Renungan hari ini; Jangan Meremehkan Hal-hal kecil

Renungan hari ini; Jangan Meremehkan Hal-hal kecil
Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

mediasumatera.id – DAMAI SEJAHTERA bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda sering meremehkan atau menyepelekan atau mengabaikan hal-hal kecil dalam hidup sehari-hari? Ingatlah untuk mencapai kesuksesan yang besar, biasanya dimulai dari usaha yang kecil. Pengalaman juga membuktikan bahwa orang terantuk atau tersandung bukan pada batu yang besar melainkan pada batu yang kecil.

Renungan hari ini diilhami dari Injil Markus 4: 26 – 34, yakni perumpamaan tentang benih yang tumbuh dan perumpamaan tentang biji sesawi. Bacaan Injil hari ini, mau menyadarkan dan mengingat kita yang hidup di zaman yang terpesona oleh hal-hal besar: pencapaian spektakuler, kesuksesan gemilang, proyek megah. Namun di tengah obsesi itu, sering kali kita meremehkan atau menyepelekan hal-hal kecil yang hadir setiap hari: obrolan singkat dengan tetangga, senyuman ramah pada orang asing, doa lima menit di pagi hari, atau kesabaran ekstra menghadapi anak yang rewel. “Ah, itu terlalu kecil,” bisik HATI kita, “tidak akan membawa perubahan.” Namun Yesus justru memilih perumpamaan yang menentang cara pandang dunia. Ia berbicara tentang seorang petani yang menabur benih kecil, lalu membiarkannya bertumbuh dengan cara yang misterius. Petani itu tidur dan bangun, tanpa tahu bagaimana benih itu berkembang. Yang ia tahu hanyalah: dari sesuatu yang kecil, lahirlah kehidupan yang kelak menghasilkan tuaian. Yesus kemudian menegaskan dengan gambaran biji sesawi, benih terkecil yang dikenal petani Palestina kala itu. Ketika ditanam, ia tumbuh menjadi tanaman terbesar di kebun, cukup besar hingga burung-burung dapat bersarang di bawah naungannya. Di sinilah Yesus menyingkapkan paradoks Ilahi: yang besar selalu berawal dari yang kecil. Yang kuat lahir dari yang tampak lemah. Yang berarti sering tersembunyi dalam hal-hal yang kita anggap sepele. Pengalaman hidup pun membuktikan: kita lebih sering tersandung oleh batu atau kerikil kecil di jalan daripada batu besar yang sudah kita waspadai. Demikian juga dalam kehidupan rohani, bukan dosa besar yang tiba-tiba menjatuhkan kita, melainkan kompromi kecil yang kita anggap tidak berbahaya: kebohongan kecil, gosip ringan, iri HATI yang disembunyikan, atau doa yang ditinggalkan karena alasan “sibuk, capek.” Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata: “Kita tidak dapat melakukan hal-hal besar, hanya hal-hal kecil dengan cinta yang besar.” Keselamatan bukan selalu soal tindakan heroik, melainkan kesetiaan dalam hal-hal sederhana, kecil: memilih jujur ketika bisa menipu, tetap ramah kepada orang yang sulit, atau berani mengampuni ketika lebih mudah menyimpan dendam. Demikian pula dengan
Santo Yohanes Berchmans yang memiliki motto hidup: “Beri perhatian besar pada hal-hal kecil.” Baginya, kekudusan bukan dibangun lewat satu momen dramatis, melainkan melalui ribuan pilihan kecil untuk mengasihi, melayani, dan setia. Setiap “ya” kecil kepada Tuhan adalah batu bata yang membangun rumah rohani yang kokoh.

Baca Juga :  Kerajaan Surga Dirongrong

*Pesan untuk kita*

Hari ini, mungkin Tuhan tidak meminta kita membangun katedral atau mengubah dunia dalam sekejap. Tetapi Ia pasti menaruh “biji sesawi” kecil di tangan kita: kesempatan untuk bersabar, panggilan untuk mendoakan seorang sahabat, atau pilihan untuk berkata benar meski tidak menguntungkan. Jadi,
jangan remehkan benih kecil itu. Tanamlah dengan setia. Percayalah pada proses pertumbuhan yang Tuhan kerjakan di balik layar. Sebab yang kecil itu indah, _small is beautiful_, karena di sanalah kuasa Tuhan paling nyata: dari keterbatasan kita, Ia menumbuhkan sesuatu yang jauh melampaui imajinasi. Biji sesawi imanmu hari ini bisa menjadi naungan bagi banyak orang di kemudian hari. Mulailah dari hal kecil. Lakukan dengan cinta besar. Dan biarkan Tuhan yang menumbuhkannya menjadi sesuatu yang mengubah dunia dimulai dari duniamu sendiri.

*Pertanyaan refleksi*

1. Hal-hal kecil apa yang sering saya anggap sepele, padahal bisa menjadi benih kasih dan kebaikan?
2. Apakah saya sudah setia dalam pilihan-pilihan kecil setiap hari yang menumbuhkan iman dan karakter rohani saya?
3. Bagaimana saya bisa menanam “biji sesawi” iman hari ini agar kelak memberi naungan bagi orang lain?
*Selamat berefleksi*🙏🙏

*Doa Singkat*

Tuhan Yesus,
ajarilah aku setia dalam hal-hal kecil. Biarlah benih sederhana yang kutanam hari ini
Engkau tumbuhkan menjadi BERKAT bagi banyak orang. Amin.