besar. Demikian pula di keluarga, komunitas, di tempat kerja, kita ciptakan ruang di mana setiap orang boleh datang dengan kelemahan dan luka, disentuh dan dipulihkan oleh KASIH, sebelum dinasihati atau diubah. Akhirnya, sentuhan Yesus mengubah segalanya: dari putus asa menjadi harapan, dari keterasingan menjadi pemulihan, dari terdiam menjadi kesaksian. Kita semua pernah menjadi “orang kusta” yang terasing oleh dosa dan luka. Namun, sentuhan KASIH Yesus memulihkan kita, bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan agar kita menjadi tangan-Nya yang menyentuh atau menjamah dunia yang terluka, yang ada di sekitar kita, di keluarga, di komunitas atau di tempat kerja kita masing-masing.
*Pertanyaan refleksi*
1. Apa “kusta” dalam hidup saya saat ini, hal yang membuat saya merasa terasing, tidak layak, atau jauh dari kasih Allah?
2. Bagaimana saya merasakan sentuhan Yesus yang memulihkan identitas dan martabat saya sebagai anak yang dikasihi-Nya?
3. Siapa orang di sekitar saya yang sedang terpinggirkan atau terluka, dan bagaimana saya dapat menjadi “tangan Yesus” yang menyentuh mereka dengan kasih nyata?
*Selamat berefleksi*🙏🙏
*Doa Singkat*
Tuhan Yesus,
sentuhlah HATI kami yang rapuh, pulihkan luka kami, dan teguhkan iman kami. Jadikan kami tangan-Mu yang menjamah sesama dengan KASIH. Amin.




