Kamis, 13 Juni 2024
Agama  

Paskah Peristiwa Kebangkitan Akan Maut

Paskah Peristiwa Kebangkitan Akan Maut

mediasumatera.id – Kristus bangkit, Kristus mulia mari kita wartakan; yang jahat dikalahkan –NYA mari kita wartakan; Maut dihancurkan-NYA. Dalam duka ada suka, mari kita wartakan; dalam maut ada hidup, mari kita wartakan; salib sumber bahagia, Yesus sudah dimuliakan mari kita wartakan; Roh-NYA mendampingi kita, mari kita wartakan; Nyanyikanlah pujian, Kristus pemenang jaya. ( Puji Syukur 524 )

Sekelumit lagu di atas selalu dinyanyikan umat Kristiani sedunia pada saat malam  Paskah. Masa Paskah diawali melalui perayaan Minggu Palma 2 April 2023, selanjutnya masa Tri hari Suci dari Kamis Putih 6 April 2023  , Jumat Agung 7 April 2023 , Malam Paskah ( Vigili Paskah ) 8 April 2023  dan Paskah 9 April 2023.  Di mana sebelumnya umat Kristiani memusatkan perhatian pada disposisi batiniahnya sebagai pengikut Kristus yang dipanggil untuk terlibat dalam upaya-upaya kepada kesejahteraan umum yaitu selama 40 hari menjelang Paskah umat kristiani menyiapkan diri melalui pantang dan puasa serta gerakan Aksi Puasa Pembangunan  ( APP ) sebagai gerakan tobat dan solidaritas umat Kristiani sebagai anggota gereja Katholik dan warga negara yang diharapkan membawa pembaharuan dan perubahan mendasar dalam hidup kebersamaan dengan sesama.”

Bangkit Dari Keterpurukan dan Penderitaan

Tema Paskah yang diusung Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) bersama Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) tahun 2023 ini adalah “Ia mendahului kamu ke Galilea; Jangan Takut!” (Matius 28: 7, 10). Seperti yang kita ketahui, Paskah adalah peristiwa kebangkitan atau kemenangan Kristus akan maut. Peristiwa paskah sesungguhnya membebaskan manusia dari segala ketakutan, kekuatiran dan frustasi sebab maut sudah dikalahkan. Melalui tema Paskah 2023  ini diharapkan mampu memberikan kekuatan dan harapan bagi umat manusia untuk bangkit dari keterpurukan dan penderitaan. Gereja mengenangkan sengsara dan wafat Yesus, menghormati salib, dan mengenang kembali kelahiran gereja dari lambung Yesus yang tertikam saat tergantung di kayu salib.  Umat Kristiani memperingati wafat Yesus Kristus pada hari raya Jumat Agung tidak dapat dipisahkan dengan sengsara, wafat dan kebangkitan yang memaknai arti penebusan Kristus bagi umat manusia. “ …. ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita…, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga…, tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah juga pembetitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah ( 1 kor 15 : 3-4, 14-15 ) Kebangkitan membuka hidup baru bagi umat manusia dan hubungan dengan Allah dipulihkan dan diperbaharui serta bbangkit dari keterpurukan dan penderitaan.

Baca Juga :  Mgr Piero Piopo Dubes Vatikan Resmikan Katedral Santa Maria Palembang

Mewujudkan Paskah sumber pengharapan dan kekuatan

Gereja mengenangkan sengsara dan wafat Yesus, menghormati salib, dan mengenang kembali kelahiran gereja dari lambung Yesus yang tertikam saat tergantung di kayu salib.  Umat Kristiani memperingati wafat Yesus Kristus pada hari raya Jumat Agung tidak dapat dipisahkan dengan sengsara, wafat dan kebangkitan yang memaknai arti penebusan Kristus bagi umat manusia.” … tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah juga pembetitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah ( 1 kor 15 : 3-4, 14-15 ). Salib adalah sebuah protes terhadap ekonomi narsis, dan sebuah proklamasi ekonomi solider, bukanlah sekadar ekspresi emosional kita yang terharu dan iba dengan Tuhan yang menderita, melainkan merupakan gerakan solidaritas kita untuk membangun kehidupan bersama yang sejahtera, adil untuk membangun kehidupan bersama yang sejahtera, adil dan bahagia. Mewujudkan Paskah sumber pengharapan dan kekuatan yang menyingkapkan terbitnya sinar di balik awan gelap perjuangan hidup sehari-hari.  Selama Vigili Paskah, kita akan merayakan sekali lagi ritus yang mengharukan dari pencahayaan lilin Paskah. Diambil dari “api baru,” cahaya ini perlahan-lahan menghalau kegelapan dan menerangi para peserta liturgi. “Semoga cahaya Kristus yang bangkit dalam kemuliaan menghalau kegelapan hati dan pikiran kita,” dan memampukan kita semua untuk menghayati kembali pengalaman para murid di jalan menuju Emaus. Dengan mendengarkan sabda Allah dan mengambil bagian dalam santapan dari meja Ekaristi, semoga hati kita semakin bersemangat dalam iman, harapan dan kasih.

Paskah Peristiwa Kebangkitan atau Kemenangan Kristus Akan Maut

Dalam suasana syukur dan sukacita Paskah,  kita semua diajak sebagai Tubuh Kristus untuk mewujudnyatakan dengan merendahkan diri di hadapan Allah dan membuka diri untuk menerima karya pendamaian Allah. Menjadikan gereja sebagai persekutuan yang saling mendengar, saling mengampuni, dan saling menyembuhkan agar kita mampu memenuhi panggilan kita secara optimal sebagai pelayan pendamaian di tengah masyarakat;  berperan aktif sebagai pelayan pendamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan mendukung upaya-upaya penegakan kebenaran, hukum, dan keadilan serta mengembangkan sikap hidup saling menghargai di tengah konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, sehingga dialog yang jujur dan terbuka dapat mendukung tercapainya kerukunan antar kelompok yang berbeda. Kasih karunia Allah membebaskan Rasul Paulus dari perasaan rendah diri dan hina, menjadikannya pribadi yang merdeka untuk memberitakan kerahiman Allah dalam waktu yang baik maupun tidak baik (bdk 2 Tim 4:2 kerahiman Allah – “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Pengalaman akan kerahiman Allah ini akan menjadikan kita pribadi-pribadi yang lepas bebas dan merdeka – dalam arti seluas-luasnya. ; “….. berkat kasih karunia Allah aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidaklah sia-sia” (1 Kor 15:9-10). Maka sebagai murid-Nya kita pun wajib meneladani kehidupan Tuhan Yesus. “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Dialah Domba Allah, Korban yang sempurna, yang telah menanggung seluru dosa manusia. Maka mulai saat itu tidak adalagi yang menghalangi manusia dengan “TUHAN” Manusia boleh datang secara langsung, sebab Kristuslah Yang sekarang menjadi satu-satunya Pengantara Kita”

Baca Juga :  Gua Maria Mater Misericordiae Sukomoro, Wisata Rohani Umat Katolik di Pinggiran Kota Palembang

Kristus bangkit, Kristus mulia mari kita wartakan. SELAMAT PASKAH 2023