DIPILIH, DIKASIHI, DIUNDANG UNTUK MENJADI MILIK-NYA

DIPILIH, DIKASIHI, DIUNDANG UNTUK MENJADI MILIK-NYA

“RENUNGAN HARIAN GKPI “TERANG HIDUP”

mediasumatera.id – “Sebab di dalam Dia Allah telah memilihkita  sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.  Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya,  sesuai dengan kerelaan  kehendak-Nya.” (Efesus 1:4-5)

Ada sesuatu yang sangat menggetarkan ketika kita menyadari bahwa hidup ini bukan kebetulan. Paulus, melalui Surat Efesus, menegaskan bahwa sebelum dunia terbentuk, Allah sudah menaruh kasih dalam rancangan-Nya, kasih yang memilih, menguduskan, dan mengangkat manusia sebagai anak-anak-Nya. Ini bukan sekadar doktrin. Ini adalah undangan untuk melihat kehidupan dengan cara yang baru. Kita bukan berjalan tanpa arah, tetapi berjalan di dalam rancangan kasih yang lebih dulu melihat kita, mengenal kita, dan menghendaki kita.

Saya pernah mendengar kisah nyata seorang pemuda yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua. Ia besar dari satu rumah kerabat ke rumah lainnya, sering merasa tidak diinginkan dan tidak punya tempat yang benar-benar bisa disebut “rumah.” Suatu hari ia mengikuti sebuah retret rohani, dan salah satu pembicara berbicara tentang Efesus 1:4–5. Saat mendengar kalimat “ditentukan dari semula untuk menjadi anak-Nya,” ia menangis lama sekali. Belakangan ia berkata, “Untuk pertama kalinya saya merasa ada seseorang yang benar-benar menginginkan saya, bahkan sebelum saya ada.” Sejak itu, ia mulai menjalani hidup bukan sebagai seseorang yang merasa ditinggalkan, tetapi sebagai pribadi yang sadar bahwa dirinya diinginkan, dipilih, dan dikasihi.

Refleksi ini menemukan resonansi yang indah dalam pemikiran Agustinus dari Hippo, Bapa Gereja yang hidup tahun 354-430, sekaligus menjadi rujukan utama dalam teologi Martin Luther. Dalam gaya pengutipan naratif yang berbeda dari sebelumnya, kita melihat bagaimana Agustinus memahami kasih Allah bukan sebagai respons terhadap kebaikan manusia, tetapi sebagai inisiatif yang mendahului segala sesuatu. Ia menggambarkan bahwa sejak kekekalan, Allah telah “memikirkan” manusia, bukan sebagai objek, melainkan sebagai anak-anak yang hendak dipeluk dalam rumah-Nya. Dalam renungan-renungannya, Agustinus sering menegaskan bahwa pemilihan Allah bukan tentang eksklusivitas, tetapi tentang undangan: bahwa Allah menghendaki manusia hidup dalam relasi kasih, bukan keterasingan. Ia menulis bahwa kasih Allah “mendahului setiap langkah manusia,” dan itulah yang memungkinkan manusia kembali kepada-Nya.

Baca Juga :  Anak Manusia Datang Dengan Tak Diduga

Pesan Efesus 1:4–5 ini menghadirkan harapan bagi jemaat yang bergumul dengan identitas, rasa tidak layak, atau luka masa lalu. Kesadaran bahwa diri “dipilih” bukan berdasarkan prestasi membuka ruang penyembuhan yang dalam: Manusia tidak harus menjadi sempurna dulu untuk dikasihi; justru kasih Allah-lah yang memampukan manusia bertumbuh. Dan secara komunitas, ayat ini mengingatkan bahwa gereja bukan kumpulan orang yang berhasil, tetapi keluarga yang dibentuk oleh anugerah.

Ketika kita menjalani hari ini, pesan Paulus mengajak kita untuk menyandarkan hidup pada identitas yang tidak berubah: bahwa kita adalah milik Allah: dipilih, dikasihi, dan diundang untuk hidup dalam kehangatan rumah yang disebut Kerajaan-Nya.

Renungan:
Kasih Allah mendahului kita, menyertai kita, dan menuntun kita menjadi diri yang Ia kehendaki.

Lagu:
KJ. No. 362:1
“Aku milik-Mu Yesus Tuhanku”

Doa:
Hati kami tidak kunjung tenteram ya Tuhan, hingga kami menemukan ketenteraman di dalam Engkau. Oleh rangkulan-Mu hidup kami dalam makna dan keteguhan. Hadirlah senantiasa dalam hidup kami, ya Tuhan. Amin.

Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.
Amin.

(VIP)