Jumat, 12 Juli 2024
Agama  

Renungan hari ini: Bangkit Dari Mati dan Sembuh Dari Sakit, Karena Iman.

Renungan hari ini: Bangkit Dari Mati dan Sembuh Dari Sakit, Karena Iman.

SEMANGAT PAGI, mediasumatera.id – Sudahkah anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan? Dan apakah anda sudah memberikan senyum, sapa dan salam kepada orang di dekat anda dan mereka yang dijumpai di hari ini, dengan ramah, sopan dan santun? Jangan lupa untuk selalu bahagia. Dan semoga harimu indah dan menyenangkan.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 9: 18 – 26, yakni tentang Anak kepala rumah ibadat; Perempuan yang sakit pendarahan. Anak perempuan dari kepala rumah ibadat yang telah mati dan hidup kembali serta perempuan yang mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun sembuh seketika, karena sungguh-sungguh beriman kepada Yesus. Bayangkan seorang kepala rumah ibadat, ia rela menanggalkan jabatannya, statusnya untuk menyembah di depan kaki Yesus. Sikapnya ini menunjukkan bahwa ia walau menyandang sebagai kepala rumah ibadat, tetapi dihadapan Yesus ia tidak berarti apa-apa, ia merasa kecil, karena itu ia merendahkan dirinya, ia tersungkur dan menyembah katanya: ” anakku perempuan baru saja meninggal; tetapi datanglah, letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup”. Sungguh merupakan sebuah ungkapan iman yang sangat luar biasa Dan Yesus melihat iman yang sangat luar biasa dari kepala rumah ibadat itu, maka Ia pun segera bangun, dan bersama murid-murid-Nya mengikuti orang itu. Dan sungguh mukjizat terjadi, sesampai di rumah kepala ibadat itu, Ia memegang tangan si anak perempuan yang telah meninggal itu, lalu bangkitlah anak itu. Jadi, anak perempuan yang telah meninggal hidup kembali atau bangkit karena iman ayahnya yang sangat luar biasa kepada Yesus. Ia mampu melihat sisi ke-Allah-an pada diri Yesus. Dan tidak hanya iman, tetapi ia merendahkan dirinya dihadapan Yesus, yang ditunjukkan lewat tersungkur dan menyembah di hadapan kaki Yesus. Demikian pula dengan perempuan yang sudah mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun, sembuh karena iman yang sungguh-sungguh luar biasa kepada Yesus. Bayangkan sudah 12 tahun berobat ke mana-mana, dan belum juga sembuh. Dan saat Yesus lewat, ia hanya mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Perempuan itu tahu diri, kalau ia sangat kotor dan berdosa. Oleh karena itu, ia hanya menyentuh jumbai jubah-Nya Yesus. Karena katanya dalam hati: ” asal ku jamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh”. Yesus tahu ada yang menyentuh jumbai jubah-Nya, sebab ada tenaga yang keluar dari diri-Nya. Oleh karena itu, Yesus berpaling dan memandang dia, dan berkata: ” teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan dikau”. Maka, sejak saat itu juga sembuhlah wanita itu. Dari perempuan yang mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun kita belajar untuk, pertama: tahu diri, bahwa kita adalah orang berdosa. Tidak gengsi, harus rendah hati mengakui kalau kita adalah orang berdosa. Sebagai orang berdosa, kita harus selalu mengandalkan kemurahan hati Tuhan. kedua: kalau kita menyadari bahwa kita adalah orang berdosa, maka harus berani mendekati Tuhan dan tidak boleh menjauh dari Tuhan. Dengan mendekati Tuhan, itu tanda kita adalah pribadi yang beriman. Dan hendaklah Iman kita harus keluar dari dalam hati, bukan hanya di bibir. Bagaimana dengan kita? Kita bisa belajar penghayatan Iman yang luar biasa dari kepala rumah ibadat dan perempuan yang mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun. Sebab, oleh iman yang sungguh-sungguh kepada Yesus serta ditunjukkan lewat sikap merendahkan diri atau sikap kerendahan hati atau sikap tahu diri, dengan merasa kecil atau tidak layak dihadapan Yesus, maka Yesus tergerak hati-Nya untuk membangkitkan anak perempuan yang berusia 12 tahun, dari kepala rumah ibadat yang telah meninggal, dan menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Semoga menjadi inspirasi bagi kita yang juga beriman kepada Yesus. Mudah-mudahan🙏🙏

Baca Juga :  Kunjungi Seminari Palembang, Duta Besar Vatikan Mgr. Piero Pioppo Ajak Seminaris Berjuang Membangun Kekudusan