RENUNGAN HARIAN GKPI “TERANG HIDUP”
Rabu, 22 April 2026
PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita, Yesus Kristus.
Kiranya damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan dari Tuhan perlahan mengalir dan memenuhi setiap ruang hati kita, bahkan di saat kita merasa lelah, kosong, atau seolah tidak baik-baik saja.
Saudara-saudari yang terkasih,
Seringkali kita berjalan dengan beban pikiran tentang masa depan, kekhawatiran yang belum tentu terjadi, dan luka-luka yang masih tersimpan. Namun hari ini Tuhan mengajak kita untuk berhenti sejenak… menarik nafas… dan kembali percaya.
Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Dalam setiap langkah kecil kita, bahkan saat iman terasa lemah, Tuhan tetap bekerja dengan cara-Nya yang indah.
Renungan ini disampaikan oleh:
Amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th.
_”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”_ (Filipi 2:5)
Seorang profesor yang sangat terpelajar mengunjungi seorang bijak untuk bertanya tentang makna hidup. Sepanjang pertemuan, sang profesor terus-menerus berbicara tentang teori-teori hebat, gelar yang ia miliki, dan pengetahuannya yang luas, tanpa memberi kesempatan kepada sang bijak untuk berbicara. Sang bijak kemudian mulai menyajikan teh. Ia menuangkan teh ke dalam cangkir sang profesor. Cangkir itu terisi penuh, namun sang bijak terus saja menuangkan teh tersebut. Air teh mulai meluap, membasahi meja, dan tumpah ke lantai. “Berhenti!” seru sang profesor. “Cangkirnya sudah penuh! Tidak bisa menampung setetes pun lagi!” Sang bijak meletakkan tekonya dan berkata dengan lembut, “Sama seperti cangkir ini, Anda datang dengan pikiran yang penuh dengan diri sendiri, kebanggaan, dan pendapat Anda sendiri. Bagaimana saya bisa menunjukkan kepada Anda kebenaran, jika Anda tidak mengosongkan cangkir Anda terlebih dahulu?”
Filipi 2:5 bukan sekadar nasihat moral, melainkan panggilan untuk melakukan “Kenosis” atau pengosongan diri. Kristus Yesus, meskipun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi hamba. Seringkali “cangkir” hidup kita terlalu penuh dengan keinginan untuk selalu benar, sehingga kita sulit mendengarkan orang lain. Hidup kita sering dengan kebanggaan akan posisi atau gelar, sehingga kita merasa terlalu tinggi untuk melayani hal-hal kecil. Hidup kita sering penuh dengan luka masa lalu, sehingga tidak ada ruang bagi kasih yang baru.
Menaruh pikiran dan perasaan yang ada dalam Kristus berarti berani berkata: “Tuhan, hari ini aku kosongkan egoku, aku turunkan gengsiku, aku buang kemarahan dan kebencianku, agar kasih-Mu bisa memenuhi hatiku dan meluap kepada orang lain.” Kerendahan hati bukanlah menganggap diri kita rendah, tetapi memikirkan diri sendiri secara lebih berkurang (thinking of yourself less), agar Kristus menjadi yang utama.
*Inti Renungan:*
Menaruh perasaan dan pikiran seperti yang terdapat pada Kristus Yesus berarti meneladani-Nya dengan aksi nyata bersedia mengosongkan diri dan memberi hidup menjadi berkat.
*Lagu:*
KJ No. 363:1,2 “Bagi Yesus Kuserahkan”
*Doa:*
Bapa yang baik, ajarlah aku untuk memiliki hati yang terbuka dan kosong dari keangkuhan. Seperti Yesus yang melepaskan hak-Nya demi menyelamatkan kami, mampukan aku hari ini untuk melepaskan hakku untuk dihormati atau dipuji, dan gantikanlah itu dengan kerinduan untuk melayani sesama dengan tulus. Biarlah hidupku menjadi cangkir yang kosong yang siap Engkau isi dengan kasih-Mu. Amin.
Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.
Amin.
(VIP)



