Renungan hari ini: Totalitas Yang “Tidak Waras” Di Mata Dunia

Renungan hari ini: Totalitas Yang "Tidak Waras" Di Mata Dunia
Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

_ReSi Hari Ini, Sabtu 24 Januari 2026_

Judul renungan hari ini: *Totalitas Yang “Tidak Waras” Di Mata Dunia*

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda sering totalitas dalam pelayanan sampai lupa waktu untuk makan? Namun walaupun Anda lupa untuk makan makanan jasmani, tetapi jangan pernah lupa untuk makan makanan rohani.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 3: 20 – 21, yakni Yesus dan Beelzebul. Dalam bacaan Injil hari ini, ketika Yesus melayani orang banyak, Ia begitu total dalam kasih-Nya. Ia mengajar, menyembuhkan, dan menolong mereka yang miskin, sakit, dan menderita, sampai lupa makan. Melihat hal itu, keluarga-Nya sendiri berkata, “Ia tidak waras lagi.” Dunia menilai pengabdian total itu sebagai kegilaan, sebab ukuran dunia adalah keseimbangan dan keamanan diri. Namun Yesus menunjukkan bahwa ada misi Ilahi yang lebih penting daripada sekadar roti jasmani. Ia rela dicap “tidak waras” demi KASIH yang menyelamatkan. Meski pelayanan-Nya begitu padat, Yesus tidak pernah melupakan doa. Injil mencatat bagaimana Ia sering menyendiri ke tempat sunyi untuk berdoa. Inilah rahasia kekuatan-Nya: Yesus mungkin lupa makan, tetapi Ia tidak pernah lupa berdoa. Firman dan doa adalah makanan sejati yang memberi-Nya tenaga. Seperti yang dikatakan-Nya, “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

*Bagaimana dengan kita?* Kita pun sering terjun total dalam pelayanan, namun mudah melupakan doa, ibadat dan ekaristi, dengan alasan lelah dan capek. Padahal, totalitas tanpa doa, ibadat dan ekaristi, hanyalah kelelahan; dedikasi tanpa Firman hanyalah kegiatan kosong; pelayanan tanpa persekutuan dengan Bapa akan kehabisan bahan bakar. Karena itu, kita harus belajar dari Yesus, Sang Guru sejati. Jangan takut dicap “tidak waras” karena komitmen kita kepada Kristus. Tetapi pastikan “kekurangwarasan” itu bukan sekadar ambisi manusiawi, melainkan buah dari HATI yang berakar dalam doa, ibadat, ekaristi, Firman, dan keheningan di hadapan Allah. Yesus menunjukkan bahwa pelayanan sejati bukanlah aktivisme tanpa jeda, melainkan pemberian diri yang lahir dari doa. Ia mungkin lupa makan, tetapi Ia tidak pernah lupa berdoa. Dan di situlah letak rahasia totalitas Yesus yang sejati: pelayanan yang berakar dalam persekutuan dengan Bapa, sehingga tidak pernah hampa, kosong, melainkan penuh makna dan kuasa. Semoga spirit totalitas pelayanan Yesus menjadi spirit totalitas pelayanan kita yang bersumber dari doa, ibadat dan ekaristi. Amin.

Baca Juga :  Manajemen Diri Yang Baik

*Pertanyaan refleksi*

1. Apakah dalam pelayanan dan aktivitas sehari-hari saya lebih sering mengutamakan kerja dan aktivitas, tetapi melupakan doa sebagai sumber kekuatan utama?
2. Bagaimana saya bisa menyeimbangkan totalitas pelayanan dengan kesetiaan dalam doa, ibadat dan ekaristi, seperti yang Yesus teladankan?
3. Apakah saya berani dicap “tidak waras” oleh dunia karena komitmen saya kepada Kristus, dan apakah komitmen itu sungguh berakar dalam doa dan Firman?
*Selamat berefleksi…& Selamat berakhir pekan*

*Doa Singkat*

Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk setia meneladani totalitas KASIH-Mu. Ketika dunia menganggap pengabdian itu “tidak waras,” biarlah kami tetap berakar dalam doa dan Firman-Mu. Jangan biarkan kami menggantikan doa dengan kesibukan pelayanan, sebab hanya dari-Mu sumber kekuatan sejati. Amin.