SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Sudahkah Anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan Sang sumber hidup? Doa adalah nafas kehidupan dan sumber kekuatan. Ucapan syukur adalah ciri pribadi yang memiliki karakter spiritual.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 6: 12 – 19, yakni Yesus memanggil kedua belas rasul. Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat Yesus melakukan sesuatu yang sangat penting sebelum memilih kedua belas rasul-Nya: Ia mendaki bukit dan berdoa semalam-malaman. Ini bukan sekadar rutinitas rohani, melainkan pernyataan bahwa doa adalah sumber kekuatan utama, bahkan nafas kehidupan bagi-Nya.
Yesus tidak pernah memulai atau mengakhiri pelayanan tanpa doa. Ia berdoa sebelum menyembuhkan, sebelum mengajar, sebelum menghadapi penderitaan. Bahkan sejak usia 12 tahun di Bait Allah, hingga saat tergantung di kayu salib, Yesus tetap berdoa. Hidup-Nya berdenyut dalam irama doa.
Jika Yesus Anak Allah, menjadikan doa sebagai pusat hidup-Nya, bagaimana dengan kita, murid-murid-Nya?
Tanpa doa, kita mungkin masih berjalan, berbicara, bekerja… tetapi jiwa kita kosong. Kita hidup, tetapi seperti robot tanpa nafas. Kita kehilangan arah, kekuatan, dan keintiman dengan Sang Sumber Hidup. Ingatlah, doa bukan hanya tempat kita berbicara kepada Tuhan, tetapi tempat kita dihidupkan kembali oleh-Nya. Maka, mari kita kembali ke bukit doa. Bukan karena kita kuat, tetapi karena kita lemah. Bukan karena kita tahu segalanya, tetapi karena kita butuh dituntun. Doa bukan pelengkap hidup beriman, doa adalah hidup itu sendiri.
Pertanyaan refleksi:
1. Seberapa sering aku mendaki “bukit doa” dalam hidupku—yaitu mengambil waktu khusus untuk berkomunikasi dengan Tuhan, bukan hanya saat butuh, tetapi sebagai nafas harian?
2. Apakah aku menjadikan doa sebagai sumber kekuatan sebelum mengambil keputusan penting, seperti yang dilakukan Yesus sebelum memilih para rasul? Atau aku lebih mengandalkan logika dan pengalaman pribadi?
3. Jika hidupku saat ini terasa kering, kosong, atau seperti “robot tanpa nafas”—apakah itu pertanda bahwa aku telah menjauh dari doa sebagai pusat kehidupan rohaniku?
Selamat berefleksi🙏🙏



