RENUNGAN HARIAN GKPI “TERANG HIDUP
Selasa, 24 Maret 2026
PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Kiranya damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan dari Tuhan perlahan mengalir memenuhi hati kita, bahkan di saat kita merasa lelah, kosong, atau tidak baik-baik saja.
Hari-hari ini kita sedang berjalan dalam masa Pra Paskah…
sebuah perjalanan sunyi yang mengajak kita untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan.
Di tengah kesibukan, mungkin kita sering lupa, bahwa ada hati yang perlu dipulihkan, ada luka yang perlu diserahkan, dan ada hubungan dengan Tuhan yang perlu diperdalam kembali.
Pra Paskah bukan hanya tentang menunggu hari kemenangan…
tetapi tentang berani melihat ke dalam diri.
Apakah hati kita masih sungguh mengasihi Tuhan?
Atau justru mulai dingin karena kecewa, lelah, dan beban hidup?
Apakah iman kita masih menyala… atau hanya tersisa sebagai kebiasaan tanpa rasa?
Sering kali kita tersenyum di luar, tetapi di dalam hati kita sedang rapuh.
Kita terlihat kuat di depan orang lain, tetapi diam-diam kita sedang berjuang sendirian.
Namun hari ini Tuhan mengingatkan kita…
bahwa kita tidak pernah sendiri.
KasihNya tidak berubah, bahkan ketika kita menjauh.
PelukanNya tetap terbuka, bahkan ketika kita merasa tidak layak.
Bagaimana kabar Saudara/i hari ini?
Apapun keadaanmu, baik sedang bersukacita, berduka, atau sedang berjuang dalam diam, Tuhan melihat setiap air mata yang mungkin tidak pernah dilihat orang lain.
Dia mengerti setiap pergumulan yang tidak sempat terucap.
Renungan ini disampaikan oleh Amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th., sebagai penguatan iman bagi kita semua.
Kiranya melalui masa Pra Paskah ini, kita tidak hanya berjalan… tetapi benar-benar kembali.
Kembali kepada Tuhan dengan hati yang hancur namun rindu dipulihkan.
Kembali dengan iman yang mungkin kecil, tetapi ingin kembali menyala.
“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” (Wahyu 1:8)
Pernah dengar lagu himne klasik “It Is Well With My Soul” (Nyamanlah Jiwaku)? Penulisnya adalah seorang pengacara sukses bernama Horatio Spafford pada abad ke-19. Inilah kisah Horatio Spafford: “Di Balik Gelombang yang Menghancurkan”.
Alfa: Hidup yang Sempurna. Horatio Spafford memiliki segalanya. Dia adalah pengacara ternama di Chicago, punya keluarga harmonis dengan empat putri cantik, dan merupakan sahabat dekat penginjil terkenal D.L. Moody. Hidupnya tampak seperti “Alfa” yang ideal, awal yang diberkati dan penuh rencana hebat. Titik Omega: Kehilangan Segalanya. Dalam sekejap, dunianya runtuh berkeping-keping. Pertama, kebakaran besar di Chicago menghanguskan hampir seluruh hartanya. Kedua, saat ia mengirim istri dan keempat putrinya berlibur ke Eropa dengan kapal laut, kapal itu bertabrakan dan tenggelam. Semua putrinya meninggal dunia. Istrinya selamat dan mengirim telegram singkat yang menyayat hati: “Saved alone…” (Hanya aku yang selamat). Bagi Horatio, ini adalah Omega. Titik akhir. Hidupnya terasa berhenti di tengah samudera yang gelap. Tidak ada lagi masa depan, tidak ada lagi melodi.
Alfa dan Omega: Pertemuan di Tengah Samudera
Horatio segera naik kapal untuk menyusul istrinya. Saat kapal yang ia tumpangi melewati titik persis di mana anak-anaknya tenggelam, kapten kapal memanggilnya dan berkata, “Di sinilah lokasi kecelakaan itu.” Di titik yang paling menyakitkan itu, di titik yang seharusnya menjadi “akhir” dari imannya, Horatio justru merasakan kehadiran Tuhan yang luar biasa. Dia tidak melihat maut sebagai akhir (Omega), tapi melihat Tuhan sebagai pemegang kendali atas segalanya. Di atas kapal itu, dia menulis lirik yang mengguncang dunia: “When peace like a river attendeth my way, when sorrows like sea billows roll… It is well, it is well with my soul.”
Kisah Horatio membuktikan bahwa Tuhan sebagai Alfa dan Omega bukan berarti hidup kita akan selalu mulus, melainkan Tuhan Melampaui Definisi “Akhir”: Bagi dunia, kematian anak-anak Horatio adalah akhir (Omega) dari kebahagiaannya. Tapi bagi Tuhan, itu menjadi awal (Alfa) dari sebuah kesaksian yang menguatkan jutaan orang hingga ratusan tahun kemudian. Horatio menyadari bahwa Tuhan yang memberinya kebahagiaan di awal (Alfa), adalah Tuhan yang sama yang memeluknya di tengah kedukaan (Omega). Kepastian Akhir yang Indah: Lagu itu diakhiri dengan harapan akan kedatangan Tuhan kembali. Horatio tahu bahwa “Omega” yang sebenarnya bukanlah kematian, melainkan pertemuan abadi dengan Sang Pencipta.
Mungkin saat ini kamu merasa duniamu sedang “tenggelam” seperti kapal Horatio. Kamu merasa ini adalah akhir dari impian atau kebahagiaanmu. Ingatlah, Tuhan adalah Alfa dan Omega. Dia tidak pernah meninggalkan kapalmu. Di titik yang paling dalam sekalipun, Dia sanggup memberikan kedamaian yang tidak masuk akal, karena Dia tahu bagaimana akhir dari cerita yang sedang Dia tulis dalam hidupmu.
Renungan:
Jika Tuhan yang memegang “pena” untuk menulis bab pertama hidupmu, jangan takut memberikan-Nya izin untuk menulis bab terakhirnya. Penulis yang baik tidak pernah meninggalkan karyanya setengah jadi.
Lagu:
KJ No. 363:1,2
“Bagi Yesus Kuserahkan”
Doa:
Ya Tuhan, Allah Yang Mahakuasa, Sang Alfa dan Omega.
Tuhan, saat aku merasa berada di titik Omega, titik di mana aku merasa lelah, gagal, atau kehilangan harapan, ingatkanlah hatiku bahwa Engkau ada di sana. Ubahlah akhir yang menyakitkan itu menjadi Alfa yang baru, awal dari sebuah kesaksian yang indah tentang anugerah-Mu. Amin.
Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.
Amin.
(VIP)




