Jangan Pernah Mencemarkan Aib Orang Lain

Jangan Pernah Mencemarkan Aib Orang Lain

SEMANGAT PAGI, mediasumatera.id – sahabat-sahabat Yesus. Salam sehat dan sukses. Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. Sebab dengan bersyukur hidup Anda akan selalu bahagia dalam segala situasi.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 1: 18 – 24, yakni kelahiran Yesus Kristus. Hal ini disampaikan oleh malaikat Tuhan kepada Maria yang bertunangan dengan Yusuf. Namun sebelum mereka hidup sebagai suami istri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus. Seorang perempuan yang mengandung di luar nikah secara resmi dianggap aib. Maka Yusuf ingin menceraikan Maria tunangannya secara diam-diam, karena ia tidak ingin mempermalukan dengan mencemarkan Maria tunangannya itu di masyarakat. Walaupun mungkin secara manusiawi Yusuf kecewa, kesal, dengan tunangannya itu, tetapi Yusuf sangat bijaksana dan tulus hati tidak mau mempermalukan dengan mencemarkan Maria tunangannya itu. Oleh karena bijaksana dan tulus hatinya itulah, maka malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yusuf dalam mimpi dan menjelaskan apa yang terjadi pada diri Maria tunangannya itu. Malaikat itu berkata kepada Yusuf: ” Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Maria akan melahirkan anak laki-laki, dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka”. Yang menarik adalah Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. Sikap yang ditunjukkan oleh Yusuf ini ketika menghadapi masalah harus kita tiru. Apalagi masalah yang berkaitan dengan moral atau aib seseorang. Yusuf tidak mau mempermalukan dengan mencemarkan Maria dengan tetangga atau orang-orang lain di masyarakat. Tidak ada sedikitpun dalam diri Yusuf niat untuk mau menjatuhkan Maria, meskipun ia kecewa, kesal, marah. Kata kuncinya adalah keterbukaan hatinya kepada Tuhan. Inilah kebijaksanaan dan sikap tulus hati karena keterbukaan hatinya kepada Tuhan. Kebijaksanaan dan sikap tulus hati menjadikan Yusuf melakukan discerment atau penegasan untuk mempertimbangkan dengan bijaksana, tidak tergesa-gesa, tidak terbawa emosi karena kecewa, kesal dan marah. Namun buah dari kebijaksanaan dan sikap tulus hatinya itu ialah ia mendapatkan penampakan dari malaikat Tuhan menjelaskan apa yang terjadi pada diri Maria tunangannya itu. Akhirnya Yusuf pun menerima tugas dan tanggungjawab untuk memberikan nama kepada bayi yang ada di dalam kandungan Maria dan untuk menjadi kepala keluarga kudus Nazaret. Bagaimana dengan kita? Kita harus belajar dari Yusuf yang memiliki sikap hati yang terbuka kepada Tuhan, bijaksana dan tulus hati. Sikap bijaksana, terbuka dan tulus hati, menjadikan Yusuf tidak ada sedikitpun niat untuk menjatuhkan, dengan mempermalukan dan mencemarkan Maria tunangannya itu. Sebagai murid dan pengikut Yesus, hendaklah kita mencontohi atau meneladani sikap seperti Yusuf. Jangan sekali kali kita menjatuhkan dengan mencemarkan atau menjelek-jelekkan atau menceritakan keburukan atau kelemahan orang lain sekalipun dia pesaing kita. Ingatlah, kita tidak jauh lebih baik dari orang lain. Semua orang pasti pernah berbuat dosa dan kesalahan, namun yang terpenting dia atau kita bertobat. Tuhan saja mau mengampuni kita sekalipun dosa kita berat. Maka kita pun harus bisa mengampuni sesama. Itulah pribadi yang bijaksana, pribadi yang terbuka hati kepada Tuhan dan pribadi yang tulus hati. Sekali lagi jangan pernah mencemarkan aib orang lain, tidak ada yang sempurna. Mari belajar dari sikap hati Yusuf tunangan Maria dalam menghadapi masalah. Semoga demikian 🙏🙏

Baca Juga :  Mewartakan Kerajaan Allah