PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Kiranya damai, sukacita, dan pengharapan dari-Nya menyertai langkah hidup kita hari ini. Kita percaya: kita tidak pernah berjalan sendiri. Tuhan menyertai, menuntun, dan bekerja dalam setiap musim kehidupan kita. Bahkan ketika jalan terasa gelap, Tuhan sedang menyiapkan terang. Ketika kita lemah, Tuhan sedang menguatkan. Kita adalah orang-orang yang sangat dikasihi dan diingat oleh Tuhan.
Bagaimana kabar Saudara/i hari ini? Kiranya Saudara/i berada dalam kesehatan jasmani dan rohani, hati yang damai, serta sukacita yang melimpah. Renungan ini disampaikan oleh Amang Pdt. Tubiran M.T., M.Th., sebagai penguatan iman bagi kita semua.
“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.” (Galatia 2:16)
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa harus membuktikan nilai diri kita. di hadapan orang lain, di hadapan diri sendiri, bahkan di hadapan Tuhan. Kita berusaha keras menunjukkan bahwa kita layak dikasihi, layak diterima, dan layak untuk diampuni. Namun Paulus mengingatkan jemaat di Galatia bahwa pembenaran, status benar di hadapan Allah, bukanlah hasil dari usaha manusia, melainkan anugerah yang diterima melalui iman. Sebuah kebenaran yang terdengar sederhana, tetapi selalu sulit bagi manusia yang terbiasa mengukur segala sesuatu berdasarkan prestasi.
Suatu kisah nyata datang dari seorang ibu muda yang bergumul dengan rasa bersalah setelah melewati masa-masa sulit dalam keluarga. Ia merasa bahwa setiap kegagalannya sebagai orang tua membuatnya tidak layak mendekat kepada Tuhan. “Saya merasa harus menjadi sempurna dulu baru saya bisa berdoa,” katanya. Tetapi suatu hari, dalam sebuah sesi konseling pastoral, ia mendengar sebuah kalimat yang mengubah cara pandangnya: “Allah tidak menunggu engkau baik untuk mengasihi engkau; kasih-Nya itulah yang membuatmu mampu menjadi baik.” Kalimat itu meruntuhkan beban bertahun-tahun dan mengingatkannya bahwa pembenaran bukanlah hadiah bagi yang berhasil, tetapi anugerah bagi yang percaya dan berserah.
Refleksi ini selaras dengan pemikiran Agustinus dari Hippo (354–430). Dalam banyak tulisannya, ia menegaskan, manusia cenderung menjadikan dirinya pusat keselamatan, mengandalkan kekuatan moral, kemampuan pribadi, atau prestasi rohani. Agustinus pernah berkata, “Grace is given not because we have done good, but so that we may be able to do good.” Baginya, kasih karunia tidak datang sebagai respons terhadap kesempurnaan manusia; justru manusia dapat menjadi benar karena kasih karunia lebih dahulu bekerja. Kesadaran ini lahir dari pergumulan Agustinus sendiri yang melewati masa muda yang kacau dan bergulat dengan rasa bersalah sebelum akhirnya menemukan kedamaian dalam anugerah Kristus.
Dalam kehidupan berjemaat maupun pelayanan sehari-hari, ayat ini mendorong kita untuk melihat kembali arah iman kita. Terlalu sering kita tergoda untuk menilai spiritualitas hanya dari ritual, aturan, atau pencapaian lahiriah. Padahal, Paulus dan para Bapa Gereja mengingatkan bahwa inti kekristenan adalah relasi: Relasi yang hidup dengan Kristus, bukan daftar prestasi tentang Kristus. Di sinilah kelegaan rohani muncul: Kita tidak sedang mengejar sesuatu yang mustahil, tetapi menerima sesuatu yang sudah disediakan bagi kita.
Allah mengundang kita untuk berhenti membuktikan diri, dan mulai mempercayakan diri. Untuk berhenti berlari mengejar legitimasi rohani, dan mulai berjalan dalam damai sebagai anak-anak yang telah dikasihi. Ketika iman menjadi pusat, kasih karunia bekerja. Ketika kasih karunia bekerja, hidup mulai berubah, bukan karena tuntutan, tetapi karena pengenalan akan Dia yang telah membenarkan kita.
Hari ini, mungkin ada di antara kita yang merasa gagal sebagai orang tua, sebagai pelayan, sebagai pasangan, atau sebagai pribadi. Firman Tuhan berkata: datanglah. Bukan dengan daftar keberhasilan, tetapi dengan hati yang percaya. Kristus telah membenarkan kita. Dari pembenaran itu lahirlah kekuatan untuk hidup baru.
Berhentilah sejenak dari usaha membuktikan diri. Mulailah mempercayakan diri. Karena kita tidak menjadi benar agar Allah menerima kita, kita diterima, sehingga kita dimampukan hidup sebagai orang benar.
Renungan:
Kita tidak menjadi benar agar Allah menerima kita; kita diterima sehingga kita dapat hidup sebagai orang benar.
Lagu:
PKJ. No. 182:1-2 “Kuutus Kau”
Doa:
Ya Bapa, bimbing kami terus menghayati kasih dan perbuatan-Mu, supaya kami diteguhkan merespons perbuatan-Mu itu dengan karya kasih dan keadilan di dalam dunia ini. Amin.
Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.
Amin.
(VIP)





