SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Misi perutusan Yesus ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan akibat dosa. Oleh karena itu, seberat apapun dosa dan kelemahan kita, asal kita mau bertobat, maka Tuhan Yesus akan menyelamatkan kita dan bukan membinasakan. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 9: 51 – 56, yakni Yesus dan orang Samaria. Dalam bacaan Injil hari ini, ketika Yesus menetapkan hati-Nya untuk pergi ke Yerusalem, Ia mengutus para murid-Nya mendahului-Nya ke sebuah desa di Samaria. Namun, penduduk desa itu menolak menerima-Nya. Reaksi para murid, khususnya Yakobus dan Yohanes, sangat keras: mereka ingin api turun dari langit untuk membinasakan orang-orang itu. Tetapi Yesus menegur mereka. Ia tidak datang untuk menghukum, & membinasakan, melainkan untuk menyelamatkan. Yang perlu kita pahami bahwa di mata orang Yahudi, orang Samaria adalah kaum yang tersesat dan berdosa atau kaum kafir. Maka, penolakan mereka terhadap Yesus, memiliki alasan, karena mereka tidak layak menerima Yesus yang adalah orang Yahudi. Namun, mereka lupa kalau Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia yang datang untuk menyelamatkan orang berdosa, termasuk orang Samaria. Tetapi karena mereka menolak Yesus, maka mereka dianggap sebagai penolakan terhadap keselamatan. Namun Yesus tidak marah. Ia tidak memaksa. Ia memilih untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain, ke hati yang bersedia menerima-Nya. Jadi, Yesus mengajarkan bahwa keselamatan adalah pilihan. Ia menghormati kebebasan manusia, bahkan ketika itu berarti ditolak. Tetapi penolakan itu bukan tanpa konsekuensi. Orang Samaria kehilangan kesempatan emas: Sang Juruselamat telah datang ke kota mereka, namun mereka menutup pintu hatinya.
Bagaimana dengan kita?
Kita pun adalah orang berdosa, penuh kelemahan dan kegagalan. Tetapi Yesus tetap datang, mengetuk pintu hati kita. Ia tidak memaksa, tetapi Ia menanti. Ia mengasihi kita tanpa syarat, asal kita mau membuka hati, percaya, dan bertobat dari dosa & kelemahan kita.
Pertanyaan refleksi:
1. Apakah aku pernah menolak kehadiran Yesus dalam hidupku, baik secara sadar maupun lewat sikap dan pilihan hidupku?
2. Ketika menghadapi penolakan atau ketidakadilan, apakah aku bereaksi dengan amarah seperti para murid, atau belajar bersabar seperti Yesus?
3. Sudahkah aku bersyukur atas inisiatif Yesus yang datang untuk menyelamatkan, dan bagaimana aku mewujudkan penerimaan itu dalam iman dan pertobatan?
Selamat berefleksi




