Opini  

MENDESAIN ULANG SISTEM DEMOKRASI INDONESIA

Perspektif Keilmuan Teknik Industri Pada Fenomena

MENDESAIN ULANG SISTEM DEMOKRASI INDONESIA

Demo DPR, Luka Demokrasi, dan Demokrasi yang Humanis

Dr. Heri Setiawan, S.T., M.T., IPM.

Dosen Prodi Teknik Industri & Direktur Innovation System Center (ISC)

Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Katolik Musi Charitas

mediasumatera.id – Fenomena demonstrasi di depan Gedung DPR RI di saat baru saja pada tanggal 17 Agustus

2025 berlalu diperingati HUT RI ke-80 mencerminkan adanya krisis sistemik dalam tata

kelola aspirasi publik di Indonesia. Dalam perspektif keilmuan Teknik Industri, demonstrasi

dapat dipandang sebagai indikator kegagalan sistem yang melibatkan integrasi manusia,

material, mesin, energi, dan informasi. Artikel ini menawarkan kerangka solusi berbasis

leadership role, innovative problem solver for sustainability, dan improvement system specialist.

Melalui pendekatan human-centric design, participatory design, value-based engineering, dan

teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), sistem demokrasi Indonesia dapat berevolusi

menuju “Democracy 5.0” yang lebih inklusif, transparan, dan berkelanjutan.

Tahun 2025 menandai 80 tahun Indonesia merdeka. Sebuah capaian

historis yang menegaskan perjalanan panjang bangsa dalam menjaga kedaulatan dan

pembangunan. Namun, di tengah perayaan kemerdekaan, masyarakat disuguhi

pemandangan demonstrasi besar di depan Gedung DPR RI. Fenomena ini seolah

menjadi paradoks: di satu sisi kita merayakan kemerdekaan, di sisi lain rakyat/publik

merasa belum merdeka dalam menyuarakan aspirasi. Peringatan HUT RI ke-80

Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju belum usai. Dimana-mana orang

merayakan dengan pekik Merdeka. Rangkaian kegiatannya pun belum usai. Lomba-

lomba masih banyak diagendakan. Apakah arti teriak Merdeka di era perjuangan vs era

sekarang ini sama?.

Demonstrasi bukan sekadar ekspresi kebebasan berpendapat. Lebih dalam, ia

merupakan gejala kegagalan sistem aspirasi publik. Layaknya sebuah lini produksi, jika

input (aspirasi rakyat) tidak terserap dengan baik, proses (perumusan kebijakan)

tidak efisien, dan output (regulasi) tidak sesuai kebutuhan, maka “produk” tersebut

akan ditolak konsumen, dalam hal ini rakyat melalui demonstrasi.

Fenomena Demo DPR, Luka Demokrasi, dan Demokrasi yang Humanis

Demokrasi di Indonesia masih sering diwarnai kekerasan dan ketidakadilan.

Insiden seorang pekerja ojol yang meninggal karena situasi politik jelas merupakan

bentuk ketidakadilan struktural. Tersimpan makna simbolis tentang rapuhnya

penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), lemahnya etika politik dalam

Baca Juga :  Viral : Seorang Anak Bayi Berusia Sekitar 7 Bulan Digendong Ibu Yang Mengalami Gangguan Kejiwaan (ODGJ)

penanganan aspirasi rakyat, dan krisis moral yang tengah kita hadapi sebagai bangsa.

Pertanyaan mendasar, sampai kapan kekerasan menjadi jawaban terhadap suara

rakyat yang turun ke jalan?.

