SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Adakah Anda berani menyuarakan kebenaran? Jangan pernah takut untuk berkata benar dan jujur. Namun, takutlah jika Anda tidak berani menyuarakannya. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati wafatnya Santo Yohanes Pembaptis, Martir. Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat bahwa
Yohanes Pembaptis adalah sosok yang berani menyuarakan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menyakitkan bagi penguasa. Ia tidak gentar menegur Raja Herodes yang mengambil Herodias, istri saudaranya Filipus, sebagai istrinya. Teguran itu bukan sekadar kritik atau opini, melainkan panggilan moral dan spiritual untuk hidup dalam kebenaran. Namun keberanian Yohanes Pembaptis berujung pada kematian, ia dibunuh demi mempertahankan integritasnya. Yang perlu digarisbawahi adalah
kisah ini bukan sekadar tragedi, melainkan teladan. Yohanes Pembaptis tidak menyuarakan kebenaran untuk mencari sensasi, melainkan karena cinta akan keadilan dan kesucian hidup. Ia tahu risikonya, tetapi tetap memilih jalan yang benar.
*Beberapa poin (puncta) renungan:*
_Pertama_:*Jangan takut menyuarakan kebenaran, asal itu berdasarkan fakta dan bukan fitnah. Kebenaran yang disuarakan dengan hati yang tulus adalah bentuk kasih yang paling dalam*. _Kedua_ *Terbuka terhadap kritik yang membangun (konstruktif) adalah tanda kedewasaan rohani atau spiritual. Kritik yang disertai solusi adalah cermin KASIH yang ingin melihat perubahan*. _Ketiga_ *Hindari kritik yang merusak (destruktif), yang lahir dari dendam atau keinginan menjatuhkan. Kritik tanpa KASIH adalah pedang yang melukai, bukan tangan yang menyembuhkan*.
Maka, mari kita belajar dari Yohanes Pembaptis: bahwa
suara kebenaran mungkin dibungkam, tetapi tidak pernah mati. Ia hidup dalam HATI orang-orang yang berani berdiri di sisi terang.
*Pertanyaan Refleksi:*
1. Apakah aku sudah berani menyuarakan kebenaran dalam lingkungan tempat aku berada, meskipun itu berisiko atau tidak populer?
2. Bagaimana sikapku saat menerima kritik dari orang lain, apakah aku terbuka untuk belajar, atau justru menutup diri?
3. Ketika aku mengkritik, apakah aku melakukannya dengan KASIH dan solusi, atau justru dengan niat menjatuhkan dan mempermalukan?
*Selamat berefleksi*🙏🙏



