Inspirasi dari Film Eternity (2025) SIAPA YANG LEBIH MENCINTAI DAN MEMBUATKU BAHAGIA?

Inspirasi dari Film Eternity (2025) SIAPA YANG LEBIH MENCINTAI DAN MEMBUATKU BAHAGIA?

mediasumatera.id – Seorang lelaki tua tersedak pretzel di tengah pesta kecil keluarga. Tak ada musik mencekam. Tak ada ledakan. Tak ada darah.

Hanya suara panik yang sederhana. Kursi jatuh. Gelas pecah. Dan seorang perempuan tua yang berteriak memanggil nama suaminya dengan suara yang terdengar seperti separuh jiwanya ikut runtuh.

Beberapa menit sebelumnya mereka masih saling berdebat kecil. Tentang kebiasaan sang suami makan terlalu cepat. Tentang hal remeh yang hanya dipahami pasangan yang sudah hidup bersama terlalu lama.

Enam puluh lima tahun pernikahan membuat cinta mereka tak lagi romantis seperti puisi remaja. Cinta berubah menjadi teguran kecil, obat yang diingatkan, selimut yang dirapikan diam-diam ketika malam, atau secangkir teh hangat yang diletakkan tanpa banyak kata.

Namun justru di situlah film ini menghantam hati saya.

Kita sering mengira cinta terbesar adalah cinta yang membuat dada berdebar. Padahal mungkin cinta terdalam adalah seseorang yang hafal cara kita batuk, tahu kapan kita diam karena sedih, dan tetap memilih tinggal ketika hidup tak lagi menarik.

Di atas pesawat, perjalanan panjang Houston menuju Tokyo sebelum kembali ke Jakarta, saya menonton film ini sambil menatap lampu kabin yang redup.

Dan untuk pertama kali setelah lama, saya tersentak oleh pertanyaan yang diam-diam menghantui banyak manusia:

Siapa sebenarnya yang lebih mencintai kita?

Dan lebih penting lagi:

Siapa sebenarnya yang sungguh membuat kita bahagia?

-000-

Film Eternity dirilis tahun 2025. Disutradarai David Freyne, dengan skenario ditulis Pat Cunnane bersama David Freyne.

Tiga pemeran utamanya adalah Elizabeth Olsen sebagai Joan, Miles Teller sebagai Larry, dan Callum Turner sebagai Luke. Dengan produksi visual khas A24, film ini terasa puitis, sunyi, namun menghantam emosi sangat dalam.

Film ini tidak mengejar kemegahan efek komputer. Ia memilih sesuatu yang jauh lebih sulit: menyentuh luka paling sunyi dalam jiwa manusia.

Kisahnya unik. Tentang cinta segitiga di alam akherat. Namun dunia akherat di sini bukan ruang horor atau penghakiman. Ia hadir sebagai ruang kontemplasi tentang pilihan, kenangan, kehilangan, dan makna kebahagiaan.

Sinematografinya sangat puitis.

Warna pegunungan tempat Joan bersama Luke dipenuhi cahaya muda yang romantis, seperti nostalgia cinta pertama yang belum sempat rusak oleh kenyataan.

Sebaliknya, dunia pantai bersama Larry terasa hangat, sederhana, bahkan sedikit kusam. Namun justru di situlah rasa damai muncul.

Kamera sering diam terlalu lama pada wajah karakter. Pada tangan yang gemetar. Pada tatapan kosong setelah kehilangan. Pada senyum kecil yang terlambat disadari nilainya.

Film ini tidak sibuk menjelaskan logika akherat. Ia lebih tertarik menjelaskan hati manusia.

Saya menontonnya ketika sebagian penumpang pesawat sudah tertidur. Di luar jendela hanya gelap samudra Pasifik.

Dan entah mengapa, di antara suara mesin pesawat dan lampu kabin yang remang, film ini terasa sangat pribadi.

Karena semakin bertambah usia, pertanyaan tentang cinta tidak lagi sederhana.