Insiden ini menegaskan urgensi perubahan mendasar. Ada beberapa usulan

rekomendasi langkah yang perlu ditempuh, yaitu: (1) investigasi independen harus

segera dilakukan oleh lembaga HAM nasional dengan melibatkan masyarakat sipil,

bukan hanya aparat negara, (2) pertanggungjawaban moral DPR, (3) reformasi cara

negara menghadapi demonstrasi, (4) perlindungan pekerja informal, dan (5)

pendidikan etika politik. Indonesia tidak boleh membiarkan rakyat kecil menjadi

korban. Berdasarkan fenomena tersebut sebaiknya seluruh rakyat dan umat beragama.

untuk menahan diri dan tetap tenang serta tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang

tidak bertanggungjawab. Sebagai umat beragama hendaknya tetap memegang teguh

nilai-nilai keagamaan dan kasih dalam menyampaikan aspirasi maupun pendapat di

muka umum/ruang publik baik secara langsung maupun secara dalam jaringan. Segala

bentuk penyampaian pendapat atau penyaluran kekecewaan yang dilakukan secara

anarkis hanya mencederai ajaran agama dan semangat persaudaraan yang rukun dan

damai. Oleh sebab itu, pelaku anarkis harus ditindak tegas. Demokrasi yang hidup

adalah yang manusiawi, berpihak pada yang lemah, dan menolak segala bentuk

kekerasan yang mencederai martabat manusia.

Demokrasi Sebagai Sistem Terintegrasi dalam Perspektif Keilmuan Teknik

Industri

Dalam kerangka keilmuan Teknik Industri, demokrasi dapat dipandang sebagai

sistem terintegrasi yang terdiri dari lima komponen utama: (1) manusia: rakyat,

pemerintah, DPR, aparat, (2) material: aspirasi publik, rancangan kebijakan, (3) mesin:

perangkat hukum, mekanisme regulasi, platform digital, (4) energi: komitmen politik,

anggaran, partisipasi sosial, dan (5) informasi: komunikasi, data publik, transparansi.

Fenomena demonstrasi menunjukkan adanya disfungsi pada satu atau lebih

komponen ini, terutama pada alur informasi dan integrasi aspirasi. Tiga hal keahlian

yang dapat disumbangkan oleh keilmuan Teknik Industri terhadap fenomena ini

adalah Leadership Role, Innovative Problem Solver for Sustainability, dan Improvement

System Specialist.

Leadership Role. Teknik Industri mengajarkan pemimpin sistem untuk melihat

gambaran besar sekaligus detail operasional. Dalam konteks demokrasi, DPR dan

pemerintah harus memimpin sistem aspirasi layaknya system leader, mengorkestrasi

Baca Juga :  IMPLEMENTASI ERGONOMI INDUSTRI DI UMKM: Kebijakan Pemerintah, Peluang dan Tantangan dalam Peningkatan Produktivitas

aliran informasi, partisipasi, dan transparansi (Cambridge, 2023). Innovative Problem

Solver for Sustainability. Demonstrasi adalah bentuk waste dalam demokrasi. Seperti

halnya industri, root cause analysis diperlukan untuk menghapus akar masalah. Inovasi

berbasis teknologi seperti platform digital aspirasi real-time dapat menyalurkan suara

rakyat tanpa harus melalui jalanan (Kuhlmann et al., 2024). Improvement System

Specialist. Politik seharusnya menerapkan prinsip continuous improvement yang lazim

dalam dunia industri. Siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA) dapat dijadikan model untuk

mengevaluasi kebijakan secara berkelanjutan (IEEE, 2024).

Solusi Sistemik: Menuju Democracy 5.0

Perayaan 80 tahun Indonesia merdeka bukan hanya seremoni, tetapi momen

reflektif untuk melakukan transformasi sistem demokrasi. Jika industri mampu

berevolusi ke Industry 5.0 yang menekankan kolaborasi manusia dan teknologi, maka

demokrasi Indonesia juga harus bertransformasi menuju Democracy 5.0, demokrasi

yang inklusif, responsif, dan berkelanjutan. Dengan pendekatan keilmuan Teknik

Industri, kita tidak hanya memadamkan api demonstrasi, tetapi mendesain ulang

sistem aspirasi publik agar demokrasi Indonesia benar-benar sejalan dengan cita-cita

kemerdekaan: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

Secara grand design salah satu alternatif solusi yang dapat ditawarkan adalah

sistemik menuju Democracy 5.0, yaitu: (1) Human-Centric & Participatory Design.

Mengadopsi prinsip Industry 5.0 yang menekankan pendekatan manusia-sentris.

Aspirasi publik harus diintegrasikan sejak tahap perumusan kebijakan, bukan hanya

setelah regulasi disahkan (Cambridge, 2023). (2) AI-Driven Public Feedback System.

