PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Kiranya damai, sukacita, dan pengharapan dari-Nya senantiasa menyertai setiap langkah hidup kita, menuntun hati untuk setia berjalan di jalan kebenaran, dan menguatkan kita dalam menghadapi setiap salib kehidupan. Tetaplah teguh dalam iman, karena kasih-Nya tak pernah berkesudahan.
Bagaimana kabar Saudara/i di hari ini? Saya berharap dapat menjumpai Saudara/i dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, hati yang damai, serta sukacita yang melimpah. Kiranya setiap langkah Saudara/i hari ini dipenuhi berkat dan penyertaan Tuhan, sehingga apa pun yang Saudara/i kerjakan menjadi saluran kasih bagi sesama.
Firman Tuhan dengan tegas berkata dalam Yakobus 1:22:
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”
Mengaku Kristen tetapi tidak hidup dalam firman sama dengan menipu diri sendiri. Tuhan tidak berkenan pada kehidupan yang hanya tampak rohani di luar, tetapi kosong di dalam.
Tema renungan hari ini: Mengaku Kristen atau Hidup sebagai Kristen.
Renungan ini disampaikan oleh Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th., yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal GKPI. Beliau membuka renungan dengan mengatakan “setiap kita bangga mengaku sebagai Kristen, bahkan ada yang mendapat kepercayaan menjadi Majelis Jemaat. Tetapi pertanyaan yang perlu direnungkan: apakah kita sungguh-sungguh hidup seturut firman Tuhan, ataukah hanya berhenti pada pengakuan semata?
Kisah Nyata yang Menggugah:
Di sebuah kota besar, ada seorang pria yang dikenal sebagai seorang tokoh Kristen/ tokoh Gereja. Ia rajin tampil di mimbar, lantang berbicara soal pelayanan, bahkan menjadi tokoh masyarakat. Namun, di balik itu semua, kehidupannya jauh dari firman Tuhan. Ia sering terlibat dalam praktik korupsi, memperkaya diri dari uang jemaat, dan memperlakukan keluarganya dengan kasar.
Suatu hari, hidupnya berbalik 180 derajat. Ia tertangkap dalam kasus besar dan harus menjalani hukuman penjara. Nama baiknya hancur, keluarganya tercerai-berai, dan jemaat yang dulu menghormatinya kini merasa malu. Di dalam penjara, ia menyesali hidupnya. Ia berkata kepada seorang pendeta yang melayaninya di sana:
“Saya baru sadar, saya hanya mengaku Kristen, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh hidup sebagai Kristen. Jabatan saya sebagai majelis tidak menyelamatkan saya. Kini saya hanya bisa menangis dan memohon ampun, semoga Tuhan masih berkenan mengasihi saya.”
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua: jabatan, status, dan pengakuan Kristen tidak ada artinya tanpa pertobatan sejati dan ketaatan pada kehendak Allah.
Firman Tuhan mengajak kita semua semua:
Yesus sendiri pernah berkata dalam Matius 7:21:
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
Artinya, bukan pengakuan di bibir yang menyelamatkan, tetapi ketaatan dan perbuatan nyata dalam hidup sehari-hari.
Panggilan pertobatan bagi kita semua orang Percaya dan Pengikut-Nya.
Saudara/i terkasih, jika kita telah memilih jalan untuk menjadi pengikut Kristus, bahkan dipercaya sebagai Majelis Jemaat, jangan main-main dengan panggilan itu. Tuhan bisa mengambil kembali hak-Nya dan murka terhadap umat yang mengabaikan-Nya.
Yeremia 7:23-24 mengingatkan:
“Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan kamu akan hidup menurut segala jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia! Tetapi mereka tidak mau mendengarkan atau memberi telinga, melainkan mengikuti kedegilan hati mereka yang jahat; sehingga mereka mundur dan bukan maju.”
Aplikasi dalam Hidup Sehari-hari:
- Dalam Pelayanan → Layani dengan tulus, bukan untuk pujian atau kepentingan pribadi.
- Dalam Kehidupan Sehari-hari → Hidup transparan, jujur, dan bersih, sekalipun tidak ada yang melihat.
- Dalam Keluarga → Jadilah teladan kasih, bukan penyebab luka batin.
- Dalam Bangsa → Berhenti hidup munafik; mulailah jadi terang Kristus di masyarakat.
Seruan Pertobatan:
Hidup kita singkat. Jangan sia-siakan dengan sekadar mengaku Kristen, tetapi tidak hidup seturut kehendak Tuhan. Mari kita perbaiki tingkah laku dan perbuatan, sebab hanya dengan hidup dalam ketaatan kita bisa disebut benar-benar umat Allah.
Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th, mantan Sekjen GKPI, pernah berkata:
“Melayani Tuhan bukanlah soal jabatan, melainkan soal hati yang taat. Jangan sampai kita menyesal ketika semuanya sudah terlambat.”
2 Tawarikh 7:14 menegaskan:
“Dan umat-Ku yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.”
Kiranya kita semua bertobat, setia, dan hidup benar di hadapan Tuhan Allah, agar ketika Tuhan datang, kita didapati sebagai hamba yang berkenan.
(VIP)