Bukan lagi:

“Siapa yang paling membuatku jatuh cinta?”

Melainkan:

“Siapa yang tetap tinggal ketika hidup menjadi sulit?”

-000-

Baca Juga :  Freddy Situmorang Bacabup Dan Andreas Simbolon Bacabup Sambangi Kampung Ulos Huta Raja Huta Marga Simarmata Dosi Raja

Larry dan Joan adalah pasangan tua yang telah menikah selama 65 tahun. Mereka tampak seperti pasangan biasa yang sering berdebat soal hal kecil.

Namun diam-diam Joan menyimpan rahasia: kanker terminal yang segera merenggut hidupnya.

Di sebuah pesta keluarga, Larry melihat foto Luke, suami pertama Joan yang tewas dalam Perang Korea. Beberapa menit kemudian, Larry meninggal mendadak karena tersedak pretzel.

Kematian itu menjadi pintu menuju dunia akherat.

Larry terbangun sebagai versi mudanya di dalam kereta menuju sebuah tempat bernama Junction. Di sana setiap jiwa harus memilih “Eternity”, dunia keabadian yang akan mereka tinggali selamanya.

Larry memilih menunggu Joan.

Tak lama kemudian Joan meninggal dan tiba di Junction. Namun ia tidak hanya bertemu Larry. Ia juga bertemu Luke, cinta pertamanya yang ternyata telah menunggu selama 67 tahun.

Di sinilah inti tragedi dimulai. Joan diminta petugas akherat untuk memilih: Ia ingin abadi bersama Luke, suami pertama yang wafat karena bertugas perang, cinta pertamanya yang nenggebu. Atau bersama Luke, suami kedua yang menemaninya selama 65 tahun, setelah kematian Luke.

Joan diberi kesempatan mencoba dua kehidupan keabadian: bersama Luke di pegunungan romantis penuh nostalgia muda, dan bersama Larry di dunia pantai sederhana yang menyerupai kehidupan nyata mereka dahulu.

Bersama Luke, Joan merasakan kembali gairah cinta pertama. Cinta yang belum sempat rusak oleh rutinitas, tagihan belanja, anak-anak, pertengkaran, dan usia tua.

Namun bersama Larry, Joan menemukan sesuatu yang berbeda. Bukan ledakan emosi. Melainkan kehangatan kecil yang pelan-pelan membentuk rumah di dalam jiwa.

Jaan tersentak. Ia panik. Ia takut. Ia serba tak enak. Ia mencintai keduanya secara penuh, di periode hidup yang berbeda. Kedua pria ini juga sama sama menanti, bersaing, berkelahi, dan menunggu keputusannya.

Dengan susah payah, dan demi menjaga hati keduanya, Joan memutuskan tak memilih siapapun. Ia ingin hidup sendiri saja. Tak tega ia menyakiti salah satu dari mantan suami.

Karena keduanya tak terpilih, Luke dan Lary akhirnya saling akrab. Mereka menghabiskan waktu bersama, sama – sama patah hati, dan saling cerita kisah cintanya terhadap Joan.

Larry, suami kedua, terharu. Ia melihat betapa kuat cinta Luke pads Joan. Tapi mereka hanya menikmati pernikahan setahun- dua tahun saja, karena Luke dikirim ke Korea untuk perang dan mati.

Tanpa diminta siapapun, Larry membujuk Joan untuk hidup bersama Luke saja. Larry merasa cintanya pada Joan dan cinta Joan padanya tidak sehebat dan seromantis Luke pada Joan.

Karena didesak Larry untuk memilih Joan, dan Larry berjanji ikhlas, Joan akhirnya memilih Luke untuk hidup abadi.

Namun setelah menjalani cinta yang romantis dan menggebu kembali bersama Luke, Joan merasa ada yang hilang. Ia sering ke perpustakaan untuk melihat kembali hidupnya di masa lalu, justru dengan Larry, dengan anak- anak mereka. Ini cinta yang tak menggebu, yang sering konflik, dan hidup yang lebih datar.