Kecerdasan buatan dapat membantu mengelola aspirasi dalam skala besar. Namun,

penerapannya harus berbasis participatory AI design agar inklusif dan bebas bias (Stix et al., 2025). (3) Value-Based Engineering (VBE). Demokrasi perlu mengintegrasikan

nilai-nilai keadilan, transparansi, dan akuntabilitas sebagai bagian dari engineering

value requirements dalam desain sistem kebijakan (IEEE/ISO, 2024). (4) Audit

Kebijakan Publik. Layaknya quality control dalam industri, kebijakan publik harus

melalui audit dampak sosial sebelum disahkan. Hal ini mengurangi risiko penolakan

publik. Dan (5) Quadruple Helix Collaboration. Melibatkan akademisi, industri,

pemerintah, dan masyarakat sipil dalam perumusan kebijakan akan menciptakan

legitimasi sosial yang lebih kuat.

Seluruh pejabat negara dan pemerintahan agar menjadi teladan moral dan

panutan publik, dengan membangun komunikasi dan dialog yang penuh empati,

Baca Juga :  Quo Vadis Pendidikan Indonesia?

sensitif, partisipatif serta mengedepankan kebijaksanaan dalam setiap pernyataan

maupun tindakan. Di tengah tekanan hidup yang kian berat dari berbagai aspek,

masyarakat sangat membutuhkan kehadiran para pemimpin maupun pejabat yang

menenangkan, bukan yang memperuncing keadaan dengan berbagai tindakan dan

pernyataan yang kontraproduktif.

Penutup

Fenomena demonstrasi yang terjadi beberapa hari ini adalah alarm sistemik

yang menegaskan perlunya perbaikan berkelanjutan dalam sistem demokrasi

Indonesia. Pendekatan keilmuan Teknik Industri menawarkan solusi yang berorientasi

pada: Leadership role sebagai pengarah sistem, Innovative problem solver untuk

keberlanjutan, dan Improvement system specialist untuk evaluasi berkelanjutan.

Dengan rekayasa sistem (systems Engineering) berbasis manusia, teknologi, dan nilai,

Indonesia dapat memasuki era baru demokrasi yang lebih kokoh di usianya yang ke-

80.

Leadership role, Innovative problem solver untuk keberlanjutan, dan

Improvement system specialist untuk evaluasi berkelanjutan dengan rekayasa sistem

secara holistik (Setiawan, 2025) akan memberikan output kebaikan bersama.

Kebaikan bersama (bonum commune) adalah tujuan akhir dari hidup berbangsa, yang

hanya dapat terwujud melalui keadilan sosial, penghormatan HAM, serta solidaritas di

antara sesama. Kritik dan masukan yang disuarakan dalam aksi beberapa hari ini

adalah cermin kegelisahan masyarakat dalam menghadapi persoalan hidup nyata saat

ini yang dirasakan semakin jauh dari semangat dan cita-cita terwujudnya kebaikan

bersama tersebut. Mulai dari ketimpangan ekonomi, ketidakadilan hukum, kerusakan

lingkungan (sustainability), maraknya korupsi hingga aspirasi yang tak tersalurkan.

Bahwa setiap manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, sehingga martabat

manusia harus dihormati dan dilindungi dalam setiap situasi. Oleh karena itu, setiap

aksi ekspresi aspirasi berupa masukan dan kritik hendaknya ditanggapi secara tepat,

proporsional, serta jauh dari tindakan represif apalagi kekerasan yang menimbulkan

korban jiwa.

Dalam menghadapi perbedaan pendapat, jalan dialog dan rekonsiliasi adalah

pilihan yang lebih manusiawi dan beradab daripada kekerasan. Markirak (Mari Kita

Bergerak) seluruh elemen bangsa untuk menghentikan segala bentuk kekerasan, baik

fisik maupun verbal, serta bersama-sama mengedepankan dialog yang damai, beradab,

dan bermartabat demi persatuan bangsa serta terjaganya martabat kemanusiaan. Mari

kembali ke spirit Dirgahayu RI ke-80: Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia

Maju!.