Renungan hari ini: Dua Sentuhan Satu Kuasa

Renungan hari ini: Dua Sentuhan Satu Kuasa
Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

DAMAI SEJAHTERA bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda sungguh beriman kepada Yesus? Iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 5: 21 – 43, yakni Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan. Dalam bacaan Injil hari ini, di jalan yang sesak, dua keputusasaan berjalan berdampingan menuju satu harapan.
Yang pertama adalah seorang perempuan tanpa nama, menyimpan rahasia luka selama dua belas tahun. Setiap hari adalah pengasingan; setiap sentuhan dianggap kenajisan. Dalam kerumunan yang mendesak Yesus, ia menjulurkan jarinya dan menyentuh ujung jubah Yesus, sebuah sentuhan iman yang gigih, seperti tetes air yang percaya bisa menembus batu. Dan kuasa itu mengalir. Bukan dari kain jubah, melainkan dari Sumber yang mengenali setiap getar HATI yang percaya.
“Imanmu telah menyelamatkan engkau,” kata-Nya. Ia bukan lagi “perempuan najis”, melainkan “anak perempuan” yang dipulihkan. Di tengah mukjizat yang nyaris tak terlihat, terdengar teriakan putus asa: “Anakmu sudah mati!”
Itulah Yairus, sang ayah, yang harapannya seketika runtuh. Dua belas tahun usia anak perempuannya, sama lamanya dengan penderitaan perempuan itu. Di ruangan sunyi yang dipenuhi tangis, Yesus melakukan sentuhan kedua: tangan-Nya memegang tangan gadis kecil yang dingin. Lalu terdengar dua kata dalam bahasa sehari-hari, penuh keintiman:
“ Talita kum.”
Bangunlah, hai anak kecil. Itulah suara yang membelah diamnya kubur, mengubah “kematian final” menjadi “tidur sementara”. Tangan yang sama yang merasakan sentuhan iman dari luar, kini mengulurkan kuasa kehidupan dari dalam.

Dua sentuhan. Satu kuasa. Kisah ini berbisik kepada kita yang merasa menderita terlalu lama: “Sentuhlah Dia dengan iman.” Dan kisah ini berteriak kepada kita yang menghadapi kematian, kematian harapan, relasi, mimpi, atau semangat: “Dengarkan suara-Nya yang memanggil, ‘ Talita kum .’ Kuasa-Nya tidak pernah berkurang. Tidak habis oleh keputusasaan yang kronis, tidak terbatas oleh kematian yang absolut. Ia tetap yang sama: mau disentuh oleh iman kita yang sekecil apa pun, dan mau menyentuh kita dengan kuasa-Nya yang sebesar itu. Kini, keputusan ada di tangan kita: Maukah kita, seperti perempuan itu, menjulurkan tangan percaya? Maukah kita, seperti Yairus, tetap percaya ketika semua suara berkata, “Sudah terlambat”? Sentuhlah Dia hari ini. Dan dengarkan panggilan-Nya yang lembut namun penuh kuasa: “ Talita kum. Bangkitlah.”

Baca Juga :  *Mendirikan Rumah Di Atas Batu*

Pesan untuk kita

Jika kita merasa tertinggal, terkucil, atau kehilangan harapan, ingatlah bahwa satu sentuhan iman bisa mengalirkan kuasa pemulihan. Dan satu panggilan lembut dari-Nya bisa membangkitkan kembali apa yang kita anggap telah mati.
Jangan tunggu sempurna untuk percaya. Cukup julurkan tangan iman kita. Ia akan menyambut kita.

Pertanyaan refleksi

1. Seperti perempuan yang menjulurkan tangannya dengan iman, hal apa dalam hidupku saat ini yang perlu aku serahkan kepada Yesus dengan percaya penuh?
2. Ketika semua suara di sekitar berkata ‘sudah terlambat’, apakah aku tetap berani memegang janji Yesus dan mendengar suara-Nya yang berkata, “Talita kum”?
3. Bagaimana aku dapat mengalami dan membagikan kuasa pemulihan Yesus kepada orang lain yang sedang kehilangan harapan?
Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, kami percaya kuasa-Mu tidak pernah berkurang. Sentuhan iman sekecil apa pun Engkau terima, dan sentuhan tangan-Mu sanggup membangkitkan harapan yang telah mati. Pulihkanlah hati kami yang lelah, bangkitkanlah semangat kami yang pudar, dan ajarilah kami untuk selalu percaya pada panggilan-Mu: “Talita kum, bangkitlah.” Amin.