Akhirnya Joan menyadari: yang paling membahagiakan bukan selalu cinta yang paling indah di awal.

Baca Juga :  Danyonif 121/MK Gelar PORMK Diantaranya Lomba Renang

Melainkan cinta yang bertahan melewati penderitaan bersama. Larry bahkan rela melepaskan Joan demi kebahagiaannya.

Dan justru karena itulah Joan akhirnya memilih kembali kepada Larry. Karena cinta sejati ternyata bukan tentang memiliki. Tetapi tentang membuat orang lain tetap utuh.

-000-

Yang paling istimewa dari film ini adalah keberaniannya menggunakan alam akherat hanya sebagai medium psikologis.

Film ini bukan terutama tentang surga atau kehidupan setelah mati. Film ini sesungguhnya tentang pertanyaan paling manusiawi:

Apakah yang membuat kita bahagia selalu sama dengan yang paling mencintai kita?

Kadang tidak.

Luke mencintai Joan dengan intensitas romantis yang luar biasa. Ia menunggu selama 67 tahun. Ia membawa nostalgia cinta muda yang nyaris suci.

Namun hidup bersama Larry membentuk sesuatu yang jauh lebih dalam.

Cinta yang mencuci piring bersama.
Cinta yang membayar tagihan bersama. Cinta yang merawat ketika sakit. Cinta yang bertahan bahkan setelah gairah perlahan memudar.

Film ini menunjukkan bahwa manusia sering keliru memahami kebahagiaan. Kita terlalu mudah terpikat pada kenangan indah yang belum sempat rusak oleh kenyataan.

Padahal kebahagiaan sejati sering lahir justru dari luka yang dilewati bersama. Dari kegagalan yang dihadapi bersama. Dari usia tua yang dijalani bersama.

Saya teringat banyak pasangan yang tampak biasa saja dari luar. Tidak romantis. Tidak puitis. Tidak viral di media sosial.

Namun ketika salah satunya meninggal, separuh hidup yang lain ikut runtuh. Karena ternyata cinta terdalam bukan selalu cinta yang paling bergelora. Tetapi cinta yang diam-diam menjadi rumah.

Film ini juga menyampaikan sesuatu yang sangat menyakitkan:

Kadang kita baru menyadari siapa yang paling membahagiakan kita setelah ia hampir hilang. Dan mungkin itulah tragedi terbesar manusia.

-000-

Dua buku ini menambah wawasan kita tentang apa arti cinta dalam hubungan personal yang sejati.

Buku pertama adalah The Road Less Traveled karya M. Scott Peck.

Peck menjelaskan bahwa cinta bukan terutama perasaan, melainkan tindakan kehendak untuk merawat pertumbuhan spiritual orang lain.

Itulah sebabnya cinta sejati selalu mengandung disiplin, pengorbanan, dan komitmen jangka panjang.

Banyak orang gagal memahami cinta karena mereka hanya mengejar sensasi emosional. Mereka mengira jatuh cinta adalah puncak hubungan.

Padahal menurut Peck, jatuh cinta hanyalah tahap biologis sementara. Yang jauh lebih penting adalah keputusan sadar untuk tetap hadir ketika kehidupan menjadi berat.

Dalam konteks film Eternity, Luke mewakili romantisme cinta muda. Sedangkan Larry mewakili cinta dewasa yang telah melewati penderitaan bersama.

Peck menulis bahwa hubungan terdalam justru lahir ketika dua manusia bersedia menghadapi ketidaksempurnaan satu sama lain tanpa pergi.

Itulah sebabnya Joan akhirnya memilih Larry.

Karena Larry tidak hanya mencintainya ketika hidup terasa indah. Ia tetap tinggal ketika tubuh menua, ketika gairah menurun, ketika pertengkaran menjadi rutinitas.

Buku ini mengubah cara saya melihat cinta. Bahwa cinta sejati bukan seseorang yang membuat jantung kita berdebar paling keras.

