SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Sudahkah Anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan Sang sumber hidup? Saya berharap demikian, sebagai seorang yang beriman kepada Tuhan.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 18: 15 – 20, yakni tentang menasihati sesama saudara. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tak jarang menemukan kesalahan atau kekeliruan dalam diri orang lain, entah itu sahabat, anggota keluarga, komunitas, atau sesama umat. Namun, bagaimana kita meresponsnya? Apakah kita memilih diam demi kenyamanan, atau berbicara dengan risiko disalahpahami? Yesus memberikan petunjuk yang sangat manusiawi sekaligus Ilahi: “Tegurlah dia di bawah empat mata.” Sebuah pendekatan yang penuh kasih, bukan penghakiman. Teguran yang dilakukan secara pribadi adalah bentuk penghormatan terhadap martabat orang yang kita tegur. Kita tidak menyerangnya di depan umum, tidak mempermalukannya, tetapi mengundangnya dalam ruang kepercayaan untuk berbicara dari hati ke hati. Namun, sering kali kita terjebak dalam anggapan bahwa menegur berarti kita lebih baik. Padahal, siapa pun yang menegur belum tentu hidupnya lebih benar atau lebih suci. Teguran bukanlah deklarasi superioritas, melainkan ekspresi kepedulian. Kita menegur karena kita peduli, bukan karena kita merasa lebih tinggi. Dan menariknya, dalam cara pandang yang positif, teguran bisa menjadi titik balik bagi seseorang untuk bertumbuh lebih jauh. Bisa jadi, orang yang kita tegur justru akan melampaui kita dalam kedewasaan rohani, dalam kasih, dalam pengabdian. Tuhan bekerja dengan cara yang tak terduga, melalui teguran yang sederhana, Ia bisa menyalakan api pembaruan dalam hati seseorang. Di sisi lain, bagaimana kita merespons teguran juga mencerminkan siapa kita. Jika kita mampu menerima teguran dengan lapang dada, itu adalah tanda kerendahan hati. Kita menunjukkan bahwa kita bersedia dibentuk, dibenahi, dan diarahkan. Tetapi jika kita menolak, membentengi diri, dan merasa tak perlu dikoreksi, itu bisa jadi cerminan kesombongan yang halus.Teguran, dalam terang kasih Kristus, bukanlah luka, melainkan pintu pemulihan. Ia bukan cambuk, melainkan pelukan yang mengajak kita kembali ke jalan yang benar.
*Pertanyaan Refleksi*
1. Apakah saya bersedia menegur dengan kasih, bukan dengan amarah?
2. Apakah saya cukup rendah hati untuk menerima teguran, bahkan dari mereka yang saya anggap “biasa saja”?
3. Sudahkah saya melihat teguran sebagai bentuk perhatian, bukan ancaman?
*Selamat berefleksi*🙏🙏





