mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Cita-cita bersama semua manusia adalah ingin hidup yang Kekal. Itu tidak berarti kita tidak akan mati, melainkan kematian adalah pintu untuk hidup yang kekal. Bahwa raga kita akan hancur, binasa, tetapi jiwa kita akan tetap hidup. Namun, pertanyaan adalah hidup yang bagaimana? Apakah hidup yang bahagia atau menderita? Jawabannya terpulang kepada kita masing-masing.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 6: 44 – 51, yakni Roti hidup. Para saudaraku, pada dasarnya manusia ingin hidup selamanya, tetapi sering mengejar hal-hal yang fana. Olahraga, harta, reputasi, semuanya baik, namun tak ada yang mampu menembus liang kubur. Yesus menyingkapkan jalan lain: “Akulah Roti Hidup.” Percaya kepada-Nya bukan sekadar mengakui keberadaan Yesus, melainkan menyerahkan arah hidup sepenuhnya kepada-Nya. Percaya berarti membiarkan Firman-Nya menembus HATI, mengubah PIKIRAN, dan menuntun langkah. Percaya berarti menjadikan doa, ibadat , dan ekaristi sebagai relasi nyata, bukan ritual kosong. Percaya berarti ketaatan yang lahir dari CINTA, bukti bahwa kita sungguh telah “memakan” Roti itu. Hidup kekal bukan hanya durasi tanpa akhir, melainkan kualitas HIDUP dalam Allah sendiri, hidup yang tidak pernah padam, meski tubuh rapuh dan akhirnya binasa. Kematian bukan titik akhir, melainkan pintu menuju hadirat-Nya.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, bayangkan sebuah pesta kerajaan dengan roti yang menjamin hidup selamanya. Betapa aneh jika kita hanya memotret, mencatat resep, atau memuji kelezatannya, tetapi tidak pernah menyentuhnya. Demikianlah jiwa yang hanya tahu tentang Kristus tanpa sungguh percaya dan menyerahkan diri. Yesus telah turun dari surga, diremukkan di salib, agar menjadi Roti yang bisa kita makan hari ini. Ingatlah,
jangan berhenti sebagai penonton atau pengagum. Datanglah. Percayalah. dan Makanlah. Sebab hanya dengan sungguh percaya dan menyatu dengan Roti Hidup, kita memiliki hidup yang tidak pernah mati.
Pertanyaan refleksi
1. Apakah saya sungguh sudah “memakan” Roti Hidup, dengan menyerahkan arah hidup sepenuhnya kepada Yesus, atau baru sekadar mengagumi dan mengetahui tentang-Nya?
2. Bagaimana Firman Tuhan sungguh-sungguh membentuk keputusan, sikap, dan relasi saya setiap hari, bukan hanya menjadi pengetahuan di kepala?
3. Dalam hal apa ketaatan saya kepada Kristus menjadi bukti nyata bahwa saya hidup dari Roti Hidup, bukan dari roti dunia yang cepat habis?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus,
Engkaulah Roti Hidup yang turun dari surga. Aku datang kepada-Mu bukan hanya untuk mengenal-Mu, tetapi untuk sungguh percaya dan menyerahkan seluruh hidupku kepada-Mu. Ajarlah aku “memakan” Roti Hidup setiap hari, hidup dari Firman-Mu, bersekutu dalam doa, dan taat karena KASIH. Teguhkan imanku agar aku memiliki HIDUP yang tidak pernah mati, dan mampu membagikannya dalam KASIH kepada sesama.
Amin.