Melainkan seseorang yang membuat jiwa kita merasa aman pulang.

-000-

Buku kedua adalah Attached karya Amir Levine dan Rachel Heller.

Baca Juga :  Di Tengah Renovasi Rumah Allah, Allah Menyatakan KeselamatanNya

Buku ini menjelaskan teori attachment dalam psikologi hubungan manusia.

Menurut teori ini, manusia tidak hanya membutuhkan gairah cinta. Kita membutuhkan rasa aman emosional.

Dan rasa aman itu jauh lebih menentukan kebahagiaan jangka panjang. Film Eternity menggambarkan teori ini dengan sangat indah.

Luke memberikan nostalgia cinta pertama yang intens. Namun Larry memberikan secure attachment. Kehadiran yang stabil. Tempat pulang emosional.

Joan akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan bukan selalu soal perasaan paling tinggi. Tetapi soal siapa yang membuat jiwa kita tenang.

Buku ini juga menjelaskan mengapa manusia sering salah memilih pasangan. Kita terlalu tertarik pada chemistry sesaat, padahal yang menentukan kualitas hidup puluhan tahun adalah rasa aman emosional.

Saya teringat banyak orang sukses yang terlihat hebat di luar, namun jiwanya hancur karena pulang ke hubungan yang membuat mereka merasa sendirian.

Sebaliknya, ada pasangan sederhana yang hidup biasa saja, namun memiliki ketenangan batin luar biasa karena merasa diterima sepenuhnya.

Film Eternity pada akhirnya berbicara tentang itu. Tentang rumah emosional. Tentang seseorang yang membuat kita tidak perlu berpura-pura.

Dan mungkin, di dunia yang semakin bising hari ini, itulah bentuk cinta paling langka.

-000-

Namun, film ini bukan sekadar pelarian imajiner. Ia adalah cermin tajam bahwa di dunia nyata, kita tak punya kesempatan kedua di Junction untuk memilih ulang siapa yang paling layak dicintai.

Di atas pesawat Houston menuju Tokyo, ketika film itu selesai, layar kabin perlahan gelap.

Sebagian penumpang tertidur. Sebagian membaca. Sebagian memandang kosong ke luar jendela.

Saya justru diam cukup lama.

Karena saya sadar, hidup manusia pada akhirnya mungkin tidak diukur oleh seberapa banyak orang mengagumi kita.

Tetapi oleh satu pertanyaan sederhana: Siapa yang tetap tinggal ketika seluruh dunia berubah?

Namun film ini juga diam-diam membalik pertanyaannya kepada saya sendiri. Bukan hanya siapa yang membuatku bahagia, melainkan: sudahkah aku menjadi rumah bagi seseorang yang diam-diam memilih tinggal?

Film Eternity mengajarkan bahwa cinta terbesar bukan cinta yang paling spektakuler. Bukan yang paling dramatis. Bukan yang paling membuat kita mabuk sesaat.

Melainkan cinta yang diam-diam menjaga kita tetap waras, tetap utuh, dan tetap merasa pulang.

Dan ketika usia semakin menua, mungkin itulah definisi kebahagiaan yang sesungguhnya.

Bukan menemukan seseorang yang membuat hidup terasa seperti api.
Tetapi seseorang yang membuat hidup terasa seperti rumah.

Karena pada akhirnya, manusia tidak mati karena kurang dicintai, melainkan karena terlalu lama hidup tanpa merasa benar-benar dipahami.***

(Di atas pesawat, Tokyo-Jakarta, 9 Mei 2026)

-000-

REFERENSI

1. The Road Less Traveled
Penulis: M. Scott Peck
Penerbit: Simon & Schuster
Tahun Terbit: 1978

2. Attached
Penulis: Amir Levine dan Rachel Heller
Penerbit: TarcherPerigee
Tahun Terbit: 2010

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1KcTWm3CjD/?mibextid=wwXIfr