Jalan Sempit Masuk Kerajaan Surga

Jalan Sempit Masuk Kerajaan Surga

SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Semoga saya menjumpai Anda di hari ini, dalam keadaan sehat, damai dan bahagia lahir dan batin.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 19: 23 – 30, yakni orang muda yang kaya dan upah mengikut Yesus. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata, “desungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Namun, ayat ini bukanlah penolakan terhadap orang kaya, melainkan sebuah undangan untuk melewati jalan sempit, jalan yang menuntut penyangkalan diri, pengorbanan, dan kasih yang nyata. Ingatlah, bahwa Kerajaan Surga terbuka bagi siapa saja, entah dia kaya maupun dia miskin. Bukan status materi yang menentukan, melainkan kekayaan rohani atau spiritual yang diwujudkan dalam TINDAKAN KASIH. Artinya tidak semua orang kaya sukar masuk ke dalam Kerajaan Surga, jika ia bermurah hati, & menggunakan kekayaannya untuk: melayani, berbagi, dan berbelas kasih kepada yang berkekurangan. Itu berarti ia kaya secara materi, tetapi juga kaya secara rohani. Dan sebaliknya, orang miskin tidak otomatis masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sebab, jika ia miskin secara materi dan miskin secara rohani atau spiritual, & hatinya tertutup, penuh iri, atau tidak mau berbagi dari kekurangan, maka ia pun belum siap melewati jalan sempit itu.

Puncta Renungan: Pertama Jalan sempit adalah jalan salib, jalan pengorbanan, penyangkalan diri, dan KASIH yang aktif Kedua Kekayaan rohani atau spiritual tidak diukur dari isi dompet, tetapi dari isi hati yang rela berbagi dan melayani sesama, terlebih yang membutuhkan.
Ketiga Kerajaan Surga bukanlah hadiah otomatis, melainkan buah dari hidup yang dijalani dalam KASIH, KERENDAHAN hati, dan PENGORBANAN.

Baca Juga :  *Meninggalkan 99 ekor domba demi mencari Seekor Yang Tersesat* 

Pertanyaan Refleksi:

1. Dalam keseharian hidupku, apakah aku sudah menggunakan berkat dan kekayaan, baik materi maupun rohani, untuk melayani dan berbagi dengan sesama yang berkekurangan?
2. Apakah aku bersedia berjalan di jalan sempit, yaitu jalan salib yang menuntut penyangkalan diri, pengorbanan, dan KASIH yang tulus kepada orang lain?
3. Jika Tuhan melihat isi hatiku hari ini, apakah Ia akan menemukan kekayaan rohani atau spiritual yang nyata dalam sikap MURAH hati, KERENDAHAN hati, dan perbuatan KASIH?
Selamat berefleksi🙏🙏